Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Ajakan untuk Mencetak Anak


__ADS_3

“Malam ini? Kenapa mendadak? Maksudku apa kamu sudah siap melakukannya?” tanya Yolanda mulai di landa rasa gugup.


“Iya, aku berpikir semakin cepat kita melakukanya semakin bagus. Nenek juga selalu menererorku untuk memberikannya cucu,” ujar Arsen, bicara langsung pada intinya.


Yolanda terdiam, malam itu ia belum bisa sebab ada misi yang yang harus ia kerjakan, ia memutar otak untuk menunda. Tidak sengaja ia melihat pembalut di laci meja.


“Malam ini sepertinya tidak bisa, Pak.”


“Kenapa? Kamu sakit?”


“Tidak, aku datang tamu bulanan," kilah Yolanda terpaksa berbohong.


“Oh, berapa lama aku harus menunggu?”


“Biasanya satu minggu.”


‘Lama amat’ protes Arsen dalam hati, tetapi ia mencoba menahan diri agar tidak marah.


“Baiklah, aku akan menunggu, kalau sudah selesai kamu boleh datang ke kamarku,” jelas Arsen.


“Baik.”


Arsen keluar dari kamar Yolanda, tadinya ia sudah mempersiapkan diri untuk melakukannya. Tetapi kali ini ia merasa kesal karena pekerjaannya tertunda.


Ia kembali ke kamar, otaknya terus memikirkan Yolanda, ia merasa ada yang disembunyikan  tapi tidak tahu apa. Semakin ia penasaran, semakin banyak hal yang   menarik dari Yolanda, setelah ia melihat wanita olahraga dan memperlihatkan tubuh seksi.  Kali ini  suara merdu Yolanda kembali menarik perhatiannya. Setelah keluar dari kamar istrinya Arsen tidak bisa tidur ia memilih berkutat di layar laptop untuk melihat laporan tahunan perusahaan. Kupingnya terusik dengan petikan gitar dan suara merdu seseorang.


“Siapa yang nyanyi?” Arsen  keluar dari kamar dan sengaja duduk di sofa balkon.


Ternyata Yolanda duduk di balkon kamar sembari memetik gitar menatap bulan malam.


Ia melantunkan lagu berbahasa Inggris ‘Dont Watch Me Cry’ seolah-olah ia mengambarkan kalau ia kesepian dan sedih, karena ditinggal seorang yang ia kasihi.  Arsen masih diam melirik ke arah Yolanda seakan ia ikut tertular merasa sedih. Mendengar Yolanda fasih menyanyikan lagu berbahasa asing dan begitu menghayati. Arsen memikirkan ucapan Erik yang menyebut Yolanda hanya pura-pura jadi asisten rumah tangga.


"Oke. Dia bukan pembantu, aku tarik ucapanku kembali," ucap Arsen.


Ia kembali ke kamar setelah Yolanda masuk ke kamar juga.


  Malam itu Yolanda dapat telepon dari atasannya lagi, izin pada Nyonya Marina untuk keluar beberapa hari bersamaa Krisna. Ternyata keduanya dapat misi lagi, untuk membebaskan seorang  bos pengusaha tambang batubara yang disandera  Spratisme  kelompok  teroris di Papua. Yolanda dan devisinya mendapat tugas dari atasan mereka untuk ikut membantu tentara untuk menyelamatkan  sandera.


Yolanda dilatih untuk menguasai beberapa keahlian, ia menguasai tehnologi, terutama dalam persenjataan, ia juga dilatih menjadi petugas medis dalam kesatuanya. Kali ini Yolanda dan rekan-rekannya ikut bergabung dengan pasukan elite anti teror koppasus dan TNI.  Yolanda sudah saling mengenal dengan tentara sebab sering kerja sama.


                *

__ADS_1


Tiba di markas tentara, Yolanda dan  dua bawahannya mendengarkan arahan dari Komando pasukan TNi sebagai pemimpin dalam misi penyelamatan. Tidak lama kemudian mereka berbagi tugas.


Sebagai sniper Yolanda  ikut dengan helikopter untuk untuk memantau lokasi. Besok pagi mereka terbang  menuju tujuan, tepatnya di atas hutan belantara Papua. Yolanda sudah siap dengan peralatan tempurnya. Helikopter TNI terbang melintas diatas pepohonan, Yolanda  melihat melalui teleskop senapannya  seseorang bergerak dalam hutan.


“Harap waspada. Ada pergerakan,” ucap Yolanda memperingatkan rekan-rekannya.


“Baik.” Pilot terbang lebih rendah.


“Turunkan saya diatas bukit,” ujar Yolanda.


“Kamu yakin Jo.” Rekan-rekannya menolak, sebab kelompok spratisme itu dikenal sangat sadis. Jika mereka menemukan seseorang yang bukan dari daerah tersebut akan ditangkap dan disiksa, apa lagi kalau ia berseragam tentara.


“Lakukan saja.”


Yolanda, turun melalui tali, saat tiba di tanah sekelompok orang membawa panah mengejar Yolanda. Ia belari  sangat cepat menerjang hutan, tidak disangka ia malah berlari ke markas dekat musuh.


“Yolanda. Laporkan situasimu.”


“Aman, masalahnya saya berada tepat di kandang macan,” bisik Yolanda


“Kami akan melakukan penyelamatan untukmu,” ujar Komanda pasukan.


Semua pasukan saling melihat. Yolanda dikenal dengan keberanianya dan ide strategi yang briliant. Ia memberi arahan pada semua pasukan untuk menyerang sekaligus dari arah depan dari darat dan udara.  Maka gempuran senjata saling beradu mulai riuh di tengah hutan.


Musuh menjauh dari tempat persembunyian. Ide Yolanda berhasil saat kelompok ******* itu sibuk  berperang melawan para tentara Yolanda menyelinap masuk untuk menyelamatkan tawanan. Saat ia masuk ke dalam  gua persembunyian ternyata ada beberapa sandera. Ia bigung sebab ia bertugas hanya menyelamatkan satu orang sementara di sana ada lima. Jika ia melepaskan ke lima orang maka akan ketahuan. Yolanda dituntut untuk membuat keputusan yang cepat dalam situasi sulit. Akhirnya ia hanya menyalamatkan satu orang walau sebenarnya hatinya sedih sebab para tawanan itu memohon untuk melepaskan mereka juga.


“Percayalah, saya akan datang lagi nanti,” ujar Yolanda.  Ia memakainkan mantel pada lelaki yang menjadi misi penyelamatan.


“Bapak harus dengarkan saya, kalau saya bilang; Menunduk, harus menunduk,’ tegas Yolanda.


“Baiklah, tapi bisakah kamu menyelamatkan mereka juga?”


“Saya hanya ditugaskan menyelamatkan Bapak,” ujar Yolanda dengan tegas.


Ia membawa lelaki paruh baya  itu berlari ke arah belakang, lalu menekan tombol alat komunikasinya di belakang kupingnya.


“Saya mendapatkannya,” lapor Yolanda.


Wajah semua pasukan itu  sangat gembira, “kami akan menjemput.”


“Tapi … masih ada lima orang lagi yang mereka tawan.”

__ADS_1


Wajah mereka kembali menegang dan menjadi perdebatan, satu kelompok mengatakan mereka hanya ditugaskan  menyelamatkan klien mereka


 Sebagaian lagi mengatakan kalau mereka harus menyelamatkan warga sipil sekalian.


“Saya akan turun lagi,” ujar Yolanda dengan berani, ia sudah berjanji akan datang. Baginya janji adalah hutang. Tetapi rekan dalam satu devisi Yolanda protes sebab mereka hanya dibayar untuk menyelamatkan satu orang klien . Menyelamatkan warga sipil tugas tentara  negara.


“Dan. Kita akan pulang,” ujar Krisna.


“Saya akan melakukannya dengan cepat,” ucap Yolanda.


Rekan dari kesatuan Yolanda tidak bisa membantah,  setelah lelaki itu aman ke dalam helikopter dan diterbangkan ke rumah sakit. Para pasukan anti teror itu kembali menyerang dan melawan para ******* dengan cara memukul mundur. Suara tembakan saling beradu menghiasi hutan belantara dan rentetan senjata saling bersahutan. Yolanda masuk kembali ke dalam goa  bersama dua tentara. Lalu melepaskan warga sipil yang disandera. Saat mereka berhasil keluar ternyata seorang ******* mengetahui rencana .  Mereka berbalik arah menuju goa dan menyerang. Yolanda terkena panah di lengan di samping ketiak. Sementara satu tentara terkena tembakan di bagian perut.


“Mayday!  Mayday! Kami terluka,” lapor  tentara yang luput dari penyerangan.


Mereka masih  berlindung di balik batu, beruntung salah satu sandera yang mereka selamatkan seorang dokter, ia memberi pertolongan pada Yolanda dan tentara yang terluka.


“Apa kamu bisa pegang senjata?” tanya Yolanda.


“Aku bisa,” ujar seorang anak muda yang tubuhnya  mulai kurus sebab terlalu lama di kurung.


“Apa kamu seorang anggota?”


“Iya.”


Yolanda menyodorkan satu pistol jenis shotgun padanya, mereka  mencoba  bertahan dari gampuran musuh, setelah beberapa menit akhirnya helikopter terbang diatas kepala. Yolanda memberikan tanda  dengan cara menyalahkan mercun asap di dekat mereka. Tidak lama kemudian pasukan bantuan juga datang.


“Bertahanlah bantuan sudah datang, kamu harus kuat,” ujar Yolanda pada salah seorang sandera yang terluka di dada.


Ia merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah foto.


“Dia putriku, saat ini dia duduk dibangku SMP bisa kah kamu menemuinya  untukku? Katakan padanya kalau aku sangat mencintainya, aku selalu melihatnya dari atas sana,” ucapnya memegang tangan Yolanda.


“Bertahanlah. Bapak sudah berjalan sejauh ini,” ucap Yolanda.


“Terimakasih karena kamu kembali untuk kami,” ucapnya dan meninggal.


Rekanya hanya bisa menangis melihat kepergian teman seperjuangannya, lelaki yang meninggal itu tenaga medis yang  ditugaskan pemerintah untuk bertugas ke desa pendalaman . Mereka diculik para sipratisme.


Bersambung


Mohon bantuannya ya Kakak dengan cara like, komen dan berikan hadiah agar karya author lebih semangat untuk update lebih banyak bab tiap hari.

__ADS_1


__ADS_2