
Bu Tiani ingin bertemu Marina secara langsung. Sebenarnya dari pertama tiba di Jakarta keinginan itu sudah ia sampaikan pada Vania dan Mitha. Namun kedua putrinya menolak keduanya ingin mendengar pendapat Yolanda. Saat ditengah pesta wanita itu merasa tidak adil hanya menikmati kegembiraan sendirian, ia ingin nenek Arsen juga ikut merasakan kebahagian seperti yang ia rasakan.
“Gres, Mama ingin bertemu dengan Nenek Arsen,” ucap wanita itu di sela acara lamaran romantis ala Krisna.
“Untuk apa Ma?” Yolanda sepertinya tidak terlalu suka, ia meneguk jus dalam gelas sambil memainkan air dalam gelas.
“Sayanng, biar bagaimanapun dia nenek suamimu ganti ibu mertuamu, menikah atau tidak menikah dengan Arsen dia tetap keluarga kita,” bujuk sang Mama.
“Berikan aku waktu, Ma.”
Bu Tiani menghela napas, ia tahu hal itu berat untuk Yolanda, tetapi tidak akan ada masa depan tanpa masa lalu. Ia ingin putrinya dan menantu melupakan semua kenangan buruk di masa kecil mereka dan memulai keluarga yang baru.
“Bu, berikan Yolanda waktu,” ujar Arsen.
“Saya ingin nenekmu merasakan kebahagian yang aku rasakan Sen. Aku ingin dia tau kalau putramu juga masih hidup,” ujar Bu Tiani.
Mendengar hal itu raut wajah Yolanda langsung berubah suram. Ia meletakkan gelas di atas meja dan keluar dari hotel. Melihat hal itu tentu saja semua orang terdiam.
“Ada apa?” tanya Vania dengan bigung, baru saja mereka bertiga bergembira dan bersenang-senang dan tidak ingin kebahagian itu menghilang.
“Mama hanya ingin dia berbaikan dengan Nenenk Arsen.”
Mendengar itu wajah Vania jadi khawatir, ia juga tahu bagaimana penderitaan Yolanda karena nenek Arsen.
“Ma, berikan Kakak waktu untuk berpikir. Ini masih berat untuknya, please tolong jangan paksa dia,” bujuk Vania.
Melihat Yolanda keluar Kris dan Hugo langsung mengejar dan mengikutinya dari belakang, wanita cantik itu duduk di bangku taman hotel.
“Jo, Apa kamu baik-baik saja?” tanya Hugo dengan hati-hati ia duduk dan di susul Kris.
“Ini berat bagiku.”
“Kami tau itu. Ibu hanya ingin semua bahagia.”
“Tapi Ibu Marina terlalu … ah, entahlah.” Yolanda menggantung kalimatnya dan memijit kening.
“Jo, kalau kamu masih membenci Bu Marina artinya kamu belum bisa berdamai dengan masa lalu. Kamu sendiri yang bilang anak dan orang tuanya tidak akan bisa dipisahkan. Sama dengan Arsen dengan Neneknya,” ujar Hugo, ia bahkan bicara dengan sangat hati-hati. Kris yang duduk di samping Hugo hanya ikut mengangguk ia tidak berani bicara sembarangan takut membuat keadaan tambah panas.
__ADS_1
“Apa seharusnya aku tidak usah baikan dengan Arsen?”
“Apa?” Kedua lelaki itu langsung beraksi kaget.
“Jangan seperti itu Jo. Ibarat kata kamu itu napas kehidupan untuk Pak Arsen,” ujar Kris melebih-lebihkan.
Mendengar itu Yolanda tertawa kecil. Hugo dan Kris membujuk Yolanda agar mau menuruti kemauan Bu Tiani. Kedua lelaki itu tidak ingin colon ibu mertuanya sedih, kalau wanita itu sedih otomastis akan mempengaruhi mood Mitha dan Vania dan ujung-ujungnya mereka berdua kena imbas.
“Jo, aku baru kali ini merasakan bagaimana rasanya bahagia. Tolong jangan putuskan kebahagianku karena kemarahanmu,” bujuk Kris dengan wajah memelas.
“Apa hubungannya dengan kamu, Kris.”
Kris menurunkan pundaknya sedikit dan berkata, “ kalian bertiga itu setali dua uang. Kalau kamu sedih otomatis Vania ikut-ikutan sedih dan moodnya rusak.”
“Pastinya Mitha juga akan ikut,” sahut Hugo.
Yolanda menatap wajah kedua sahabatnya sekaligus calon adik iparnya, ia tidak ingin merusak kebahagian mereka berdua dengan keogoisannya. Ia mengenal Hugo dan Kris sudah sejak lama. Kedua lelaki itu berasal dari panti asuhan tidak pernah merasakan bagaimana dicintai. Melihat mereka bedua begitu bahagia saat bertemu Mitha dan Vania ia tidak ingin merusak.
“Baiklah,” sahut Yolanda.
Hugo dan Kris sama-sama meraih tangannya Yolanda, tangan kiri untuk Hugo dan tangan untuk Kris lalu mereka sama-sama berjongkok di depannya dan menicum tangannya bolak-balik. Apa yang dilakukan kedua pria itu menjadi perhatian orang yang melintas.
“Kami sangat mencintaimu Kakak Ipar,” ujar keduanya dengan senyum sumringah.
“Astaga! lepas!” Yolanda menarik tangannya tetapi kedua lelaki itu masih menahannya dan memuja-muja dirinya bak ratu. “Kami sangat memujamu kanjeng ratu tolong jangan marah lagi. Sebab setiap kamu marah seluruh alam jagat raya akan berguncang dan membuat kami ketakutan,” ujar Krisna.
“Kris apaan sih.” Muka Yolanda langsung merah, karena banyak menonton mereka bertiga.
Orang-orang berpikir kalau Krisna dan Hugo memperebutkan dirinya dan memohon untuk dipilih sala satu dari mereka.
“Aku juga kanjeng ratu. Setiap kali kamu marah, jantungku dan seluruh alam semesta langsung ketakutan,” balas Hugo.
“Astaga kedua orang ini membuatku malu. Hugo lihat semua orang melihat kelakuan konyol kalian berdua,” ujar Yolanda setengah berbisik, meminta kedua yang berjongkok di tanah itu untuk berdiri. “Cepat bangun aku malu,” ujar Yolanda.
Vania, Mitha, Bu Tiani, Erik dan Arsen ikut keluar melihat ulah kedua laki-laki itu.
“Apa yang mereka lakukan?” tanya Arsen.
__ADS_1
“Mereka berdua sepertinya mengerjai Kak Gres,” jelas Vania mereka mendekat dan tertawa.
“Ah, Vania, untung kamu datang . Bawa pacar kamu ini pergi.”
Bukannya tambah berhenti kedua lelaki itu semakin berulah. Hugo berakting layaknya orang yang sedang memuja-muja sang kekasih.
“Oh, kanjeng ratu. Mau kah kamu dikemudian hari jangan marah-marah lagi?”
“Ais Hugo kamu ikut-ikutan gila!” Yolanda berdiri.
Tapi kedua lelaki itu masih berjongkok di tanah memegang tangan Yolanda.
“Dikemudian hari nanti, kalau kita hidup sebagai keluarga . Tolong jangan membuat guncangan besar lagi,” ujar Krisna.
Yolanda yang merasa jengkel dengan kedua rekannya meladeni kedua pria tersebut.
“Wahai para pengawalku, silahkan duduk dan kita bicara di kursi saja!” ujar Yolanda.
Mereka berdua melepaskan tangan Yolanda sebelum wanita cantik itu naik darah. Setelah bercanda beberapa menit suasana kahirnya kembali mencair . Mitha dan Vania tertawa ngakak melihat wajah kesal sang kakak akibat ulah kedua temannya. Mamanya juga ikut tertawa.
“Kalian berdua bisa menghibur juga,” puji sang calon ibu mertua.
Wajah keduanya langsung malu, tidak sadar ternyata ada Bu Tiani di sana.
“Bukan menghibur malu-maluin. Orang pikir kalian berdua memperebutkan aku,” ujar Yolanda.
“Oh, Bu besok saya libur. Kita akan mengatur pertemuan keluarga Pak Arsen secepatnya,” ujar Hugo.
Seketika mata semua mereka tertuju pada Yolanda. “Apa kamu mau Nak?” tanya Bu Tiani.
“Hugo dan Kris memaksaku,” ujar Yolanda,
“Terimakasih Pak Hugo,” balas Arsen dengan tulus.
Mitha tersenyum manis melihat Hugo yang berusaha keras membujuk Yolanda. Wanita cantik itu semakin jatuh cinta pada calon suaminya.
Atas bujukan kedua sahabatnya Yolanda akhirnya memutuskan akan mengadakan pertemuan keluarga Arsen dengan Mamanya.
__ADS_1
Bersambung
Bantu like komen dan berikan hadiah ya terimakasih