Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Kehadiranmu Mengubah Duniaku


__ADS_3

Kedatangan Nathan  mengubah segalanya, terutama untuk Arsen . Lelaki itu jarang tersenyum bahkan nyaris tidak pernah tersenyum sejak Yolanda dikabarkan meninggal empat tahun yang lalu. Tetapi kali ini, ia tertawa bahagia sembari mengendong putranya dan mendengar bocah tampan itu bercerita ia mendengar dengan antusias.


Semua orang bergantian memeluk Nathan sampai-sampai anak itu merasa bosan dan rewel. Semua orang juga mencium pipinya membuat si tampan Nathan menangis.


“Mami ayo pulang ,” ucapnya bersembunyi di belakang Yolanda.


“Sayang, mereka semua orang-orang yang mencintaimu,” ucap Yolanda.


“No, aku tidak suka,” ucapnya menyembunyikan wajanya di belakang Maminya.


“Apa kamu ingin pergi jalan-jalan dengan Papi? Hanya kalian berdua. Papi ingin menunjukkan mainan Papi saat kecil dulu,” bujuk Yolanda, ia mengedipkan mata pada Arsen. Mendengar hal itu tentu saja Arsen bersemangat.


“Iya, hanya kita berdua,” ujar Arsen dengan wajah menegang ia takut putranya menolaknya.


Yolanda sengaja meminta Hugo tidak menunjukkan dirinya di depan Nathan. Kalau saja di sana ada Hugo dan Arsen, mungkin Nathan akan  lebih memilih Hugo karena pria itu yang sering datang mengunjunginya bersama Yolanda,  ia kenal Hugo dari pada Arsen. Yolanda tidak ingin Arsen merasa cemburu, Hugo juga mengerti,  maka saat semua orang mengkerumun melihat Nathan Hugo  memilih menyembuyikan diri.


“Apa Mami ikut?” tanya Nathan saat Arsen mengajaknya ke kamar.


Melihat wajah Arsen yang begitu bahagia Yolanda tidak ingin merusak kebahagian  itu. Ia setuju ikut ke kamar Arsen. Semetara semua orang melanjutkan pesta.


“Pangeran kecil mau istirahat dulu. Kalian lanjutkan saja pestanya,” ucap Yolanda bercanda pada adiknya Vania.


“Baik pangeran, selamat istirahat ya,” balas Vania.


Tiba di kamar, Yolanda melongg ternyata Arsen sudah menyulap kamar pribadinya layaknya kamar anak-anak. Lengkap dengan semua permainannya.


Yolanda melirik Arsen sembari bertanya, “Kapan ini dikerjakan?”


Arsen  terseyum penuh semangat. “ Kemarin.”


“Oh, papimu punya banyak mainan sayang, dia akan mengeluarkan lebih banyak lagi jika kamu bersikap baik padanya,” bujuk Yolanda.


“Benarkah? Apa aku boleh minta semua jenis mainan yang aku suka?”


“Tentu saja. Apa saja yang kamu inginkan,” ucap Arsen.


“Iyalah kamu kaya. Papi Nathan!” ucap Yolanda denga suara kecil.

__ADS_1


Mendengar hal itu Arsen mencubit pinggang Yolanda. “Kalau aku kaya berarti kamu juga kaya. Mami Nathan,” balas Arsen  dengan suara penuh penekanan. Arsen selalu kesal kalau Yolanda menyebutnya orang kaya. Arsen selalu berpikir kalau ia kaya sudah pasti Yolanda sudah masuk di dalamnya karena  Yolanda istrinya.


*


Satu minggu kemudian.


Arsen dan keluarga begitu bahagia  setelah  Nathan datang. Sejak hari itu Arsen tidak mau  jauh dari putranya, dari mandi, makan, bahkan urusan ke kamar mandi ia melakukannya  sendiri. Pengasuh Nathan hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa karena pekerjaan yang biasa ia lakukan sudah di lakukan Arsen semua.


Saat sedang duduk di kamar Bu Tiani menelepon Yolanda bertanya kapan membawa Nathan ke rumah. Arsen dan Yolanda sudah membeli rumah untuk ditinggali Bu Tiani, jadi mereka  bertiga bisa tinggal bersama.


“Ma, sabar ya. Arsen tidak mau lepas sama anaknya, bahkan kemarin dia  membawa ke kantor juga.”


“Apa Nathan  tidak minta pulang lagi?” tanya Bu Tiani.


“Tidak lagi Ma, Arsen benar-benar menghancurkan semua yang kami ajarkan selama ini. Kami tidak pernah memanjakannya dengan banyak mainan. Tapi sekarang. Kamar Nathan berisi setengan mainan,” keluh Yolanda.


“Nak, jangan marah.  Apapun yang dilakuan Arsen pada putranya, tolong mengerti dia hanya ingin membayar waktu yang dia lewatkan dengan putranya,” ujar Bu Tiani.


Yolanda diam,  padahal baru beberapa menit dia protes pada Arsen karena memanjakan Nathan dengan segala kemewahan yang ia miliki. Bagaimana gak protes Arsen sampai meminta pilot pribadinya membawa mereka terbang ke Amerika hanya untuk membeli mainan yang disukai Nathan. Setiap kali Yolanda protes ayah dan anak itu akan membalas dengan  senyuman.


“Pokokknya jangan sampai kamu melarang, biarkan dia melakukan sampai hatinya benar-benar puas,” ujar Bu Tiani.


“Baiklah Ma, aku akan mengingat  nasihat Mama walau ada perasaan jengkel kadang-kadang. Mama tau, Nathan tidak mau mendengar kata-kataku lagi, setiap kali aku bicara dia akan berlari sama Arsen,” ujar Yolanda mengadu sama Mamanya.


Mendengar itu Bu Tiani hanya bisa tertawa, ia tidak sabar ingin bermain dengan   cucunya. Sudah satu minggu sejak Nathan pindah ke rumah Arsen, selama itu juga Arsen tidak pernah jauh darinya. Setelah menutup telepon Yolanda  duduk di pinggir kolam renang menonton bapak anak itu berenang. Nathan benar-benar memborong sampir semua wajah tampan Arsen, bahkan sifat mereka berdua sama. Nathan paling tidak suka barang-barang miliknya di pegang orang lain. Nathan juga super bersih sama seperti Arsen.  Saat sedang melamun tiba-tiba Arsen menjipratnya dengan air.


“Mikiran apa?” tanya lelaki itu menyudahi mandinya, ia duduk di dekat Yolanda mengenakan handuk  model badrobes, bahkan warna handuk keduanya sama.


'Baiklak semua pakaian kalian berdua couple saja, aku tidak usah diajak' ucap Yolanda dalam hati


“Mikiran kamu,” sahut Yolanda tersenyum manis pada putranya.


“Mami  kenapa tidak mandi?” tanya Nathan, bibirnya bertambah merah saat Arsen memberinya minum lemon hangat,


“Mami  lagi malas,”jawab Yolanda menyentuh hidung mancung  Nathan.


“Tadi teleponan sama siapa?” tanya Arsen,  Yolanda berpikir kalau putranya sudah ada sikap cemburuan Arsen padanyaa akan berkurang . Nyata  sama saja. Ia akan selalu bertanya siapa yang  telepon setiap kali ia mengangkat telepon . Bahkan tidak sengan-sengan memeriksa isi ponsel Yolanda.

__ADS_1


“Kamu melihatnya?”


“Tentu saja,  kamu menelepon sambil senyum-senyum membuatku curiga.”


Yolanda menggeleng dan berkata, “ kamu cemburu lagi?”


“Tentu saja tidak. Aku hanya bertanya,” bantah Arsen.


Melihat kecemburuan Arsen Yolanda sekalian saja mengejainya.


“Ada deh, orang yang spesial di hatiku,” ucap Yolanda menatap Nathan dan mengulum senyum.


Mendengar hal itu wajah  Arsen langsung berubah,  tanpa aba-aba ia langsung merebut ponsel dari tangan Yolanda dan memeriksanya riwayat panggilan.


“Apa yang kamu lakukan? Kita berdua seperti anak SMP yang baru pacaran. Kamu ngapain sih cemburu-cemburuan,” protes Yolanda.


“Mami sama Papi bertengkar?” tanya Nathan.


“Oh, tidak sayang Papimu tukang cemburu. Periksa terus aku menelepon Mama.” ucap Yolanda mencebikkan bibirnya sembari mendengus. “Aku pikir setelah anaknya datang, sikap cemburunga akan hilang, ternyata sama saja,” ucap Yolanda mendumal.


Setelah  memastikan yang menelepon ibu mertuanya barulah Arsen memberikan ponselnya lagi dan tersenyum kecil.


“Senyam-senyum, bilang saja kamu cemburu,” ujar Yolanda.


Arsen tidak membalasnya ia mengendong Nathan di pangkuannya dan meminta pengasuh untuk mempersiapkan serapan untuk Nathan.


“Mama bilang apa?”  tanya Arsen sambil menguyur rambutnya yang basah ke belakang.


“Dia minta cucunya  dibawa ke rumah mereka dia kangen katanya.”


“Ok, hari ini kita ke rumah grandma ya, Bang.” Arsen menyuapi Nathan .


“Ok.” Nathan benar-benar dimanjakan sama Arsen.


Bersambung


Bantu like komen dan berikan hadia ya kakak-kakak agar authornya semakin semangat update banyak bab tiap hari terimakasih

__ADS_1


__ADS_2