Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Nenekku Membohongiku


__ADS_3

Saat Arsen datang tiba-tiba suasana jadi hening. Marina gugup ia melihat Arsen dan Yolanda bergantian. Wanita tua itu tidak bisa mengelak lagi atas apa yang sudah ia lakukan selama ini. Ternyata selama ini Marina tahu kalau Yolanda masih hidup, tetapi ia menyembunyikan dari Arsen. Marina jugalah yang meminta Yolanda agar menjauhi Arsen.


“Biarkan Nenekmu yang menjelaskan.” Yolanda ingin pergi.


Tapi Arsen menahan tangannya. “Apa kamu akan selalu melarikan diri setiap ada masalah?”


“Lalu apa yang kamu harapkan,” balas Yolanda ikut marah.


“Jelaskan padaku semua yang terjadi dan jangan kabur lagi.”


Yolanda menepis tangan Arsen dengan raut yang jauh lebih marah. “Apa aku memintamu menjelaskan kenapa kamu merusak karierku?” balas Yolanda.


“Itu karena kamu  menghindariku Yolanda!” suara Arsen meninggi.


Erik, Krisna dan semua penghuni rumah ikut keluar ke depan rumah. Sementara Marina semakin panik melihat kemarahan Arsen, ia meremas jemari tangannya dengan tubuh gemetar.


“Itu karena Nenekmu yang memintaku menjauhimu selama ini. Apa kamu mengerti!” teriak Yolanda dengan pundah naik turun. Ia meluapkan semua kemarahannya pada Arsen dan neneknya. “Bukan hanya menjauhimu. Bahkan anak yang aku lahirkan mati dia tidak memperbolehkanku menjenguknya. Apakamu tau itu? Apa kamu tau, Ha! Jadi berhenti menyalahkanku!” Mata Yolanda berkaca-kaca.


“Apa …? Jadi selama ini Nenek tau kalau Yolanda masih hidup?” tubuh Arsen sampai bergetar. Ia sangat syok mendengar semua pengakuan Yolanda.


Selama ini  Marina tahu bagaimana ia mencari Yolanda seperti orang gila. Ternyata sang nenek tega membiarkannya menderita selama empat tahun. Arsen begitu terpukul sampai tidak bisa berkata-kata, ia hanya terdiam seperti patung.


“Kamu akan lebih kaget jika tahu semuanya,” gumam Yolanda lalu pergi.


“Yolanda! Tunggu!.” Arsen berlari dan menghalanginya.


“Arsen, kita tidak bisa bersama lagi, lupakan saja masa lalu.”


“Apa karena nenekku?”


“Nenekmu orang yang berjasa dalam hidupmu, tapi Papaku orang yang paling aku sayanggi.”


“Apa maksudnya.” Bola mata Arsen membesar dengan wajah menegang.


“Biar Nenekmu yang menceritakan semuanya.”


“Tu-tunggu jangan membuatku mati penasaran. Apa kematian Paman ada hubungan dengan Nenek?” Arsen sampai menahan napas menunggu jawaban dari. Yolanda tidak menjawab ia menghela napas, ia merasa matanya terasa panas ingin mengeluarkan air yang ia tahan dari tadi.


Untuk pertama kalinya Arsen melihat mata Yolanda berkaca-kaca, ia ingin menangis tapi menahan diri.


“Kita tidak bisa bersama lagi, Pak Arsen. Selamat tinggal.”

__ADS_1


‘Apa benar Nenek terlibat?’ Arsen membatin


Yolanda pergi, sementara Arsen mematung dengan tangan terkepal. Lalu menatap Marina dengan tatapan tajam. Semua orang sudah takut melihat Arsen, ia berjalan mendekati neneknya.


“Nek, apa yang dikatakan Yolan-”


 Bruak!’


Sebelum pertanyaan itu keluar, Marina jatuh pingsan dengan tangan memegang dada. Kehebohan terjadi, semua orang panik melihat nyonya besar itu  jatuh pingsan. Mereka sibuk mengantar Marina ke rumah sakit. Sementara Arsen naik ke kamarnya dan melemparkan semua barang-barang di dalam kamar.


“Apa sebenarnya yang terjadi?” Erik ingin masuk ke kamar Arsen, tapi dilarang sama Kris.


“Sebaiknya kita berikan dia waktu.”


Prang! Buak!


AAA! AAA!


Suara pecahan barang-barang dan teriakan kemarahan  di kamar Arsen menghentikan langkah Erik, “kamu benar sebaiknya kita duduk di luar saja.”


“Aku juga tidak tahu kalau Bu Marina tahu tentang Joan,” ujar Kris, bukan hanya Arsen yang kaget ia juga tidak mengetahuinya sama sekali.


“Kalau itu benar … Nenek sangat keterlaluan. Dia bisa melihat betapa menderitanya Arsen selama ini, tapi tidak mengakuinya,” ujar Erik.


Setelah lelah melampiaskan kemarahannya,  Arsen duduk di lantai. Lelaki berwajah tampan itu tidak habis pikir kenapa selama ini  Nenek yang ia percayai membohongi dirinya selama bertahun-tahun. Jelas-jelas Bu Marina mengetahui bagaimana perjuangannya mencari Yolanda. Ia bahkan hampir kehilangan nyawah . Arsen sampai rela bergabung dengan sebuah organisasi  di luar negeri demi mencari sang istri.  Hal itulah yang membuat Arsen nyaris mati, ia terluka bagian dalam. Hal itulah yang membuatnya harus rajin kontrol memeriksa bagian hati yang terluka. Kris dan Erik dua lelaki yang selalu setia mendapingi Arsen. Tetapi Marina tidak tahu betapa menderitanya Arsen.


“Apa dia minum lagi? Dia tidak boleh minum lagi, minggu kemarin dia sudah banyak minum kali ini tidak boleh.” Erik mendorong pintu dan melihat Arsen minum alhohol lagi. Erik mendekat dan merebut botol tersebut . “ Apa yang lu lakukan? Lo ingin mati?”


“Berikan padaku , Rik.”


“Dokter sudah mengingatkan bapak supaya jangan minum,” ujar Kris ikut mendukung Erik.


“Kalian berdua keluar. Berikan padaku!”


Erik menghela napas. “Sen, harusnya lu ke dokter hari ini


“Tidak perlu.”


“Dokter sudah  memperingatkanmu, supaya jangan minum alkohol terlalu banyak. Itu tidak baik untukmu. Lu mau hatimu rusak .”


“Kenapa Nenek membohongiku selama ini. Kenapa? Dia tau bagaimana kehidupanku selama ini.” Arsen merebut botol itu dari tangan Erik dan menegaknya kembali.

__ADS_1


Erik menyerah dan membiarkan Arsen melampiaskan kemarahannya dengan cara minum alkohol. Padahal itu sangat berbahaya untuknya, luka dalam yang dialami Arsen belum sepenuhnya sembuh.


“Dia pasti punya alasan yang kuat melakukan itu Sen, tolong berhenti minum sebelum lu mati.” ujar Erik menasihati.


“Biarkan saja. Jagan pedulikan gue,” jawab Arsen ketus.


Merasa nasihat dan peringatannya diabaikan Erik keluar ia meninggalkan Kris dan Arsen.


Di sisi lain.


Yolanda menyusun pakaiannya ke dalam tas, setelah mendapat sangsing skors ia berencana akan beperrgian ke sebuah tempat, tempat itu  membuat hatinyaa akan damai.


“Apa yang akan kamu Jo?” tanya Hugo.


“Bersenang-senang dan menikmati liburanku,” sahut Yolanda dengan wajah ceria.


“Tunggu … kamu tidak sedih?”


“Untuk apa sedih, nikmati saja. Itu artinya aku akan pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga.”


Mendengar kata pulang kampung wajah Hugo bersemangat, “Kapan kamu akan pergi?”


“Sekarang.”


“Malam ini? Kenapa tidak besok saja  Jo. Aku ingin titip sesuatu untuk Mitha.”


Yolanda membalikkan tubuhnya, lalu mendekat ke arah Hugo. “Apa kamu benar- benar jatuh cinta pada adikku?”


“Iya. Apa kamu mau mendukungku Jo?”


“Kalau memang jodoh, aku tidak akan melarang.”


Yolanda memberikan lampu hijau untuk rekan kerjanya. Sebenarnya  ia tahu kalau Hugo diam-diam menelepon Mitha di belakangnya, hanya saja pria bertubuh tinggi besar itu malu untuk jujur pada Yolanda. Mendengar hubungannya mereka direstui Hugo akan lebih semangat mendapatkan hati dr. Mitha.


“Tapi sebelum aku ke kampung aku akan menemui mereka. Pak Sopian memintaku datang  dia ingin menceritakan semuanya.”


“Aku iri, kamu bisa menemui mereka aku juga ingin bersenang-senang. Tapi Jo, Apa kamu sudah menceriatakan pada Arsen?”


“Belum. Aku menunggu waktu yang tepat,” ucap Yolanda lalu memasukkan beberapa mainan anak dalam kopernya.


Bersambung

__ADS_1


Kakak bantu like, komen dan berikan hadiah agar authornya semakin semangat terimakasih


__ADS_2