Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Diselidiki.


__ADS_3

Antara Arsen dan Yolanda sama-sama ingin menyelidiki satu sama lain. Yolanda juga mencurigai Arsen punya hubungan dengan pemilik perusahaan senjata pemusna massal yang sedang mereka selidiki.


“Minta Roki mengangkut barang-barangku ke apartemen,  saya yakin Arsen akan menyelidiki, dia sudah mulai mencurigaiku dan  itu tidak baik untuk kita,” ujar Yolanda.


“Kris, apa kamu pernah melihat Arsen bertemu dengan seseorang? Mungkin dari menteri pertahanan? Kalau ya kamu batuk dua, kalau tidak batuk sekali.” Kris hanya batuk sekali.


Yolanda terpaksa mengosongkan kamar itu lagi, semua barang-barang pribadi yang menyangkut pekerjaannya dipindahkan ke apartemen Yolanda. Ia tidak mau pekerjaannya sebagai mata-mata terbongkar oleh Arsen. Yolanda membuat satu keputusan yang besar demi menjaga kerahasian pekerjaannya. Setelah memindahkan semua barang-barang pribadinya ke apartemen ia memutuskan pindah ke kamar Arsen. Awalnya ia merasa tidak yakin kalau Arsen akan menginjinkannya pindah ke sana. Tapi  ia akan mencoba, Yolanda juga meminta ijin pada Marina untuk pindah ke kamar Arsen.


“Apa kamu yakin akan pindah ke kamar Arsen?” tanya Marina setelah ia mengosongkan kamar.


“Iya, saya berharap dia tidak marah dan bisa  menerima saya di sana.”


“Saya akan bicara dengannya nanti. Tapi saya yakin setelah kamu hamil anaknya dia telah berubah,” ujar Marina.


“Biarkan saya saja Bu yang bicara sendiri,” tolak Yolanda.


“Jo … cobalah untuk mengobrol santai dengan Arsen, jangan terlalu  tertutup padanya justru itu akan membuatnya semakin curiga,” usul Marina.


“Baik Bu, akan saya coba.”


“Untuk saat ini kalian pasangan suami istri, menghabiskan waktu dengan suamimu tidak masalah,” ucap Marina. Yolanda hanya mengangguk.


Setelah barang-barang Yolanda diamankan dan kamar itu dikunci. Yolanda menelepon Arsen menggunakan telepon rumah. Ia tidak mau menggunakan ponsel pribadinya, ia tidak mau Arsen meneleponnya ke ponsel miliknya.


“Halo!”


“Ini aku. Apa boleh jika aku saja yang pindah  ke kamarmu?”


‘Dia sangat pintar, dia tidak ingin aku menyelidiki barang-barang miliknya’ Arsen membatin.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Naik ke lantai tiga dengan keadan hamil membuatku cepat lelah,” ujar Yolanda, alasan yang sangat masuk akal.


“Oh, baiklah, tidak apa-apa.”Mendengar Yolanda pindah ke kamarnya Arsen meminta Krisna mengantarnya pulang memerintahkan  menambah kecepatan mobil.


Sebelum pindah ke kamar Arsen Yolanda merencanakan untuk menyelidiki Arsen. Saat membuka pintu kamar ia mengarahkan alat yang dipasang diponsel untuk melihat camera dikamar Arsen, dugaannya benar, ada beberapa camera tersembunyi yang dipasang Arsen di kamarnya. Yolanda menghubungi teamnya menjelaskan rencana.


“Apa kamu bisa menghentikannya?” tanya Yolanda pada Roki lelaki yang dijuki manusia computer itu bisa melakukan apa saja termasuk menghentikan waktu merekam di kamera pengawas di kamar Arsen hanya mengetahui seri benda tersebut ia bisa mengotak -atiknya, ia masih  mengarahkan ponsel itu ke Camera pengawas milik Arsen.


“Bisa Dan.”


“Ok lakukan.”


Dalam hitungan  hanya lima menit Yolanda  mampu membuka brankas penyimpanan milik Arsen, lalu ia memfoto dengan camera ponsel, ia berlomba dengan waktu. Saat bunyi alaram waktu berhenti Yolanda  sudah selesai, saat camera pengawas itu mulai  merekam Yolanda pura-pura buka pintu dan bersikap seolah baru datang ke kamar tersebut. Jika Arsen  melihat isi rekamannya, maka itulah yang tersimpan. Sekitar tiga puluh menit kemudian  mobil Arsen tiba.


Saat mobil itu berhenti ia langsung buru-buru turun berjalan menuju kamarnya.


“Baik.” Yolanda menyembunyikan alat komunikasi dengan rambut. Ia pura-pura membongkar isi  koper dan mengeluarkan barang-barannya.


Arsen membuka pintu, untuk sesaat ia diam dan melihat sekitar kamar, ia takut Yolanda menyelidikinya juga.


                                 *


“Dimana aku bisa menyimpan barang-barangku?” tanya Yolanda , saat Arsen sudah duduk tenang.


“Disusun saja dilemariku, biar aku membantumu.”Arsen menyusun pakaian milik Yolanda di lemari pakaiannya juga. Sesuatu hal yang sangat langka. Padahal biasanya ia paling tidak suka ada orang asing ada di kamarnya apalagi menyentuh barang-barang pribadinya. Yolanda masih mengingat dengan jelas saat pertama kali Yolanda masuk ke kamarnya. Saat itu niatnya hanya ingin memilih kemeja untuk ia pakai, tapi  Arsen mencekiknya nyaris mati. Sikap lembut yang diperlihatkan Arsen membuat Yolanda semakin hati-hati. Bagaimana tidak? Lelaki itu biasanya selalu bersikap kasar dan tiba-tiba jadi baik dan perhatian, layaknya suami siaga.


“Apa pekerjaanmu di kantor sudah selesai?” tanya Yolanda, ia melakukan apa yang dikatakan Marina agar ia mengajak Arsen mengobrol santai.

__ADS_1


“Tidak, aku meninggalkan rapat,” ucapnya jujur.


“Kenapa?” tanya Yolanda, ia megangkat pakaian bagian atasnya melihat luka dipinggangnya di depan kaca, ia ingin menganti perban. Yolanda bahkan tidak sungkan lagi memperlihatkan  perut yang mulai bucit pada Arsen, karena malam itu ia sudah melihat semuanya.


“Aku ingin merawatmu,”ujar Arsen wajahnya terlihat sangat  khawatir melihat luka di tubuh Yolanda, ia bahkan tidak tahu apa penyebab istri terluka.


“Biar aku melakukannyaa duduklah di sini.” Ia menarik kursi meminta Yolanda duduk di sana, ia jongkok dan menganti perban dengan yang baru.


“Terimakasih karena kamu tidak memberitahukannya sama nenekmu,” ujar Yolanda, tapi Arsen diam. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi Yolanda bisa melihat ada kemarahan di matanya hanya saja tidak menunjukkan padanya.


“Lukamu akan lama sembuh jika kamu tidak ke dokter dan tidak minum obat,” ujar Arsen.


‘Itu hanya luka kecil Pak Arsen, aku sudah mengalami luka yang lebih parah dari sini’ Yolanda membatin.


Yolanda sudah beberapa kali hampir mati, jadi luka seperti itu sudah hal biasa baginya. Hanya saja saat ini ia sedang hamil makanya ia sedikit khawatir, ia juga tidak mau minum obat sembarangan karena kehamilannya. Marina juga tidak tahu kalau ia sedang terluka, kalau sampai tahu wanita itu pasti akan marah-marah pada Sopian.


“Apa kamu punya musuh?” tanya Arsen.


“Setiap orang pasti punya seorang yang tidak menyukai kita.”


“Aku penasaran musuh seperti apa yang  tega melukai seorang wanita apa lagi sedang hamil.”


“Mereka hanya perampok brandalan  dan tidak tahu aku hamil,” tutur Yolanda, ia berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain.


“Luka ini akan susah untuk sembuh, percaya padaku,” ujar Arsen ia membuang  perban  bekas ke dalam keranjang sampah.


“Aku takut minum obat karena hamil, tidak apa-apa hanya sedikit berdenyut di bagian jahitannya.”


“Ini luka yang ke berapa? Aku baru ingat malam itu juga kamu terluka di lengan.” Arsen menatap wajah Yolanda.

__ADS_1


Melihat luka di pinggang dan di lengan Yolanda, Arsen baru ingat malam itu saat malam pertama mereka ia juga mengingat kalau Yolanda terluka lengan, ia melihat bekas luka itu masih meninggalkan bekas.


Bersambung


__ADS_2