
Yolanda masih di kamar Arsen duduk tepat di pangkua suaminya, tapi anehnya otaknya sepertinya menghianatinya, saat berada di ruangan Arsen otaknya seolah-olah mogok untuk berpikir, akhirnya lupa apa yang ingin ia bicarakan dengan Arsen. Sementara Arsen semakin mengerjai, tangannya liar bergerilya ke sana-kemari. Yolanda hanya bisa menegakkan tubuhnya menahan serangan tangan nakal sang sauami.
“Sayang, baumu sangat harum. Cepat katakan kamu bicara apa denganku.” Arsen mengarahkan bibirnya ke bagian belakang leher Yolanda. Sentuhan sesitip itu sukses membuat yolanda mebusungkan dadanya menahan gejolak yang sudah mulai datang . disentuh dan dikecup di setiap titik tertentu membuat Yolanda tidak bisa meyangkal keinginan tubuhnya.
“Serius Pi, lupa.” Yolanda mencoba menegaskan pada suaminya kalau otaknya tidak berkerja saat itu.
“Baiklah, biar aku bantu mengingat tujuanmu datang.” Arsen melepaskan kacing baju tidur Yolanda.
“Bu-bukan itu!” pekik Yolanda setengah histeris. Ia masih mencoba mempertahankan pakaiannya supaya jangan dibuka .
Melihat reaksi panik Yolanda membuat Arsen semakin bersemangat mengerjai istrinya. Lelaki tampan itu semakin memeluknya dengan erat sesekali mengigit daun telinganya memberinya sentuhan yang mampu membangkitkan hasrat.
“Sayang, ini salah satu cara paling ampuh untuk menjernihkan otak,” ujar Arsen.
“Tujuanku bukan untuk itu Pi.” Yolanda masih meyakinkan sang suami.
“Ok, bukan tujuanmu tapi tujuanku. Nathan juga sepertinya harus punya adik.”
‘Hamil?’
Dug!
Yolanda ingin bangun tapi di tahan lagi sama Arsen. “Menolak melayani suami berdosa loh, sayang.”
“Tapi masa di sini … ini mengingatkanku saat kamu melakukannya pertama kali,” ujar Yolanda.
Ingatan keduanya melintas saat malam pertama mereka empat tahun yang lalu juga di lakukan di ruang kerja Arsen tepatnya di atas meja. Saat itu Arsen mabuk dan dilanda api cemburu.
“Bedanya sekarang aku tidak mabuk.”Asen masih belum menyarah ia melanjutkan aksinya melepaskan kancing piyama tidur Yolanda satu persatu.
“Ba-bagaimana kalau Nathan terbangun dan datang ke sini.” Yolanda masih mencari alasan.
“jam segini dia sudah terlelap. Kalau dia bangun ada susternya yang akan menangganinya,” ujar Arsen.
“Ba-bagaimana dengan pintu?” Yolanda masih gugup ia seperti tikus yang terjebak dalam cekraman kucing masih mencoba merayu bersikap manis lalu ingin kabur.
Tapi Arsen terlalu pintar mengetahui niat penolakan istrinya, ini bukan pertama kalinya ia menolak melakukan kewajibannya sebagai istri. Sudah berkali-kali ditolak dengan berbagai alasan. Kali ini Arsen tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
“Mi, pintu ruang kerjaku bisa dikunci dan dibuka otomatis dari sini, jangan khawatir,” ujar Arsen menunjukkan tombol disudut mejanya.
__ADS_1
‘Oh, sial tadi aku mau bicara apa tadi’Yolanda masih berusaha menolak
“Kita akan melakukannya dengan cepat dan tidak akan menyakitimu,” bujuk Arsen. Tubuh Yolanda yang sedari tadi menengang perlahan mengendur. “Apa kamu masih takut melakukannya?” tanya Arsen.
“Beberapa kali melakukannya membuatku kesakitan.”
“Tidak akan, saat di apartemen itu karena kita melakukannya dengan buru-buru. Kali ini kita akan melakukannya dengan rileks,” bujuk Arsen.
Gombalan maut Arsen ternyata mampu meluluhkan tembok penolakan Yolanda, ia menarik napas panjang dan berkata, ”baiklah,” ucapnya pelan sembari menunduk malu. Melihat pipi istrinya merah membuat Arsen merasa lucu dan gemas. Padahal mereka sudah pasangan suami istri tapi Yolanda masih saja malu padanya.
“Kalau kamu malu, aku punya cara,” ujar Arsen.
Ia meminta Yolanda duduk dipangkuannya dan membelakanginya, Arsen melakukan dengan lembut dan berharap Yolanda tidak malu saat melihat wajahnya. Awalnya tubuh Yolanda tegang dan membiarkan Arsen bekerja sendirian. Tapi lama-alam tubuh Yolana berreaksi ia membalikkan badannya dan meraih leher sang suami. Gayumg tersambut Arsen tersenyum manis saat istri cantiknya mengercap bibirnya. Awalnya malu-malu kemudian ketagihan dan mau diajak melakukan beberapa gaya.
“Aku sangat mencintaimu, sayang,” ucap Arsen ia masih memangku tubuh Yolanda.
Tiba-tibaada suara bocil di depan pintu.
“Mami!”
Sontak mata keduanya sama-sama membulat Yolanda melompat turun dari pangkuan Arsen meraih tissu keduanya buru-buru mengenakan pakaian.
“I-iya sayang, tunggu!”
Buuuk!
Arsen tersandung kaki meja saat berusaha memakai celananya dalam tempo beberapa detik keduanya sudah mengenakan pakaian kembali.
“Papi Aku mau masuk! Buka!”
Buk! Buk
Nathan menendang-nendang pintu .
Arsen buru-buru berlari ke pintu dan membuka pintu.
“Hai jagoan! Belum tidur?”
“Aku tidak bisa tidur ada gluduk. Aku datang ke kamar Papi Mami gak ada,” ucapnya menatap wajah Maminya dan berganti ke Arsen. Seakan-akan ia ingin bertanya kedua orang tuanya sedang melakukan apa di kamar dengan mengunci pintu dengan wajah berkeringat
__ADS_1
“Mami sama Papi lagi apa?” tanya Nathan melihat Yolanda mengusap keringat.
“Ma-mai olah raga sayang,” sahut Yolanda terga-gap
Mereka berdua seperti maling yang tertangkap basa. Arsen menahan senyum saat menyadari ternyata piyama tidur istrinya terbalik.
“Apa?” tanya Yolanda saat Arsen tersenyum padanya.
“Kamu cantik walau dengan pakaian terbalik,” bisik Arsen lalu tersenyum nakal dan berjalan mengendong Nathan.
“Dasar penghianat … itu semua gara-gara kamu. Sekarang kamu menertawakan pakaianku!” balas Yolanda .
Mendengar kata penghianat Arsen tertawa ngakak, ia terus berjalan menuju kamar Nathan, sementara Yolanda masuk ke kamar mereka. Hal pertama yang ia lakukan membersihkan tubuhnya yang lengket dan berganti pakaian. Sebab pakaian yang ia kenakan sudah berbau keringat.
Saat ia berganti pakaian Arsen datang mengendong Nathan juga.
“Loh, kenapa tidak tidur di kamarnya?” tanya Yolanda setengah berbisik , karena mata bocah tampan itu sudah setengah meredup.
“Aku di sini saja Mi, nanti mami sama Papi pergi lagi,” ucapnya setengah mengantuk
“Katanya mau adik baru, kalau kamu di sini terus bagaimana Mami sama Papi bikin dedek,” ucap Arsen.
Bola mata Yolanda membesar menatap Arsen. “Jangan katakan seperti itu nanti dikasih tau sama Mama dan Hugo,” ujar Yolanda berbisik sembari membekap bibir lancip suaminya.
Arsen hanya bisa menahan tawa menyadari kelancangan bibirnya.
“Adik? Mami mau punya dedek?” Tiba-tiba Nathan bangun dan duduk. “Ayo, Mami sama Papi bikin dedek sekarang saja.”
“Tuh kan … papi gimana sih,” rengek Yolanda, ia sudah tau Nathan pasti akan membocorkan pembicaraaan mereka pada keluarganya.
Mendengar hal itu, Arsen tertawa terbahak-bahak sambil menengelamkan wajahnya di atas kasur.
Yolanda dan Arsen mencoba menjelaskan secara sederhana dan mudah dipahami anak-anak seumuran Nathan. Agar ia cepat tidur Arsen membcakan dogeng kesukaannya. Setelah beberapa menit kemudian bocah tampan itu tidur juga.
“Aku juga capek mau tidur,” ucap Arsen meletakkan buku diatas nakas dan memeluk putranya yang ditidur ditengah.
“Aku berharap bibir comel ini tidak akan mengatakan apa-apa pada Mama tante-tantenya, aku malu diledekkin sama mereka,” ucap Yolana mengecup kening putranya dan ikut tidur.
Bersambung
__ADS_1
Bantu like, vote ya