
Didepam kedutaan sudah ada banyak anggota polisi anti teror dibantu tentara.
“Dan, Kopasus dan tentara sudah ada dibawah. Apaka kita mundur?”
“Tidak, misi kita selanjut mengamankan data dari sana dan menyelamatkan Pak Arsen,”ucap Yolanda.
“Baik Dan.”
Kepala polisi mencoba bernegosiasi dengan ******* untuk melepaskan para sandera melalui pengeras suara. Mereka memberikan penawaran supaya tidak ada warga sipil yang jadi kroban. Namun, saat bernegosiasi penjahat mengatakan akan melepaskan semua tawanan asalkan 03 diserahkan pada mereka. Sopian dan Marina yang mengetahui permintaan para ******* sangat kaget.
“Siapa O3?” tanya Arsen berbisik.
“Saya tidak tahu Pak,” jawab pria di samping.
Organisasi Yolanda tidak pernah mau berkompromi dengan lawan , apalagi *******. Saat mendengar permintaan konyol itu ia meminta anak buahnya mengawalnya turun.
“Amankan area! Berikan senjataku!” ucap Yolanda dengan marah.
Pasukan kusus yang terlatih itu berjalan dengan langkah tegas dengan menenteng senapan laras panjang, ia mencari posisi yang pas untuk membidik musuh.
“Aman Dan!” lapor salah seorang anggota.
“Aman!”
Mengamati situasi sekitar Yolanda ia mengambil posisi, setelah mengarahkan teropong senjata, akhirnya mendapatkan posisi sandera dan musuh. Tepatnya di lantai tiga ia mengejutkan mereka semua dengan menembak kaca.
Dor!
“Saya menemukan posisinya. Lantai tiga gedung bagian barat,” lapor Yolanda.
Mendengar posisi musuh, mereka semua bergerak
“Ada penembak jitu!” teriak salah seorang penjahat dan berlindung di balik tembok.
__ADS_1
Arsen dan yang lainya kaget, salah seorang ******* yang mengarahkan senjatanya pada seorang sandera tiba-tiba tumbang dadanya ditembus peluru. Tidak ada komproni pada penjahat itulah prinsip ala Yolanda. Para ******* berhamburan berlindung menghindari kaca, salah seorang dari mereka menarik sandera menjadikannya sebagai taming untuk berlindung. Tapi Yolanda bisa membidik tepat di kepala.
Dor!
Lelaki yang menggunakan penutup kepala itu tumbang bersimbah darah, musuh tidak berani bergerak mereka hanya diam berlindung dibalik tembok.
“Bravo Dan,” ujar Kris tersenyum bangga, ia tahu kalau itu bidikan Yolanda, hanya wanita pemberani itu yang mampu membidik dengan posisi sesulit itu. Yolanda pernah dinobatkan sebagai sniper wanita terbaik dari Asia karena keahliannya dalam membidik tepat sasaran bahkan dari radius jauh.
Di ruang VIP ada puluhan yang ditawan salah satunya Arsen . Setelah Yolanda mendapatkan posisi para sandera pasukanya bergerak lebih cepat dengan menjebol plafon ke delapan pasukan khusus yang sudah terlatih itu, berusaha menyelamatkan puluhan sandera. Yolanda yang berada di gedung di sebelahnya melindungi anggotanga saat turun. Orang-orang Yolanda berhasil masuk. Para ******* melarikan diri ke lantai bawah saat melihat pasukan itu datang.
“Pak Arsen, Bapak harus tetap menunduk, jangan sampai mereka mengetahui tentang dirimu,” ucap Krisna melindungi Arsen.
“Kris, siapa mereka, logo pakaiannya berbeda?” tanya Arsen
“Mereka para tentara khusu Pak.”
Dalam situasi genting, salah satu sandera wanita hamil mengalami kotraksi.
“Wanita itu sepertinya mengalami kontraksi.” Arsen menunjuk seorang wanita hamil yang meringis memegangi bagian perut, melihat hal itu tiba-tiba ia membayangkan kalau itu Yolanda. Kris menghampiri wanita tersebut.
“ Bertahanlah, team penyelamat sudah datang,” ujar Krisna. Ia memberi kode pada team .
“Komandan ada di sana? Apa semua baik-baik saja?” tanya Krisna dengan panik.
“Saya baik hanya lenganku sedikit tergores pecahan kaca, tetapi tidak apa-apa”
“Target dilumpuhkan , tawanan selamat tetapi ada dua orang yang terluka,” lapor Krisna.
“Selesaikan dengan baik,” pinta Yolanda,
“Dan Pak Arsen ada bersamaku dia baik-baik saja, tapi seorang wanita ingin melahirkan. Apa bisa datang ke sini?”
Yolanda juga tentara bagian medis, jadi saat ada yang ingin melahirkan Krisna memintanya datang
“Baiklah saya akan datang,”
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Yolanda datang dari gedung sebelah menuju gedung kedutaan menggunakan helikopter. Melihat Yolanda datang, Krisna dan rekannya yang lain berdiri
“Sepertinya mereka masih ada, sebab Lift tidak berpungsi,” lapor anak buah Yolanda
“Baiklah tetap waspada,” ujar Yolanda dengan tegas.
“Sepertinya wanita itu ingin melahirkan.” Krisna menunjuk seorang wanita hamil yang mengalami kontraksi.
Yolanda mendekat.
“Apa sudah bulannya untuk melahirkan?” Ia bertanya pada wanita hamil tersebut
Mata semua tertuju padanya saat mendengar pasukan khusus itu ada seorang wanita yang di panggil komandan.
“Apa dia seorang wanita?” tanya seorang lelaki di samping Arsen. Tetapi mata Arsen melolot tidak percaya saat mendengar suara itu Yolanda memasukkan rambut pirangnya pakaian.
‘Apa dia … ? tidak mungkin’ ucap Arsen menggeleng.
“Tadi aku menelepon Yolanda di rumah. Tidak mungkin … Tidak mungkin,” ucap Arsen menampik pikiranya sendiri.
“Ada apa Pak?”
“ Tidak ada, hanya igat seseorang,” ucap Arsen.
“Aku mau dokter aku tidak mau di pegang lelaki lain,” ujar wanita hamil itu dengan tangisan.
“Ibu … Komandan saya seorang perempuan dia akan membantu nyawa ibu dan anak Ibu,” ucap 09
Suami wanita itu menatap Yolanda dengan tatapan memohon, ia sangat takut melihat istrinya kesakitan. Sebenarnya Yolanda tidak ingin memperlihatkan jati dirinya pada suaminya dalam keadaan seperti ini. Tetapi sekali lagi ia seorang yang profesional yang melakukan apapun demi pekerjaan apalagi menyelamatkan nyawa orang lain. Ia membuka helem dan penutup wajahnya.
Arsen hampir kaget ia ingin muntah karena panik melihat istrinya di sana.
“A-APA?”
Wajah Arsen menjadi pucat, ketika mengetahui kalau komandan pasukan peyelamat itu adalah Yolanda wanita yang sedang mengandung anaknya.
__ADS_1
Bersambung
Bantu like, komen dan berikan hadiah agar author semakin semangat terimakasih