
Setelah semua keluarga menentang Yolanda untuk bekerja dengan berat hati Yolanda setuju. Arsen berjanji akan melakukan apapun asallkan Yolanda tidak bekerja lagi. Arsen benar-benar tidak suka dengan tentara, bahkan ia meminta Vania juga berhenti dari tentara. Tapi Vania menolak ia beralasan kalau tentara pekerjaan impiannya dan ia bekerja keras agar bisa seperti sekarang.
“Aku sudah menemukan tempat yang pas.” Mitha menunjukkn Bali tempat pernikahan mereka, pernikahan autdor
“Aku lebih suka di dalam Kak, hotel diJakarta juga bagus,” ujar Vania.
“Dek, tempat yang aku pilih ini lebih bagus.”
“Aku lebih suka di hotel dari pada di alam terbuka.”
“Lebih bagus alam terbuka.” Mitha menatap sang adik tajam.
Kedua Kakak beradik itu berbeda pendapat soal pemilihan tempat pernikahan, saat mereka berdua berdebat. Yolanda dan Mamanya jadi penonton melihat keduanya saling sahut menyahut.
“Ini pembahasan ke berapa mereka berbeda pendapat?” tanya Bu Tiani.
“Kalau tidak salah ke lima Ma,” sahut Yolanda.
“Kalau mereka berdua terus-menerus seperti ini sampai lebaran tahun depan tidak akan selesai pembahasan ini,” bisik sang Mama.
Mereka berdua hanya diam melihat kakak beradik itu saling berdebat. Ada kalanya mereka berdua berbeda pendapat. Tetapi yang paling sengit pembahasan pernikahan. Ini sudah ketujuh kalinya mereka tidak sependapat tentang gedung yang dipakai.
“Kakak Mitha jangan egois dong ini sekali dalam hidupku,” ujar Vania.
“Aku juga memang siapa yang ingin bolak balik menikah.” ujar Mitha.
“Ya udh di sini saja.”
“Orang gak suka masa dipaksa,” balas Mitha.
“Mama percaya gak kalau salah satu dari mereka ujung-ujungnya akan ngambek,” bisik Yolanda.
“Siapa lagi kalau bukan si bungsu,” tebak Mamanya.
Mereka berdua duduk di sofa sambil nonton televisi, setelah Yolanda memutuskan tidak bekerja. Ia akan sering datang ke rumah Mamanya. Hari itu Arsen sedang di luar negeri maka itu Yolanda langsung datang ke rumah Mamanya.
“Kakak seleranya norak,” tuduh Vania.
“Aku lebih suka alam terbuka, titik,” tegas Mitha.
“Ya udah gak usah.” Vania ngambek dan masuk ke kamar.
Yolanda dan Mamanya hanya mengedikkan pundak mereka tidak mau ikut campur lagi. Biarlah kedua orang itu yang memutuskan sendiri, dari kemari-kemarin Yolanda dan mamanya sudah memberikan pendapat tapi tetap saja mereka bedua kembali ke pilihan masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah. Dari pada ikut-ikutan pusing, Mamanya dan Yolanda lebik baik menonton saja.
__ADS_1
“Eh, aunty bertengkar,” ledek Nathan, anak tampan itu sedang bermain balok susun dengan pengasuhnya.
“Tidak sayang, bilang sama aunty Vania biar jangan ngambek mulu kerjaannya,” cletuk Mitha. Ternyata disahut sama Vania.
“Kakak Mitha itu keras kapala tidak mau mengalah,” tuduh Vania.
“Aku tidak mau mengalah terus menerus Van!” balas Mitha ikut marah.
Yolanda dan Mamanya langsung berpelukan sambil bernyanyi. “Perdamaian, Perdamaian”
Serba-serbi kehidupan kakak beradik memang seperti, ada kalanya berbeda pendapat. Tapi pertengkaran Mitha dan Vania hanya sekedar begitu saja. Tidak akan berkepanjangan sampai besok. Mereka akan berbaikan dengan cepat, karena hal itulah Yolanda dan Mamanya tidak khawatir , justru mereka berdua membuat bercandaan tentang perbedaan keduanya
Saat sedang bercanda. Arsen menelepon ia bertanya tentang Nathan, tiba-tiba mendengar Mitha sama Vania kembali saling berargunmentasi tentang gaun yang mereka pakai.
“Eh, ada apa Mi?” Arsen penasaran.
“Biasa kedua princes ini berbeda pendapat.”
“Masalah apa?”
Yolanda menceritakan semuanya. “Loh, belum ada keputusan juga?” tanya Arsen.
Tidak ingin kedua adik iparnya berdebat terus menerus ia berjanji akan membawa pengurus pernikahan ke rumah. Arsen tidak ingin Mama mertuanya ikut pusing memikirkan pernikahan.
“Kami belum bertemu, besok baru lanjut lagi.”
Arsen dan keluarganya bertolak ke London, menelusuri kabar yang mereka dengar Adik kembar Arsen sudah menikah dan menetap di sana dengan suami dan anak-anaknya. Bu Marina sudah menjelaskan semuanya pada Arsen ia juga meminta maaf sebab membohonginya selama puluhan tahun. Tidak ingin jadi anak durhaka Arsen memilih memaafkan neneknya, ia tidak ingin menyalahkan sang nenek terus menerus.
“Nanti kalau bertemu dengannya apa yang ingin kamu katakan?” tanya Yolanda.
“ Aku ingin minta maaf tidak pernah menemuinya selama ini. Aku bahkan tidak tahu kalau adikku masih hidup.”
“Itu bukan salahmu, keadaan yang memaksa,” ujar Yolanda.
Medengar nasihat istrinya Arsen merasa sedikit lebih lega, kehadiran putranya sudah mengubah sikap Arsen. Kalau dulu ia tidak pernah mau mendengar masukan dan nasihat orang lain. Sekarang ia berubah, ia tidak mau menyalahkan Marina lagi atas semua yang terjadi dalam hidupnya. Sebelum melanjutkan pencarian pada adiknya Arsen bersitirahat di hotel. Saat merebahkan tubuhnya ia melakukan vedio call ingin melihat Nathan.
“Apa yang dia lakukan?”
Yolanda mengarahka camera ke arah Nathan yang sedang menyusun balok-balok .” Dari tadi dia mencarimu dan minta pulang dari rumah Mama.”
Mendengar putranya merindukan dirinya Arsen sangat senang. “Mi, coba panggil dia,” ujar Arsen.
“Hai! Jagoan ini ada Papi.” Mendengar Papinya bocah tampan itu langsung berlari dan menatap layar ponsel .
__ADS_1
“Papi! Aku pulang! Jemput sini.”
Menatap wajahnya hati Arsen langsung terasa damai kegundahan yang ia rasakan sejak tadi seketika hilang terbayarkan dengan senyuman si ganteng Nathan..
“Papi , jemput besok ya.”
“Kenapa besok? Kenapa tidak sekarang?”
“Papi ada kerjaan .”
Nathan anak yang sangat pintar, ia melihat Mami dan Neneknya bergantian, lalu ia berkata lagi. “Uanty Vani dan aunty Mitha bertengkar lagi,” ucapnya pelan.
Mendengar itu Bu Tiani dan Yolanda tertawa ngakak. Arsen juga tertawa mendengar putranya mengadu. Walau ia diam ternyata dia mengamati semuanya.
Vani dan Mitha sama-sama menanggapi. “Eh kami tidak bertengkar jagoan, kami hanya berbeda pendapat,” seru Mitha. Ia merasa maulu karena Nathan laporan sama pada abang ipar.
“Hari ini ngapain saja?” tanya Arsen.
“Nemanin Mami menemui om pakai baju tentara.”
Mata Yolanda langsun melotot, ia menatap Mamanya dan kedua adiknya. Ia memang tidak bisa berbohong sebab ada mata-mata bersamanya.
“Om, tentara siapa?” tanya Arsen mulai menyelidiki.
Mitha dan Bu Tiani sama-sama menatap Yolanda dan bertanya denga gerakan bibir. “ Siapa?” tanya Mitha setengah berbisik, Yolanda hanya mengeleng sembari menutup mulut.
“Om tentaranya ganteng Pi, dia tertawa sama Mami.” Arsen mulai mengosok-gosok ujung hidung itu tandanya ia mulai cemburu.
“Oh iya, gantengan siapa sama Papi?’
“Hmmm, papi sih. Tapi aku marah sama Mami.”
“Loh … kenapa?” Arsen sampai duduk melihat wajah cemberut putranya.
“Dia bilang sama Om tentara itu ... kalau aku bukan putranya , tapi anak bosnya.”
“APA?” Kedua alis Arsen berkedut dalam, sepertinya ia menggapi dengan serius aduan Nathan
Tadi sebelum datang ke rumah Mamanya Yolanda behenti di sebuah restoran cepat saji, lalu mengajak Nathan dan pengasuhnya untuk serapan di sana. Saat duduk menikmati kopi. Seorang tentara teman lama Yolanda datang dan mereka mengobrol layaknya teman lama. Saat melihat Nathan ia tidak percaya kalau Yolanda sudah menikah dan punya anak sebesar itu. Yolanda membalas candaannya menyebut Nathan bukan putranya tetapi anak bos. Rupanya Nathan mendengar dan sakit hati karena Maminya menyangkalnya sebagai anak.
“Astaga.” Yolanda melonggo melihat putranya yang mengadu pada Arsen.
Bersambung
__ADS_1
bantu like, komen dan berikan hadiah ya terimakasih