Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Anggap Aku Mesin Pencetak Anak


__ADS_3

“Dari mana kamu tahu kalau aku dalam bahaya? Siapa kamu sebenarnya? Aku yakin seratus persen kamu bukan asisten rumah tangga.”


“Bu Marina pernah cerita, maaf aku ingin istirahat, sejak hamil aku gampang lelah,” ujar Yolanda.


“Nenek tidak akan menceritakan rahasia keluarga kami pada sembarangan orang.”


“Mungkin hanya kebetulan saja.”


“Tidak bisakah kamu  berkata jujur padaku, tentang dirmu yang sebenarnya? Agar aku bisa membantumu.”


“Maaf aku tidak bisa, jangan pernah libatkan hatimu dan perasaanmu dalam hubungan pernikahan ini, sebab cepat atau lambat kita akan berpisah. Kamu bisa memulai hidup yang baru dengan anak dan istrimu,” ujar Yolanda.


“Lalu bagaimana dengan kamu apa kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun untukku?” tanya Arsen.


“Tidak ada Pak Arsen.  Aku melakukan semua itu karena kontrak kerja,” ujar Yolanda


Ia berdiri tiba-tiba merasa pusing, untung Arsen memegang tanganya. Tapi saat Arsen  memegang lengan Yolanda meringis, dibalik jaket yang ia pakai ia menutupi luka di lengannya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Arsen panik.


“Tidak apa-apa, tolong keluar aku ingin istrirahat,” ucap Yolanda wajah mulai pucat.


“Baiklah.” Saat Arsen menoleh ke bawah ternyata darah menetes dari pinggang Yolanda, Arsen menyingkap jaket yang dipakai mata lelaki melotot kaget, luka memanjang tepat di tulang rusuk Yolanda.


“Kamu terluka?”


“Sttt … tolong jangan katakan apa-apa, kalau Bu Marina sampai tau dia akan marah, aku akan mengobati lukaku Bapak keluar saja.”


“Kamu terluka parah dan kamu akan mengobati sendiri?”


Yolanda membuktikan dirinya seorang pasukan terlatih, ia membuka laci dan mengeluarkan kotak obat.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Arsen


Lalu Yolanda mengeluarkanjarum suntik ia ingin  menjahit lukanya sendiri, mata lelaki itu dibuat kaget oleh aksi Yolanda.


“Apa kamu seorang tentara?” tanya Arsen.


“Tidak. Tapi bisa bapak membantuku memegang ini.” Ia menyodorkan senter dari ponsel.

__ADS_1


Yolanda terlebih dulu memberi suntik  bius lokal, lalu dengan cekatan tangannya menjahit luka dipinggangnya.


“Apa kamu sudah terbiasa melakukan ini? Apa yang kamu kerjakan sampai kamu terluka?” Kecurigaan Arsen semakin terbukti setelah melihat Yolanda mengobati lukanya sendiri.


“Apa Bapak bisa membantuku membalut lukaku dengan  kain kasa itu?” Yolanda menghiraukan pertanyaan Arsen. Ia membalut luka itu dengan diam, ada banyak pertanyaan dalam kepalanya setela melihat semuanya. Bahkan Arsen bisa melihat jelas perut Yolanda mulai melendung membentuk gundukan kecil, usia kandungannya sudah jalan empat bulan, tetapi merahasiakan kehamilannya. Perasaan lelaki tampan itu bercampur aduk saat melihat perut Yolanda dan melihat luka dipinggangnya, jika Yolanda tidak menepis, pisau itu akan mengenai perutnya.


‘Bagaimana kalau perutnya yang terluka?’


Setelah  semua selesai Arsen duduk tenang, ia duduk di sofa dan melipat tangan di depan dada, isiap mendengar penuturan Yolanda.


“Baiklah Bu Yolanda, sekarang ceritakan semuanya padaku.”


“Tidak ada yang perlu diceritakan Pak Arsen, tolong jangan katakan pada siapapun tentang lukaku. Kalau kamu menceritakannya nyawa kami berdua dalam bahaya.” wajah Arsen semakin menegang.


“Apa kamu tidak akan mengatakan apa-apa padaku?”


“Tidak ada Pak.”


“Kamu istriku dan mengandung anakku. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Apa itu masuk akal? Kamu dan wanita tua itu mempermainkan hidupku Yolanda,” ujar Arsen marah. “Kalau aku tahu kamu hanya jadi mesin pencetak anak datang ke rumah ini aku tidak akan mau menikahimu,” ujar Arsen.


“Baiklah sekarang Bapak sudah tau, jadi aku pikir tidak ada masalah lagi,” ujar Yolanda dengan tenang.’


“Aku menjaga keselamatannya Pak Arsen, karena aku tahu dia berharga untuk keluargamu. Tadinya dia ingin menusukku dari depan aku melindungi perutku dengan tas, lalu dia menusuk pinggangku,” ujar  Yolanda membela diri,


“Dia? Dia siapa?”


“Perampok,” sahut Yolanda asal.


Arsen tidak habis pikir kenapa Yolanda tidak mengatakan apapun tentang siapa dirinya,


“Baiklah, kalau kamu tidak mau cerita, aku yang akan mencari tahu sendiri,” ancam Arsen. Ia keluar dengan marah dari kamar Yolanda. Tiba di kamarnya ia melampiaskan kemarahannya dengan melemparkan  pajangan, benda yang terbuat dari kaca itu sampai hancur, setelah dilempar ke dinding. Ia merasa tidak  berguna setelah hampir berbulan-bulan mencari tahu tentang Yolanda tetapi hasilnya nihil, ia tidak menemukan apapun tentangnya. Ia kembali menarik koper mini itu dari bawa kasur  lalu menelepon Leu Chan.


“Apa kamu menemukan tentang Yolanda?”


“Maaf Bos, saya tidak menemukan apapun tentangnya.


“Sial! Lakukan apapun untuk menemukannya!” bentak Arsen marah.


Setelah menyembunyikan koper itu lagi ia menemui Marina. Arsen tidak terima saat neneknya menjadikan pernikahannya hanya pernikahan kontrak. Marina tidak meminta pendapatnya tentang hal itu. Kemarahannya semakin memuncak saat melihat Yolanda terluka dalam keadaan hamil dan parahnya sebagai suami ia tidak mengetahui penyebab ia bisa terluka. Ia datang ke kamar sang Nenek dan kembali berdebat sengit.

__ADS_1


“Arsen, Nenek melakukan itu demi kebaikanmu.”


“Nek, saya tahu mana yang terbaik untuk hidupku.”


“Bukankah kamu mengatakan akan menikahi kekasihmu yang di Canada, Nenek akan mendukung pernikahan kalian jika  Yolanda melahirkan.”


“Lalu  setelah melahirkana Apa Nenek akan membuang wanita itu?”


Marina mendongak saat mendengar kata membuang,


“Arsen kami sudah sepakat,” tutur Marina.


“Bagaimana denganku? Apa saya setuju saat Nenek memisahkan anakku dan Ibunya?”


“Apa kamu jatuh cinta pada Yolanda? Dulu kamu tidak perduli bahkan  selalu merendahkannya lalu kenapa sekarang kamu peduli.” protes sang Nenek.


“Nek,  saya setuju menikah, tapi saya tidak setuju untuk dipisahkan.”


“Baiklah katakan berapa lama kontrak pernikahan kami?” tanya Arsen.


“Hanya satu tahun.”


“Aku akan memaanfaatkan sisa kontraknya untuk jadi suami. Nenek jangan pernah melakukan apapun padanya tanpa seijinku,” ujar Arsen.


Nenek dan cucu itu saling berdebat, Arsen keluar dari ruangan  Nenek dengan wajah memerah karena amarah. Ia berpikir Yolanda dan Marina mempermainkan hidupnya.


“Aku tidak ingin kalah dari kalian berdua,” ucap Arsen .


Setelah berpikir panjang  Arsen akhirnya membuat keputusan, ia datang kembali ke kamar Yolanda. Wanita hamil itu kaget saat Arsen datang membawa bantal ke kamarnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Yolanda ia masih  menahan daun pintu.


“Aku memutuskan untuk tidur di sini mulai sekarang.”


“AAA? Kenapa?”


Bersambunng


Bantu like, komen dan berikan hadia terimakasih

__ADS_1


__ADS_2