
Sudah hampir tiga bulan Yolanda dapat sangsi kode etik dari pekerjaanny, ia mendengar kabar dari Hugo kalau ia akan bertugas kembali sebagai paspampres. Mendengar hal itu Yolanda merasa sangat gugup, ia tahu kalau Arsen tidak ingin dia bekerja lagi sebagai paspamprs maupun tentara. Yolanda ingin membicarakannya tapi takut Arsen marah. Jadi Yolanda masih merahasiakannya. Saat sedang duduk Hugo menelepon lagi, setiap kali ponselnya berdering ia tahu Arsen pasti akan menyelidikinya. Ia bahkan tidak akan bisa tenang sebelum tahu nama siapa orang yang meneleponnya. Awalnya Yolanda kesal Arsen bersikap seperti itu, tapi ia sudah mulai terbiasa.
Yolanda mengangkat. “ Iya Go.” Ia berjalan menjauh dari Arsen tatapan Arsen langsung berubah saat Yolanda menjauh darinya.
Arsen menatapnya dengan curiga, jantung Mami Nathan itu semakin berdetup kencang saat sang suami menatapnya dengan tajam.
‘Astaga tatapan matanya seakan-akan ingin menelanku, bagaimana kalau dia tau aku mau kerja lagi’ Yolanda membatin sambil melangkah menjauh.
“Kenapa?” tanya Yolanda berjalan dan bersembunyi di balik bangunan.
“Jo, aku mendapat bocoran hasil rapat tentang kasusmu,” ucap Hugo di ujung telepon.
“Iya, bagaimana?”
“Kamu bisa bertugas kembali. Tapi bagaimana dengan Arsen apa kamu sudah membicarakannnya?”
“Itu dia masalahnya, dari tadi malam aku ingin bicara tapi takut.”
“Jo, begini … katakan secepatnya pada Arsen agar kamu tau bagaimana tanggapannya. Biar bagaimanapun dia sudah suamimu, agar kamu bisa membuat keputusan.”
“Baiklah.”
Saat ia berbalik badan ternyata Arsen mengikutinya dari belakang dan mendengar pembicaraan Yolanda.
“Astaga Arsen! Kamu membuatku kaget,” ucap Yolanda sebelah telapak tangannya mandarat di dada bidang sang suami. Lelaki itu menahan tangan Yolanda di dada lalu bertanya
“Mau membicarakan apa?”
“Itu … masa skorsku sudah selesai.”
“Lalu?”
“Aku akan kembali bertugas.”
Wajah Arsen langsung mengeras bagai tiang beton. “Aku sudah bilang kalau kamu tidak boleh berkerja lagi Yolanda. Kamu sudah punya anak. Apa kamu akan meninggalkan anakmu untuk berperang? Aku akan membayar gajimu sampai dua kali lipat yang penting kamu tidak boleh bekerja.”
“Bukan masala-”
“Tiga kali lipat!” ucap Arsen masih menatap wajah Yolanda
__ADS_1
“Buka-”
“Sepuluh kali lipat,” potong Arsen lagi.
“Ini bukan tentang gaji Arsen!” ujar Yolanda dengan nada membentak.
“Pokoknya tidak boleh berkerja lagi. Kamu pilih anakmu atau pekerjaan?” Arsen balik marah.
“Kok kamu jadi begitu.” Jihan melongo melihat kemarahan Arsen
“Pokoknya kamu tidak boleh bekerja. Titik.”
Arsen benar-benar sangat marah mendengar Yolanda akan bekerja. Sementara Yolanda ingin sekali bekerja sekaligus jadi ibu rumah tangga. Arsen marah lalu membawa Nathan ke kamar dan menganti pakaian.
“Mau kemana?” tanya Yolanda panik.
“Kami mau ke rumah Mama.”
“Tunggu, tunggu aku ikut.”
“Dalam mobil wajah Arsen benar-benar tidak bersahabat, ia mengacuhkkan Yolanda hanya bicara dengan Nathan saja.
“Kita perli bicara Sen.”
“Jangan tentang pekerjaanmu itu lagi.”
“ Pak Ars-”
“Sayang! Mami! Cintaku. Kamu tidak ingin anakmu melihatku marah kan?” potong Arsen, urat lehernya mengeras tapi ia berpura-pura menebar senyum sembari menatap wajah Yolanda.
Melihat itu Yolanda tidak ingin ada pertengkaran di depan putranya, ia memilih diam.
Saat Arsen mendiamkannya Yolanda juga diam, ia sibuk dengan pnselnya ia berkirim pesan dengan Vania. Ia meminta pendapat kedua adiknya tentang keadaannya. Vania meminta untuk mengikuti perkataan Arsen. Tapi Mitha mengatakan mengikuti kata hatinya.
Anehnya hatinya mengatakan kalau ia ingin bekerja, tapi melihat sikap diam Yolanda Arsen tiba-tiba jadi takut. Semua orang juga mengenalnya orang yang nekat. Arsen takut ia memilih bekerja dan memilih meninggalkan putranya.
‘Oh sial, bagaimana kalau dia memilih pekerjaan dan meninggalkan kami’ Ia menghentikan mobilnya dan meminta Yolanda bicara baik-baik. Ia lebih baik mengalah dari pada kehilangan sang istri.
*
__ADS_1
Arsen tidak ingin ada pertengkaran antara ia dan Yolanda lagi. Ia mengenal watak keras istrinya, ia bukan wanita manja yang menangis jika dibentak layaknya wanita pada umumnya. Arsen tau kalau ia keras maka wanita itu jauh lebih keras. Arsen berpikir jika ia memaksa Yolanda memilih anak atau pekerjaan? Arsen berpikir Yolanda akan memilih pekerjaan terlihat dari sikapnya yang tenang dan santai. Melihat hal itu Arsen yang ketakutan.
‘Anak dalam kandungan saja dia berani berperangang , apalagi diminta memilih anak atu pekerjaaan . Pasti dia akan memilih pekerjaan, tidak,tidak aku tidak ingin dia meninggalkanku lagi. Aku harus cari cara agar dia tidak kerja lagi’ Arsen membatin.
Arsen menghentikan mobil dan berhenti sebuah tempat bermain, ia meminta pengasuh Nathan mengajak anak itu untuk bermain dan mengajak Yolanda bicara.
“Kita tidak boleh pergi ke rumah Mama dengan keadaan marah,” ujar Arsen duduk di bangku taman.
“Aku tidak marah, kamulah yang marah.”
“Yolanda. Mami, sayangku. Tolong pikirkan lagi,” bujuk Arsen dengan tatapan memelas.
“Ini aku sedang berpikir.” Yolanda menunjuk kepalanya.
“Aku tidak ingin kamu bertugas jadi paspampres lagi. Bahkan aku tidak ingin kamu bekerja. Aku ingin menjadikanmu jadi ratu di rumah, kamu tidak perlu melakukan apapun hanya perlu bersantai di rumah. Aku akan menyediakan semua yang kamu butuhkan. Kalau kamu ingin rumah yang lebih nyaman dengan fasilitas lengkap aku bisa beli,” bujuk Arsen.
“Itu yang sulit, aku tidak terbiasa. Aku biasa punya kegiatan.”
“Sayang … kamu bisa melakukan banyak hal, belanja, perawatan, yoga, jalan-jalan sama Mama, Vania dan Mitha ini aku akan berikan kartu bebas limit. Mungkin kamu mau aku beli mobil baru?” bujuk Arsen.
“Aku tidak suka dengan semua itu. Apa mungkin kamu salah wanita?” ujar Yolanda
“Aku tidak salah milih istri … Gresia Yolanda Naibaho! Kamu wanita yang tepat untukku," jawab Arsen merasa jengkel mendengar kata salah pilih istri. Bagaimana mungkin salah pilih istri kalau saat ini sudah ada pangeran tampan seperti Nathan dalam rumah tangga mereka.
“Tapia ku tidak suka seperti wanita pada umumnya yang suka belanja, perawatan.”
“Nanti juga terbiasa kalau sudah dicoba ,” bujuk Arsen.
Saat sedang membahas pekerjaan tiba-tiba Nathan menangis. Arsen langsung berlari menghampiri dengan wajah panik. Ternyata pengasuh melarangnya naik ke tempat bermain yang biasa dinaiki orangg dewasa.
“Kenapa Sus?” tanya Arsen panik.
Setelah pengasuh menjelaskan barulah Arsen merasa lega. Sementara Yolanda masih duduk di tempatnya. Ia hanya mengeleng saat Arsen menuruti semua kemauan Nathan. Setelah tinggal bersama Papinya anak itu bersikap manja.
“Bapak sama anak sama-sama keras kepala,” ucap Yolanda saat Nathan merengek ingin mencoba berjalan di atas jaring-jaring.
Bersambung.
Bantu like ya kakak agar ratingnya naik juga. Mampir juga ke karya baruku berjudul # Dihamili Adik Dinikahi Sang Kakak# Ceritanya sangat seru silahkan mampr dan berikan dukungan ya. terimakasih
__ADS_1