
Arsen belum bisa menemukan jawaban kenapa sang nenek menikahkannya dengan Yolanda.
‘Kenapa? Apa hebatnya wanita itu? Joy jauh lebih cantik dengannya’ ia duduk termenung di ruang kerjanya. Setelah melakukan kekerasan pada Yolanda pagi itu, sebenarnya ia juga merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosi. Arsen sengaja pulang dari kantor lebih awal. Tiba di rumah ia langsung menemui nenek di kamar, mengetuk pintu ruang kerja sang nenek
Tok-tok!
“Masuk.” Wanita itu meletakkan berkas yang ia baca dan menoleh ke pintu.
“Nek, kita perlu bicara.”
“Apa orang kantoran sudah pulang jam segini? Tapi baiklah, katakan ada apa?” Nyonya Marina menatap dalam pada lelaki tampan berpostur tinggi itu.
“Aku butu waktu Nek, tadinya aku pikir aku bisa bersikap baik-baik saja dan bisa menerimanya. Nenek melanggar kesepatan, aku setuju menikah agar para dewan di perusahaan tidak menekan Nenek. Tapi aku tidak pernah meminta untuk satu kamar dengan wanita kampung itu. Aku punya penilain untuk wanita yang akan aku tiduri,” ujar Arsen dengan sombong.
“Arsen, dia istrimu loh saat ini.”
"Okay, she is my wife, but, biarkan aku mengenalnya."
“Kamu tidak perlu mengenalnya, yang kamu butuhkan saat ini hanya anak,”ujar Marina.
“Nek, siapa dia? Tinggal dimana? Namanya siapa? Aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya tau dia seorang pembantu dirumah kita dan Nenek memaksaku menikah dengannya.”
“Namanya Aslinya Yolanda Gresia Naiboho, dia Batak sama seperti kamu, itu tujuanku menikahkan kamu dengannya,” tutur sang Nenek.
“Ok, banyak wanita cantik di dunia ini. Kenapa harus pembantu? Itu yang aku tidak mengerti.”
‘Andai kamu tahu pekerjaan sebenarnya … kamu akan kaget’ ucap Marina dalam hati.
__ADS_1
“Kamu tidak berubah Nak. Kamu masih saja bersikap sombong. Asisten rumah tangga juga pekerjaan halal, baiklah aku akan memindahkan dia dari kamarmu kalau kamu memang membutuhkanya. Berapa lama? Sebulan dua bulan atau-”
“Nek, aku ini bukan robot wajar bagiku untuk membutuhkan waktu untuk menerima wanita itu jadi istriku. Wajar hatiku tidak terima …. Dia seorang pembantu yang nenek nikahkan denganku,” ujar Arsen dengan volume suara yang meninggi
“Arsen, keluarga kita ingin kamu punya anak dan hanya dia yang bisa melakukannya. Ingat sudah berapa kali kamu menikah dan sudah berapa kali wanita gonta-ganti kamu tidurin. Namun tidak ada satupun yang berhasil melahirkan anak, kan?”
“Lalu apa nenek pkir pembantu itu bisa melahirkan anakku?” tanya Arsen tertawa mendengus.
“Iya nenek percaya, saya sudah menyelidikinya, dia sama seperti kita, Aku juga tidak akan memilih wanita sembarangan. ”
“Sekarang urus perusahaan dengan baik , itu akan jadi tanggung jawabmu. Setelah para pemegang saham tahu kamu sudah menikah, mereka setuju perusahaan untuk kamu pegang,” ujar wanita tua itu lagi.
“Baiklah.” Arsen bergegas.
Ia kembali ke kantor apa yang dikatakan Nyonya Marina membuat berpikir keras.
*
Di sisi lain Yolanda, akhirnya punya kamar sendiri setelah Arsen memintanya waktu untuk tinggal satu kamar dengannya . Marina memberikannya sebuah kamar yang super luas di lantai tiga, terpisah dari kamar keluarga yang lain. sebuah kamar yang memiliki balkon sendiri menghadap ke arah pantai.
“Wah, ini sangat cocok untukku, aku bisa bekerja dengan leluasa tanpa harus ada orang lain yang akan melihat. Aku berharap acara cetak anak yang di rencanakan Bu Marina ditunda agar aku bisa menyelesaikan satu misi dulu,” ujar Yolanda, sembari melipat tangan didepan dada. Barang-barang miliknya suda di tata rapi. Sejak kamar mereka dipindahkan Yolanda lebih fokus melakukan pekerjaannya, ia tidak harus bertemu dengan Arsen dan keluarga yang lain. Setelah mereka semua pergi barulah wanita bertubuh tinggi itu keluar dari sarang.
Besok paginya saat semua orang serapan bersam Yolanda tidak ikut.
“Apa Yolanda masih tidur, Bi?”
“Tidak Nyonya, dia bangun selalu pagi. Mungkin lagi olah raga,” sahut Bu Mina.
__ADS_1
“Oh baiklah, nanti siapkan serapan sehat untuknya. Oh, ingatkan dia jangan banyak minum kopi hitam, itu akan membuat rahimnnya tidak subur,” ujar Marina.
Pagi itu Yolanda membawa anjing besar itu untuk lari pagi.
Profesinya sebagai seorang tentara menuntutnya harus tetap menjaga ketahanan tubuhnya. Setelah lari pagi keliling komplek dengan dogy besar itu, tubuhnya bermandikan keringat. Setelah hampir tiga puluh menit berlari ia kembali dan duduk di halaman depan sembari bercekrama dengan dogy peliharaan Marina.
Saat Yolanda melihat Arsen keluar ia memilih menghindar, ia tidak ingin mendengar kata-kata penghinaan darinya. Arsen juga masih bersikap acuh. Umur Arsen lebih mudah dari Yolanda, tetapi ia memiki sikap sombong dan arogan, tetapi untuk ketampanan ia lelaki idaman semua wanita. Tubuhnya tinggi khas orang Barat, blasteran Jerman dan Batak. Hidung mancung dan memiliki mata hazel.
Yolanda tidak mendengar saat Arsen memanggilnya karena heardset menutup daun teliganya. Ia berjalan santai menuju kamar. Ia akan serapan pagi saat lelaki arogan itu sudah berangkat ke kantor. Arsen menuruti semua kemauan sang nenek termasuk dalam hal mengurus perusaan besar milik keluarganya.
“Apa semua baik-baik saja?” Erik menepuk pundak saudaranya.
“Eh, Rik kapan datang,” sapa Arsen.
“Tadi malam. Apa yang aku dengar itu benar?” tanya adik sepupunya.
“Apa ?’ tanya Arsen dengan tatapan acuh.
“Apa kamu sudah menikah?”
“Tanya nenekmu apa tujuannya,” ujar Arsen, mendengus kesal setiap kali ada orang yang menyinggung pernikahannya.
“Wooo. Apa ada denganmu Bro biasanya selalu menolak apa yang tidak kamu sukai, terus kenapa sekarang menurut begitu saja saat diminta menikah,” ledek sang sepupu.
Bersambung
Jangan lupa berikan dukungan kalian ya Kakak, like, komen
__ADS_1