
Cemburu bisa membuat seseorang kehilangan akal, hal itulah yang terjadi pada Arsen. Ia bersikap kenak-kenakan saat cemburu pada Hugo lelaki yang selalu bersama istrinya. Gosip yang didengar kalau mereka pasanga kekasih membuat hati lelaki tampan itu kian panas. Maka saat tau Yoland pulang bersama Hugo ia juga pulang, melihat Hugo berenang walau air dingin ia ikut berenang. Maka saat melihat lelaki lain menyetuh istrinya emosinya meletup tak terbendung hingga terjadi pemukulan.
“Apa yang kamu lakukan?” Yolanda menahan tangan Arsen. Hidung Hugo berdarah dibogem sama Arsen. Untung di danau itu tidak ada hiu kalau saja sudah habis mereka di telan karena Hiu paling sensitif sama bau darah.
“Kamu istriku Yolanda.”
“ Dia hanya bercanda,” ujar Yolanda dengan mulut menganga.
“Bela saja terus.” Arsen berbalik badan dan berenang ke tepian di susul Yolanda.
“Kamu bisa gak jangan pakai kekerasan.”
“Lalu apa aku diam saja, saat dia memegangmu?”
Yolanda hanya menggeleng melihat sifat pemarah Arsen, tiba ditepi, ia tidak tahu jalan menuju ke bukit, tempat mereka melompat. Dengan wajah kesal ia menunggu Yolanda berjalan di depan. Saat berjalan melewati bebatuan kakinya tertusuk duri.
“Aku sudah bilang jangan ikut.”
“Itu hanya duri, tidak apa-apa. Kamu pikir aku ini laki-laki apaan,” sahut Arsen, lalu mencabut duri kakinya.
Yolanda tidak menekan Arsen lagi, ia takut lelaki itu tambah emosional. Jadi ia hanya berjalan di depan. “Apa kamu sudah berpikir panjang apa tujuan kedatangan kamu ke sini?”
“Tentu, untuk menemui ibu mertuaku dan melihat bapak mertua.”
Yolanda menghentikan langkah kaki, lalu berbalik badan menatap Arsen. “ Dengar, Mama belum tahu tentang kita.”
Arsen mengedikkan kedua pundaknya. “ Lalu?”
“Jangan membuat Mama banyak pikiran dia masih belum pulih sepenuhnya.”
“Maksudnya aku harus diam begitu?”
“Katakan saja kalau Papaku teman Mama kamu.”
“Apa? Egois sekali.” ucap Arsen kesal.
Tiba di atas, ia berganti pakaian . Mereka pulang ke rumah tidak diduga ada banyak orang yang datang ke rumah setelah tahu kalau Bu Tiani datang bersama-sama anaknya.
“Kenapa ada banyak orang.” Yolanda mau masuk ke rumah jadi ragu.
Tiba-tiba Mamanya memanggil. “ Gres sini! “
“Sebentar Ma, aku ada keperluan sebentar. ”Yolanda membawa Arsen dan Erik menuju makam Papanya. Jarak makam dari rumah nenek Yolanda tidak terlalu jauh, hanya berjalan menyusuri jalan setapak.
“Apa kamu lahir di sini, Yolanda?” tanya Erik menatap sekeliling rumah kampung yang mereka lewati.
__ADS_1
“Tidak, tapi aku SMP di sini dan di sana Papa dibakar dan itu bekas rumah kami.” Yolanda menunjuk bekas rumah mereka yang dibakar dulu.
“Kenapa tidak tinggal di rumah Nenekmu, rumahnya besar. Bukankah kamu bilang Mamamu anak satu-satunya?” tanya Arsen.
“Papa ingin mandiri, jadi dia membangun rumah sederhana untuk kami.”
Mereka bertiga berdiri di pinggir lapangan . “Disini ada banyak rumah , masa tidak ada yang membantu?” Erik sangat penasaran dengan kisah masah kecil Yolanda.
“Mereka sudah terpropokasi dengan sepupu Mama. Tapi mereka sudah mendapatkan hukumannya, semua orang yang ikut menuduh Papaku pemilik ilmu hitam, sudah kukirim ke penjara, beberapa bulan yang lalu,” tutur Yolanda.
Tiba di makam papa Yolanda, wajah Arsen terlihat sangat sedih.
“Aku akan meneruskan apa yang pernah Om kerjakan sama Kakek,” ujar Arsen.
*
Erik , Hugo, Krisna melakuka hal yang tidak bisa ditemukan di kota dan akan pengalaman pertama untuk Erik dan Arsen dua anak kota. Memanjat kelapa dan memanjat pohon mangga, makan langsung dari pokoknya. Saat mereka semua bersenang-senang Yolanda berjalan ke tepi pantai. Dulu setiap kali Papanya pulang kerja Yolanda akan menunggu di pelabuhan melihat papanya turun dari kapal.
Papa Yolanda bekerja di sebuah perusahaan tehnologi di kota, ia hanya pulang ke rumah setiap akhir pekan. Setiap kali pulang akan membawa oleh-olah yang banyak untuk Yolanda dan kedua adiknya.
‘Papa aku sangat merindukanmu, sangat,”ucap Yolanda dalam hati, ia menatap tempat ia dan Papanya biasanya bermain.
“Apa yang kamu pikirkan?” Bu Tiani beridiri di samping putrinya.
“Aku terkadang sangat merindukannya.”
“Hmmm, apa kamu tidak akan memperkenalkan suamimu padaku secara sah?”
Yolanda menatap Mamanya dengan kaget. “Dari mana Mama tau? Siapa yang memberitau Mama, Vania?”
“Mama sudah sembuh Gres. Tatapan matanya, sama seperti tatapan mata Papamu saat melihat Mama dulu.”
Yolanda tidak bisa mengelak lagi, Mamanya lulusan terbaik di kampusnya dulu, wanita itu orang pintar jadi ia bisa membaca keadaan. Akhirnya ia menceritakan semuanya. Termasuk pernikahan dan anak yang ia lahirkan.
“Benarkah?” Bu Tiani menangis haru ia memeluk Yolanda.
“Maafkan Aku Ma, tidak terus terang.”
“Tidak apa-apa sayang. Mama yang harus minta maaf tidak bisa mendampingi kalian bertiga di saat-saat sulit. Terimakasih Gres sudah menjaga kami bertiga,” ujarnya Mamanya menangis sesegukan sembari memeluk Yolanda.
“Apa Mama marah?”
“Tidak, tapi ini tidak adil untuk suamimu. Kamu harus mengatakan semuanya padanga. Aku ingin melihatnya sayang, aku ingin melihat kalian bersama.” Yolanda menunjukkan sebuah foto pada Mamanya.
Wanita itu semakin menangis, ia sangat terharu dan mecium Yolanda bolak balik.
__ADS_1
Saat pulang ke rumah, tiba-tiba Bu Tiani meminta Arsen duduk dan meletakkan beras diatas kepalanya, semua orang bigung dengan apa yang dilakukan mama mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Hugo dan yang lainya bigung.
“Beras yang diletakkan diatas kepala seseorang sebagai lambang memberkat. Itu karena mereka pasangan suami istri,” ujar Mitha.
“Kamu adalah menantuku,” ucap Bu Tiani tiba-tiba.
Waja Arsen langsung melongo tidak percaya, ia menatap Yolanda yang berdiri di didekat jendela. “Gres kamu juga harus duduk di sini,” bujuk Bu Tiani.
“Untuk apa?”
Mendengar itu Vania dan Mitha langsung bergegas menarik tangan kakak mereka, lalu mendudukkannya dengan paksa di samping Arsen. Erik dan lainya langsung bertepuk tangan dengan gembira. Ternyata Yolanda tidak mau membantah apapun yang dikatakan Mamanya. Ia duduk berdampingan dengan Arsen sebagai pasangan suami istri.
“Masa lalu, biarlah masa lalu Gres. Mama tidak ingin kamu menyimpan dendam. Mama sudah memaafkan mereka semua. Dendam akan menghalangi kebahagianmu,” ujar Mama mereka. “Mama ingin kamu berbaikan dengan Arsen.”
“Ma, kami akan membicarakan ini nanti,” tolak Yolanda.
“Gres, Mama hanya ingin melihat anak-anak Mama menikah dan punya anak. Aku ingin memeluk cucuku.”
Yolanda dan Hugo saling melihat. Sementara Arsen hanya diam dan menunduk.
“Jangan menundanya sayang.”
“Baik Ma.”
Saat Yolanda setuju berbaikan dengan Arsen. Mereka semua tepuk tangan. Saat malam tiba momen yang paling seru kalau sudah pulang ke kampung . Rumah Nenek Yolanda luas hanya memiliki dua kamar, di ruang utama sudah di gerai tikar dan selimut tebal karena udaranya sudah mulai dingin.
Hugo, Kris, Erik sudah mengambil posisi masing-msing . Bu Tiani meminta Arsen dan Yolanda tidur di kamar yang sama. Tidak ingin mempermalukan diri sendiri Yolanda tidak menolak. Dalam kamar, ia duduk diam.
“Tidurlah aku tidak akan mengigitmu,” ujar Arsean mengulum senyum
“Aku ingin bicara jujur denganmu,” ucap Yolanda menatap Arsen dengan gugup.
“Apa?” Melihat wajah tegang Yolanda, Arsen ikut-ikutan gugup ia berpikir kalau Yolanda akan mengatakan hal mengejutkanya lagi.
Tiba-Tiba Yolanda merasa tidak berdaya saat ingin mengatakannya.
“Salah satu dari mereka masih hidup.”
“Maksudnya apa?”
“Anakmu masih hidup.”
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komen dan hadiah ya terimakasih