
Beberapa hari kemudian.
Yolanda kembali bertugas, tidak perduli apapun rintangannya wanita cantik tidak akan membuatnya mundur ataupun takut. Walau Arsen menculiknya selama beberapa hari tapi ia bisa bebas. Kali ini ia dan Hugo kembali mengawal orang nomor satu itu. Hari ini mereka bertugas keluar daerah karena presiden melakukan kunjungan kerja ke Medan
Para pengawal terlatih itu tampak gagah dalam balutan jas berwarna hitam. Mata tajam bak elang itu mengawasi sekitar gedung saat presiden turun dari mobil. Mereka semakin waspada saat presiden mendekat para warga yang menunggunya di samping hotel. Saat bersentuhan langsung dengan masyarakat disitulah kejelian dan sikap waspadaan mereka diuji. Saat presiden mendekart banyak sekali tangan mereka terulur sekedar bersalaman bahkan banyak yang ingin sekedar minta foto pada orang nomor satu itu, para paspmpres dituntut tetap tegas. Namun tidak memberi jarak presiden dengan rakyatnya. Tidak jarang para paspampres begitu kelelahan mengawal presiden karena kedekatan presiden dengan masyarakat.
Di sisi lain.
Seorang wanita paru baya menatap layar televisi dengan wajah berseri-seri saat melihat wajah Yolanda, dia adalah Tiani Mama Yolanda. Setelah sering melihat Yolanda ditelevisi kesehatan wanita itu semakin pulih, bahkan sudah sehat.
“Apa Mama rindu Kakak?” tanya Vania, ia pulag kampung ke Medan untuk menjenguk mamanya.
“Sangat kagen, putri cantikku Gres …,” ucapnya mengusap wajah Yolanda di laya televisi.
“Ma, sabarlah dia sudah berjanji padaku akan pulang segera menjenguk Mama,” ujar Vania.
“Itu kalau Mama mau minum obat rutin,” sambung Mitha, gadis cantik berprofesi dokter itu menyodorkan tablet obat untuk mamanya. Dengan bantuan obat-obatanlah Mama mereka bisa tidur dengan tenang. Kalau tidak diberi obat akan gelisa lalu tidak bisa tidur.
Bu Tiani menatap wajah kedua putrinya bergantian lalu tersenyum kecil,”baiklah,” ucapnya tanpa membantah.
“Gitu dong kalau Mama sembuh kita sangat bahagia.” Viani memeluk sang Mama.
Kalau biasanya orang tua yang merawat anak-anaknya dari kecil sampai dewasa. Tapi tidak untuk Vania dan Mitha dari kecil sampai dewasa merekalah yang berjuang mengurus Mama mereka tiap hari. Beruntung keduanya punya Kakak seperti Yolanda berjuang keras untuk keluarganya.
“Mama , kalau Kakak pulang apa yang akan Mama lakukan?” tanya Mitha ia duduk di samping Vania.
“Mama ingin memeluk dan memasak makanan kesukaannya Gres.”
“Tanpa Kakak Gres, aku dan Vania tidak akan bisa seperti sekarang ini, jadi kalau Kak Gres ada salah Mama jangan marah ya,” bujuk Mitha.
“Iya, Kak Mitha bisa jadi dokter dan aku bisa tentara, kita bisa makan punya tempat tinggal semua karena Kak Gres juga. Jadi, Mama jangan marah apapun yang terjadi nanti,” ucap Vania.
Bu Tiani menatap kedua putrinya. “Apa dia melakukan sesuatu yang salah?”
Mitha menggeleng pada Vania supaya jangan menceritakan kalau Yolanda sudah menikah. “Tidak ada Ma. Kak Gres orang yang sangat baik.”
“Aku ingin melihat kalian bertiga menikah dan punya anak sebelum aku mati,” ujar wanita itu lagi.
Mitha hanya menunduk, sebenarnya dokter cantik itu sudah punya kekasih. Tetapi sepertinya keluarganya enggan menerima Mitha karena keadaan Mamanya. Setelah sang Mama tidur setelah minum obat. Mitha duduk di teras rumah di susul sang adik.
__ADS_1
“Apa ada masalah?” tanya Vania.
Mitha menghela napas berat, “hubunganku dengan Kevin semakin tidak jelas.”
“Kalian sudah menjalin hubungan selama 5 tahun kenapa tidak jelas?”
“Sebenarnya setelah membawaku ke rumahnya satu tahun yang lalu, hubunganku dengannya mulai goyah,” tutur Mitha.
“Apa keluarganya tidak menerimamu?” tanya Vania.
Wajah Mitha terlihat sangat sedih,”sebenarnya aku sudah lama ingin putus, hanya saja Kevin selalu menolak.”
“Kak, hubungan kalau sudah tidak ada kecocokan kenapa masih dipertahankan. Putuskan saja, aku yakin masih ada laki-laki yang mau menerima keluarga kita,” ujar Vania kesal.
Saat sedang mengobrol dengan Mitha, Kris menelepon Vania. Wajah Vania langsung ceria kembali. Mereka terlihat bicara sangat akrap. Rupanya setelah Arsen menolak menikah dengan Vania, Kris dengan berani mendekati Vania, ternyata perasaannya tersambut baik oleh Vania. Tentara wanita itu mau membangun komunikasi baik dengan Krisna.
“Apa kamu sudah mau tidur?” tanya Kris, ia menjauh dari Arsen dan pergi ke taman bagian belakang rumah.
“Belum. Kamu?” tanya Vania di ujung telepon.
“Belum juga, Oh, tadi aku sudah sampaikan pada Hugo kalau kamu pulang kampung, dia pasti sudah sampaikan kabarnya pada Yolanda.”
“Terimakasih.”
Vania menoleh ke arah Mitha. “Kakak.”
layaknya orang yang sedang kasmaran Kris duduk ditaman sembari menelepon, ia memotek daun tanaman hias milik Bu Marina tanpa sadar pohon baronsai itu sudah botak.
“Astaga mati aku,” pekiknya panik lalu ngacir dari sana.
“Ada apa?” Vania ikut kaget.
“Aku menghancurkan bunga kesayangan Bu Marina.”
“Maksudnya?”
“Bu-bunganya Botak tanpa sadar aku botakki.”
Mendengar penuturan polos Krisna, Vania tertawa ngakak. Krisna lelaki yang baik, ia begitu kaku mengenai hal pacaram.
__ADS_1
“Tadi kamu sama siapa?” Hati Krisna selalu berdebar-debar setiap kali bicara dengan Vania,
“Kakakku, Oh kamu sudah tau kan kalau aku punya kakak satu lagi. Mau lihat orangnya gak?”
Belum juga dijawab Vania sudah mengganti mode panggila jadi video call tentu saja lelaki bertubuh tinggi tegap itu kelagapan karena panik. Sebelum menekan tanda jawab ia merapikan rambut dan mengusap wajahnya.
Saat Melihat Mitha mata Kris melonggo, wajah ketiga kakak beradik itu mirip.
“Kalian bertiga bak kembar tiga,” ujar Krisna.
“Benarkah?” Mitha menyapa Kris, saat Kris melambai tangannya tiba-tiba Arsen nongol dari belakang.
“Kamu bicara sama siapa Kris?” tanya Arsen penasaran ia ikut nibrung dan menatap layar ponsel.
Seketika kedua wanita itu melonggo, melihat wajah tampan Arsen muncul dilayar ponsel. Bukan hanya mereka Arsen juga terdiam melihat kedua adik istrinya.
“Hai Bang Arsen,” sapa Vania dengan ramah. Setelah menolak perjodohan ia merasa bebas.
“Hai, Kalian mirip, akan susah membedakan kalau bertemu kalian bertiga,” ujar Arsen.
“Dia siapa?” tanya Mitha berbisik
Vania membisikkan ke kuping Mitha,” dia suami kakak.”
“HAA?”
Saat sedang melakukan video call, tiba-tiba dari belakang Vania muncul sosok seseorang. Mata Kris dan Arsen sama-sama Melonggo.
“Apa kalian kedatangan tamu?” tanya Kris.
Kedua gadis itu sama-sama menoleh ke belakang dan terdiam lalu berteriak histeris.
“Kak Gres!” Mitha berlari dan memeluk Yolanda.
“Iya, sepertinya kami kedatangan tamu spesial, sudah ya.” Vania sampai lupa mematikan panggilan video ponselnya. Ponsel itu tetap menyala diatas meja di disandarkan divas bunga, jadi Arsen dan Kris masih bisa melihat kehebohan keluarga itu saat kedatangan Yolanda. Saat mereka berdua diam, tiba-tiba duduk seseorang di depan di kursi tepat di depan layar ponsel.
“Pak Hugo?” Kris melonggo.
Hugo belum melihat ponsel tersebut. Arsen yang sempat berdiri ia kembali menunduk menyadari Yolanda pulang kampung bukan sendirian melainkan mengajak Hugo. Wajah tampan itu kembali membara dibakar api cemburu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen dan berikan hadiah ya Kakak agar authornya semakin semangat terimakasih