
Untung Yolanda sudah mengamankan barang-barangnya pribadinya meminta Krisna membawa ke apartemennya. Ia sudah menduga kalau Arsen akan menyelidiki tentang dirinya setelah pergi dari rumah selama berbulan-bulan.
“Untuk apa tidur di kamarku?” tanya Yolanda
“Untuk menjagamu dan calon bayiku,” ucap Arsen, ia berjalan menuju ranjang lalu tidur di sana.
‘Aku tidak akan bisa leluasa lagi kalau dia ada di sini’
“Aku lagi malas untuk berdebat, baiklah terserah saja.” Yolanda pasrah.
“Karena pernikahan kita hanya kontrak, jadi mari kita selesaikan sampai habis waktunya. Tidurlah disampingku, mulai saat ini kamu harus bersikap seperti istri setidaknya sampai kontraknya habis,” ujar Arsen, wajahnya telihat datar.
“Baiklah.” Yolanda tidak membantah. Ia tidur disamping Arsen, pertama kalinya tidur dengan orang lain membuatnya tidak nyaman.
Ia bolak balik mengeser posisi tidur, belum lagi luka dipinggang dan perutnya sakit. Arsen hanya melihat dari belakang memikirkan luka dipinggang Yolanda membuat dadanya terasa sesak. Saat Yolanda tidur gelisah Arsen tidak mengatakan apa-apa ia pura-pura tidur karena ia juga sebenarnya sedang marah besar. Karena tidak bisa tidur Yolanda bangun, ia duduk di balkon kamar menatap bulan malam. Matanya tertujuh pada sebuah kelender , tiba-tiba ia mengingat sesuatu kalau ini jadwal ia menelepon adiknya.
Ia buru-buru menganti ponsel dengan kartu sim yang baru. Sebelum menelepon ia beberapa kali menarik napas panjang lalu menekan nomor sang adik.
“Halo” sapa seorang gadis di ujung telepon.
“Ini aku, bagaimana kabarmu.”
“Kakak! Kenapa tiga bulan ini tidak pernah menelepon aku. Apa kakak sehat?”
“Sehat. Dengar aku hanya butuh waktu lima menit untuk bicara dengarkan baik-baik. Aku sudah tranfer uang ke rekeningmu,” ucap Yolanda.
“Kakak, Mama sudah mulai sehat. Tidak bisakah kamu pulang Ini sudah empat belas tahun setelah kakak meninggalkan rumah. Aku dan Mitha sudah selesai kuliah dan kerja kakak tidak perlu lagi mengirim uang tapi kami hanya ingin kakak pulang.”
“Lisa, Kakak tidak bisa, jaga mama baik-baik, aku akan tutup teleponnya , bulan depan aku akan telepon lagi dijam yang sama dan tanggal yang sama.”
“Kakak tidak bisakah kamu bicara lebih lama lagi dengan kami, aku sudah menunggu telepon kakak selama berbulan-bulan apa hanya sepulih menit saja? Tidak bisakah kamu mengirim foto kakak untuk mengobati rindu kami?”
“Tidak bisah Dek, kakak minta maaf.”
“Kenapa?”
“Bulan depan kita akan bicara lebih lama lagi, aku tutup teleponnya jaga Mitha dan Mama dengan baik.”
__ADS_1
Telepon dimatikan, terdengar suara isak tangis adiknya saat Yolanda ingin menutup telepon. Begiitulah cara Yolanda untuk melindungi keluarganya semua gaji ia berikan untuk biaya kuliah kedua adik perempuanya dan pengobatan ibundanya yang mengalami ganguan mental. Saat pekerjaan menuntutnya tidak punya hubungan dengan orang luar dan keluarga. Yolanda tidak sepenuhnya bisa melakukannya. Ia menghubungi adiknya setiap bulan di pada waktu malam ia selalu menelepon di jam dan tanggal yang sama setiap bulan dan batas waktunya hanya sepulu menit. Setelah menelepon adiknya Yolanda mematahkan kartu sim telepon dan membuangnya. Apa yang di lakukan Yolanda ternyata dilihat Arsen dari dalam kamar.
“Dia menelepon siapa? Kenapa dia harus merusak nomornya?” Lelaki tampan itu semakin penasaran. Ia keluar dari kamar datang ke balkon kamar di mana Yolanda duduk dengan wajah yang amat sedih.
“Apa kamu lakukan diluar selarut ini?” tanya Arsen.
“Hanya ingin duduk saja.”
“Apa kamu habis menelepon seseorang ?”
“Iya.”
“Siapa?” tanya Arsen sebenarnya ia sudah tahu kalau Yolanda tidak akan mengatakan apa-apa padanya tetapi ia tetap mencoba.
“Hanya teman.”
“Lalu kamu membuang nomorrnya setelah menelepon?”
Yolanda kaget saat Arsen melihat semuanya, padahal tadi ia sudah berusaha melakukannya dengan cara sembunyi-bunyi , ia tidak sadar kalau Arsen sudah mengawasi dari sejak ia datang ke kamar itu.
“Teman sepertia apa? Apa dia kekasihmu?”
“Tidak.”
“Lalu?” Arsen masih berusaha mencari tahu.
“Ini sudah larut malam mari tidur.” Yolanda masuk kembali ke dalam kamar. Arsen hanya bisa menggeleng sembari menghela napas panjang.
Ia kembali ke dalam kamar mencoba untuk tidur, tetapi sekeras apapun ia berusaha tidur matanya tidak bisa terpejam. Ia melihat Arsen tidur ia kembali bangun, lalu melihat keluar bulan malam itu sangat indah. Wajah cantik itu dipenuhi awan gelap ada beban berat yang ia pikul sendiri.
Melihat perutnya yang semakin membesar untuk pertama kalinya ia merindukan sang ibu. Ia kembali ke balkon dan duduk di sana. Menikah dan hamil anak pertama jadi impian setiap wanita, sayang bayi yang dikandung Yolanda bukan miliknya dia milik keluarga Arsen. Ia melihat kalung liontinya menatap foto kedua orang tuanya.
‘Pak, bersabarlah sebenatar lagi, putrimu akan menghukum pria yang menuduhmu saat itu’ ucap Yolanda membatin
“Apa kamu benar-benar tidak bisa tidur?” Arsen berdiri di depan Yolanda menyandarkan tubuh kekarnya di tembok pembatas balkon, matanya meliti wajah Yolanda.
“Iya,” sahut Yolanda singkat.
__ADS_1
“Kenapa. Apa karena aku tidur satu ranjang denganmu?” tanya Arsen sembari melipat tangan di depan dada, banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Namun tidak satupun yang memiliki jawaban, Yolanda menutup rapat tentang pribadinya.
“Karena tidak biasa,” sahut Yolanda masih dengan jawaban yang singkat.
“Apa kamu tidak pernah punya kekasih sebelumnya?”
“Tidak ada Pak Arsen,” sahut Yolanda, ia mulai tidak nyaman dengan pertanyaan tentang pribadinya.
‘Bagaimana caraku membuatmu untuk bicara?’ Arsen diam, saat Yolanda tidak nyaman dengan pertanyaan Arsen.
“Apa kamu lapar, aku akan meminta Bu Mina memasak sesuatu untuk kita.”
“Aku tidak tidak terbiasa makan malam.”
“Aku pikir wanita hamil akan sering melakukan itu, karena mereka sering lapar.”
“Benarkah? Tapi aku membaca buku, minum susu protein juga sudah cukup,” ucap Yolanda menunjukkan buku di atas meja.
‘Kenapa dia harus tau itu dari buku. Kenapa dia tidak bertanya sama ibu saja? Apa dia juga tidak punya keluarga?’ Arsen bertanya dalam hati.
“Terkadang teori tidak sama dengan apa yang kita alami. Karena setiap wanita hamil beda-beda kondisi. Apaka kamu tidak tau itu?”
“Tidak, aku tidak tau,” sahut Yolanda membaca buku ditangannya.
“Kenapa kamu tidak bertanya pada keluargamu atau sama Ibu saja tentang hal ini?”
Yolanda diam, ia tidak suka membahas tentang keluarga.
“Apa kamu tidak punya keluarga?” tanya Arsen, ia mulai mengorek infromasi tentang Yolanda.
“Tidak ada, aku sudah mulai mengantuk, aku duluan tidur.” Ia berdiri dan meninggalkan Arsen lagi.
Watak Asli Yolanda semakin terlihat. Ia wanita yang dingin dan sangat tertutup. Saat bertemu Arsen pertama kalinya Marina yang memintanya untuk bicara banyak hal dengan Arsen. Sebenarnya Yolanda aslinya wanita yang irit bicara dan tertutup. selama ini ia lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku atau nonton film sendiri diapartemennya jika saat libur tugas. Rekan-rekannya yang selalu datang ke apartemennya bermain. Arsen bigung bagaimana mengatasi sikap pendiam Yolanda. Ia ikut masuk dan tidur disamping Yolanda. Ia memulai dengan cara baru, Arsen memeluk tubuh Yolanda dari belakang. Ternyata ia tidak menolak tapi tubuh itu menegang bagai balok kayu.
Bersambung
Bantu like, komen dan berikan hadiah ya
__ADS_1