
Arsen berdiri gagah dalam balutan jas berwara abu di padukan dengan dasi berwarna hitam, ia beberapa kali menarik napas panjang ia terlihat gelisah. Hari ini ia akan dinobatkan secara resmi di hadapan semua pemegang saham dan seluruh karyawan sebagai CEO baru diperusahaan keluarganya. Tetapi rencana pengangkatan dirinya tidak berjalan mulus. Ada banyak pihak yang menentang dirinya sebagai pewaris dan sekaligus pemimpin perusahaan besar itu.
“Selamat Bro, lu resmi jadi bos besar sekarang. Nenek memang hebat bisa membungkam para pemilik saham,” ucap Erik menepuk pundak Arsen.
“Nenek melakukan apa yang mereka minta, termasuk pernikahanku di dalamnya.”
“Tapi Lu juga hebat Bro,” puji Erik.
“Terimakasih, gue dengar lu menolak jabatan yang di berikan nenek, kenapa?” tanya Arsen. Ia membuka lemari pendingin di ruangannya
“Gue gak mau terikat dengan aturan yang di buat nenek, gue ingin membangun kerajaan gue sendiri,” ujar Erik sedikit meningikan diri.
“Ok. Paham, semonga berhasil”
“Tapi apa benar lu dipaksa menikah? Gue kaget saat Mami cerita.”
“Iya menikahi pembantu.”
“Ha, itu memang benaran, maksud gue orang yang benar-benar pembantu di rumah kita?”
Erik jarang pulang ke rumah, ia memilih berbisnis sendiri dari pada kerja di perusahaan keluarganya.
“Itu salah satu kehebatan Nenek kita. Menjebak orang dengan kata-kata agar bisa menikah,” ujar Arsen.
“Oh. Nenek pasti punya alasan kan?” Erik menatap Arsen dengan serius.
“Alasanya agar dia melahirkan anak untukku”
Mendengar alasan itu, Erik duduk di sofa menatap sepupunya dengan tatapan serius.
“Itu benar?”
“Iya”
“Itu artinya hal bagus untukmu, kalau gue dikasih pasti mau. Keluarga kita di kutuk Sen tidak ada wanita yang mampu melahirkan anak untuk kita bertiga.”
“Kamu sama Jessen masih percaya saja kutukan sperti itu, ini jaman moderen Rik, mana ada hal seperti itu,” sengah Arsen.
Banyak rumor yang beredar kalau keluarga Arsen dikutuk. Karena semua cucu Marina belum ada yang melahirkan anak walau sudah lama menikah. Marina sangat percaya dengan kutukan, itu sebabnya ia menikahkan Yolanda dan Arsen dan juga banyak melakukan ritual adat, berharap kutukan yang disematkan pada keluarganya hilang. Tapi Arsen tidak percaya hal seperti itu,
“ Gue sudah menikah tiga kali, tidak mendapatkan anak entah berapa wanita yang aku tidurin, berharap wanita itu hamil dan melahirkan anak, tetapi nyata tidak satupun dari mereka yang hamil dan sekarang ketiga mantan istriku sudah menikah dan punya anak. Lihat Jessen, dia dan istrinya sudah lima tahun menikah mana ada anaknya.”
“Gue yang gak percaya hal yang seperti itu,” ujar Arsen.
“Nenek memberikan hal yang baik untukmu, Bro,” ucap Erik.
“Gue belum bisa menerimanya sebagai istri." Arsen kesal jika membahas tentang pernikahannya
__ADS_1
“Jangan bilang lu belum menyentuhnya.”
“Iya.”
“Wah Parah! Satu bulan sudah menikah belum npernah men-”
“Jangan untuk tidur dengannya. Dekatnya dengan saja membuatku kadang kesal, dia misterius dan tidak banyak bicara.”
“Kenapa tidak cari tahu?”
“Dia tidak punya akun media sosial, gue sudah meminta seseorang untuk menyelidikinya, hasilnya nihil. Satu bulan menyelidiki tentang latar belakangnya tapi tidak menemukan apa-apa. Bagaimana gue gak bertambah curiga,” ucap Arsen.
Arsen awalnya mengira kalau Yolanda akan berusaha keras untuk mendapatkan hatinya atau mengejarnya, tetapi dugaannya salah. Yolanda justru sangat acuh dan tidak perduli dengannya. Arsen semakin penasaran dengan latar belakang Yolanda, tetapi sekeras apapun ia mencari tahu tentang latar belakang Yolanda tidak menemukannya.
“Kenapa lo tidak melakukannya secepatnya, berhasil atau tidaknya tidak akan tahu kalau belum mencoba menanam benihmu di rahimnya,” usul Erik
“Bibitku tidak akan tumbuh di rahim seseorang seperti dia, bibitku akan tumbuh di lahan yang subur dan berkelas,” ucap Arsen sombong.
“Jangan sombong dan jangan membenci seseorang dengan berlebihan. Takunyat orang yang lu benci itu orang yang membuatmu jatuh cinta nantinya, by the way bicara tentang curiga, gue melihat juga tadi pagi ….”
“Melihat Maksudnya?” Arsen menatap sepupuhnya dengan wajah serius.
“Gue juga menduga dia punya rahasia, gue melihat dia olahraga di taman dan bodynya ….”
Erik mengantung kalimatnya, membuat Arsen penasaran.
“Tidak, dia sangat seksi.”
“Gila Lu,” ucap Arsen, ia pikir sepupunya hanya meledak.
“Gue serius Sen, dia seperti seorang atlet binaragawan, perutnya ber otot.”
“Dia hanya asisten rumah tangga Erik,” ucap Arsen ia tidak percaya dengan apa yang dikatan Erik.
“Ok, lah kalau lu gak percaya, gue ada pertemuan dengan klien, mau cabut dulu,” ucap Erik.
“Kapan kamu menemaniku membangun perusahaan ini?”
Erik hanya tertawa, “itu perusaanmu bukan milikku, milikku masih dalam tahap pembentukan,”ujar Erik dengan yakin. Lelaki itu tidak mau bekerja di perusaahan keluarganya ia memang membangun bisnis sendiri hanya yang dibangun salah dan berbahaya.
*
Saat Erik keluar dari perusaan menuju sebuah hotel, saat itu juga Yolanda bersiap melakukan misi. Erik salah satu target buruan Yolanda dan teman-temannya. Sepupu Arsen itu terlibat dalam kejahatan berkala internasional. Erik dan bebera mafia kelas dunia menculik ilmuwan dan memaksa mereka menciptakan sebuah formula yang diyakini sebuah virus. Lalu mereka merencanakan menguci coba ke manunia yang akan ditebarkan disebuah negara terpencil di wilayah Afrika. Mereka menciptakan penyakit lalu mereka juga akan menciptakan obat penangkalnya. Para mafia itu menjadikan nyawa manusia jadi ladang bisnis, Erik jadi buronan internasional.
“Lapor Dan, Target menuju Lokasi,” lapor salah satu anak buahnya, melalui alat komunikasi aearpiece. Earpiece, Alat Komunikasi Rahasia yang biasa dipakai para pasukan pengawal Khusus
“Ok. siapkan team. Saya segara datang.” Yolanda meninggalkan rumah menggunakan ojek.
__ADS_1
Tiba di sebuah mobil van di sanalah ia berganti pakaian layaknya seorang tentara wanita. Ia bergabung dengan beberapa pasukan resmi negara dan pasukan asing. Yolanda menggunakan kaca hitam dan topi dengan jaket anti peluru berwarna hitam. Ia masuk ke dalam hotel saat petugas hotel ingin menghalanginya, rekan Yolanda menyodorkan kertas tugas tanda pengenal.
“Baik Mari,” ucap petusa hotel dengan tangan gemetaran, menunjukka kamar yang di minta Yolanda.
Enam orang maju ke depan pintu tanpa aba-aba, seorang dari mereka menendang pintu dan menemukan empat orang lelaki sedang melakukan transaksi . Tetapi sayang Erik licin bagai belut, penyergapan itu telah di bocorkan seseorang padanya hingga ia bisa lolos. Tapi saat Erik menyamar sebagai petugas kebersihan hotel untuk melarikan diri, ia berpapasan dengan Yolanda dan anggotanya, untungnya Yolanda menggunakan topi dan kaca mata yang menutup setengah dari wajahnya, jika saat itu Yolanda melepaskan kaca matanya maka penyamarannya akan ketahuan.
“Misi berhasil Pak. Tetapi sayang burung pipit terbang,” lapor Yolanda pada pemimpin mereka.
“Tidak apa-apa, dia akan lebih mudah kita dapatkan sayapnya akan semakin lemah. Amankan barang bukti.”
“Baik Pak” Lapor Yolanda.
“Jo.”
“Siap Pak.”
“Apa semua baik?”
“Siap! Semua Baik Pak.”
“Jo ... saya punya tugas penting yang lain untukmu. Apa kamu bisa?’
“Saya siap menjalankan perintah Pak.”
“Bu Marina meminta penembak untuk mengawasi Arsen di kantornya. Hari ini penobatan dirinya sebagai Ceo baru diperusahaan, tapi dua orang pemegang saham menolak Arsen sebagai pemimpin, dia khawatir kalau nyawa Arsen dalam bahaya. Kamu sekarang menuju kantor.”
“Baik siap Pak.”
Yolanda kembali ke dalam mobil van hitam dan berganti pakaian, kali ini pakaiannya pakaian yang lebih kasual jaket hitam, rambut panjangnya dimasukkan ke dalam topi ia menggunakan kaca mata hitam dan masker, membawa tas rangsel dipungungnya.
“Turunkan saya dibelakang kantor, saya berharap dia tidak mengenalku,” ucap Yolanda.
“Baik Dan.”
“Kabarin Krisna kalau saya akan ke sana.”
“Siap,” sahut bawahan Yolanda serempak.
Yolanda sengaja menggunakan tangga darurat untuk masuk ke gedung perkantoran milik Arsen, tapi saat di lantai tiga, entah kenapa Arsen turun menggunakan tangga juga sembari menelepon.
‘Arsen? Apa yang dia lakukan disini?’ Tidak ingin menimbulkan kecurigaan ia tetap berjalan menundukkan kepala sembari menarik topi melewati Arsen yang berdiri di tangga, Saat berpapasan Arsen mencium bau parfum yang sangat familiar.
“Siapa dia? Tunggu! Kamu siapa?”
‘Mampus aku, kalau sampai ketahuan’ Tubuh Yolanda menegang bagai patung.
Bersambung
__ADS_1