
Pulang dari markas militer Arsen tidak pulang ke rumah, ia menolak acara malam dengan Vania yang diatur sang nenek. Walau Arsen sudah menolak keras dijodohkan dengan sang adik ipar, tetapi Marina orang yang kekeh. Ia tidak mau membuang kesempatan emas Vania memiliki gen yang sama dengan Yolanda, ia yakin kalau Arsen menikah dengan Vania akan memiliki kuturunan. Keluarga Arsen memiliki gen yang langkah mereka dapat memiliki keturunan jika memili gen yang sama. Itulah sebabnya Marina berniat menjodohkan arsen dengan Vania, bak gayung tersambut Vania setuju saat diundang makan malam di rumah Arsen. Gadis itu berpikir ia ingin melihat keluarga almarhum sang kakak.
“Kenapa lu gak mau?” tanya Erik ia manjatuhkan panggulnya di sofa di samping Arsen.
“Tidak ingin menikah dengan tentara wanita. Gue bahkan benci tentara,” ujar Arsen, tatapan matanya masih terfokus pada layar televisi yang sedang menayangkan pertandingan bola antara klup Ac Milan dan MUI.
“Tapi dia cantik Bro, bahkan lebih cantik dari sang kakak,” ujar Erik.
“Bukan masalah cantik, hanya tidak suka dengan profesinya,” tegas Arsen.
“Tidak suka dengan pekerjaannya atau belum bisa melupakan Yolanda?” tanya sang adik sepupu.
“Mungkin itu juga.”
“Come on Bro! Lu sudah mencari tahu tentang dia selama bertahun-tahun tidak ada hasilnya kan … iklaskan saja, mulai hidup yang baru,” ujar Erik menasihati.
“Tidak semudah itu Rik, hati ini masih memikul rasa bersalah, gue tidak akan tenag sebelum memastikan sendiri.”
“Bukannya lu sudah melihat makamnnya?”
“Gua yakin di dalam peti itu bukan dia,” ujar Arsen.
“Lu ingin menggali kuburannya untuk memastikan?” tanya Erik dengan kedua alis terangkat.
“Bila diijinkan gue ingin melakukannya dan memastikan sendiri.”
“Itu terlalu berlebihan Bro, bahkan Kris mengatakan dia melihatnya di dalam peti.”
“Gue akan tenang jika Sopian bisa menceritakan semuanya, sayang lelaki itu juga menghilang dan kabar yang gue dengar dia juga meninggal.”
Saat sedang duduk bersantai, tiba-tiba bel apartemen berdering, Kris dan kedua pengawal Arsen saling menatap. Mereka tidak pernah menerima tamu di apartemen. Dengan sikap waspada kedua penjaga itu berjaga di belakang pintu dan mengintip lubang pintu ternyata Marina dan Vania datang.
“Pak, ada nyonya dan tentara wanita itu.”
“Ha? Untuk apa Nenek datang ke sini?.” Arsen kaget.
“Buka saja,” ujar Erik.
__ADS_1
“Nek, apa yang kalian lakukan di sini?” Arsen menunjukkan wajah kesal.
“Nenek datang ke sini karena kamu menolak ajakan makan bersama.”
“Jangan memaksa, aku tidak suka.”
“Sudah, sudah, aku ingin menjelaskan sesuatu tadi saat menggobrol dengan Vania dia membuatku terkejut setelah melihat foto kakekmu,” ujar Marina bersemangat.
“Apa maksudnya?” Arsen masih menunjukkan wajah tidak bersahabat.
“Apa foto ini kakekmu?” tanya Vania menunjuk foto yang dibawa Marina.
“Ya kenapa?”
“Dia kakek juga,” ujar Vania.
“APA?” wajah mereka semua melongo.
“Aku juga punya foto kakek dengan Papa,” ujar Vania membuka dompet dan menunjukkan foto almarhum ayahnya bersama sang kakek.
“Ini pamanku,” ujar Arsen saat Vania menunjukkan foto ayahnya.
“Itu artinya Mamamu kembaran Papaku?” tanya Vania.
“Iya Mama punya saudara kembar, saat pembataian terjadi , aku mendengar kabar paman Kein melarikan diri bersama kekasihnya meninggalkan Jerman.”
“Iya, wanita itu adalah Mamaku,” sahut Vania.
Vania melepaskan kalung liontin yang ia pakai lalu menunjukan foto papanya, liontin yang biasa dipakai Yolanda. Tangan Arsen gemetar ia menutup mulut mendengar penuturan Vania. Ternyata Yolanda dan Arsen pariban atau sepupuh yang bisa menikah, pantas saja mereka memiliki gen yang sama karena ayah dan mama mereka adalah kembar. Marina menangis sedih mengetahui kalau Yolanda ternyata keluarga Arsen. Arsen akhirnya paham kenapa saaat itu Yolanda bisa membuka kunci senjata itu menggunakan tangannya itu karena mereka memiliki gen yang sama. Arsen menunjukkan foto-fotao orang tuanya dan pamannya saat masih mudah. Vania menangis sesegukan melihat foto-foto papanya dan kakeknya.
“Aku yakin paman Kein di bunuh bukan karena memiliki ilmu hitam, tapi karena formula ciptaan kakek,” ujar Arsen.
“Saat itu aku masih kecil tidak mengingat dengan jelas. Tapi Kak Gres saat itu sudah beranjak remaja dan melihat semuanya para propokator itu, dia pernah berjanji pada kami akan membunuh mereka semua,” ujar Vania.
“Ternyata kamu dan Yolanda pariban,” ujar Erik.
“Apa itu pariban?” tanya Arsen .
__ADS_1
“Pariban itu sepupuh yang boleh menikah, bahkan dalam tradisi adat Batak diharuskan menikah untuk menjaga ikatan keluarga,” ujar Marina.
Arsen terdiam ia melihat foto Yolanda kecil dalam foto liontin itu, padahal selama bersama Yolanda selalu mengenakan liontin itu di lehernya tapi Arsen tidak pernah tahu kalau di sana ada foto pamanya, semua rahasia itu bisa terungkap saat Vania diajak makan malam, tanpa sengaja Vania melihat foto sang kakek ada di kamar Arsen. Kalau saja Marina tidak memperlihatkan kamar Arsen padanya mungkin rahasia besar itu tidak akan terungkap.
**
Saat mengetahui kalau Vania adalah sepupunya, Arsen tidak lagi marah, ia bahkan bersedia mengajak Vania makan malam bersama. Hubungan mereka semakin baik, niat ingin menjodohkan keduanya semakin terbuka. Arsen juga sepertinya tidak ingin menyiakan-nyiakan Vania.
“Kapan kamu akan pulang ke kampung?” tanya Arsen saat mereka bertemu untuk ke sekian kalinya, hubungan mereka semakin dekat bahkan Arsen sudah mulai memuji kecantikan sang adik ipar.
“Untuk apa?” tanya Vania tersenyum manis, makan malam kali ini ia terlihat sangat cantik dan elegan dalam balutan dres berwarna merah, dari penampilannya ia tidak terlihat sebagai seorang tentara lebih tepatnta terlihat seperti seorang model.
“Aku ingin bertemu kelurga dan ingin melihat makam paman,” ujar Arsen.
“Bukan Paman, tapi dalam adat Batak dipanggil Tulang,” ralat Vania.
“Oh, iya Tulangku,” ujar Arsen.
Wajah Vani langsung tersipu malu saat Arsen menatap wajahnya, gadis mudah itu rupanya sudah mulai terpesona dengan ketapanan abang ipar, Ia tidak tahu kalau Yolanda melihat mereka berdua. Wanita cantik itu saja bisa tersenyum kecil melihat kebahagian adik bungsunya.
“Apa kamu ingin bertemu Mamaku?” tanya Vania.
“Iya, kita kan keluarga.”
“Baiklah, tunggu setelah aku cuti,” ujar Vania.
“Mungkin kita akan memikirkan pernikahan ,” sambung Arsen.
Vania terkejut saat mendengar kata pernikahan.Yolanda yang duduk tidak jauh dari mereka mendengar semuanya lewat alat yang dipasang di tubuh sang adik.
“Aku berharap kalian berdua bahagia,” gumam Yolanda pelan, ia berdiri dan meninggalkan meja, Saat ia berdiri Arsen melihatnya sosok yamg mirip Yolanda, ia hanya bisa melonggo bagai mimpi.
“Ada apa?” apa kamu baik-baik saja?” tanya Vani melihat Arsen yang melonggo.
‘Yolanda … aku melihatnya, kali ini aku tidak salah melihat’ Ia berdiri dari restoran dan berlari mencari keluar, Yolanda bersembunyi di balik gedung dan pergi meninggalkan Arsen dan Vani.
Bersambung
__ADS_1
Kakak yang baik yang cantik. Jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komen dan berikan hadiah agar authornya semakin semangat terimakasih