Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Dijodohkan dengan Adik Ipar.


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, setelah mengetahui kalau Vania bukan Yolanda Arsen tidak pernah lagi datang ke markas tentara,  jika ada masalah dalam  senjata  buatannya ia meminta Kris dan Lau Chan yang datang ke markas militer tersebut. Pagi itu Arsen  baru saja selesai  berenang ia duduk bersantai di kursi di dekat kolam renang masih menggunakan handuk model badrobes, tiba-tiba Vania datang. Melihat wanita itu terkadang ada rindu yang terasa terobati. Sudah berbulan-bulan sejak kejadian di apartemen itu dan kini mereka bertemu kembali dengan sang adik ipar.


“Pak Arsen ada Vania ingin bertemu dengan bapak,” ujar Kris, mereka  berdua sama-sama menatap wanita  berseragam tentara itu.


“Selamat pagi Pak Arsen,  saya diminta Pak Sunu untuk menemui bapak secara langsung,” ujar Vania dengan wajah tenang dan sopan. Kejadia satu bulan lalu diapartemen itu sudah ia lupakan dengan mudah.


“Unuj apa?” tanya Arsen, ia terlihat sangat acuh dan dingin.


“Pak Sunu ingin menambah jumlah pesanan tipe Bren, Senjata Mesin Ringan (SMR),” jelas Vania ia mengeluarkan catatan kecil dari tas rangsel.


“Bicarakan saja sama Krisna,” ujar Arsen, ia berdiri bahkan tidak mau menatap wajah sang adik ipar.


“Pak Sunu punya permintaan untuk warna senapan yang akan kami gunakan,” ujar Vania lagi.


“Apapun itu katakan pada Krisna.”


Arsen berdiri dan meninggalkan mereka di sana. Vania  mengedutkan kening atas sikap abang iparnya. Krisna  dengan  sopan meminta gadis untuk bicara di taman depan. Melihat wajah Vania, lagi-lagi Krisna menatap dengan dalam, melihat Vania sama  bisa mengobati rindu dengan mantan komandannya.


“Kalian sungguh sangat mirip,” ujar Krisna disela perbincangan mereka.


“Apa Bapak juga mengenalnya?” tanya Vania.


“Dari semua orang yang pernah mengenalnya mungkin aku yang paling tahu tentang dia,” tutur Kris menghela napas panjang, “aku sangat merindukannya dan aku memikul rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya dengan putranya.”


Mendengar itu Vania tertegun, ia sangat sedih  anak Yolanda sudah meninggal. Kris akhirnya menjelaskan pekerjaan mereka sebagai agent mata-mata dan menjelaskan bagaimana putranya meninggal.


“Aku berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi,” ujar Vania mengulurkan tangan.


“Apa aku boleh minta nomormu?” Kris memberanikan diri, ini pertama kalinya lelaki itu meminta nomor seorang wanita. Ia bahkan sudah menduga kalau Vania akan menolak permintaanya.


“Boleh.” Ia menyodorkan ponsel dan menyebutkan nomor pada Kris.


Lelaki berambut cepak itu kaget saat Vania bersedia bertukar nomor dengannya. Setelah menyelesaikan pembahasan tentang perkerjaan Vania pulang ke markas, sementara Kris menemui Marina. Rupanya wanita itulah yang meminta Kris meminta nomor Vania, ia ingin  berencana menjodohkan Arsen dengan adik iparnya.

__ADS_1


*


“Sen, ini Nenek lakukan  demi keluarga kita,” ujar Marina.


“Nek, jangan lakukan apapun dengan hidupku lagi,” ujar Arsen marah.


“Hidupmu tidak sepenuhnya milikmu sendiri Arsen, tapi milik keluarga besar kita. Harus menikah dan punya anak untuk meneruskan silsila keluarga kita.”


“Apa Nenek ingin mengulang cerita kelam kambali? Wanita itu seorang tentara dia  kopassus Nek. Pasukan paling depan saat berperang dan aku tidak ingin mengulang kejadian seperti di masa lalu.”


“Sen, pikirkan lagi, kalau Yolanda bisa memberikanmu anak. Nenek yakin adiknya juga bisa,” ujar Nenek.


“Dia adik iparku Nek,” tolak Arsen.


“Pernikahanmu dengan Yolanda tidak ada yang tahu, aku pikir tidak masalah,” ujar Marina terdengar sangat egois.


“Aku sudah memberitahukannya kalau aku sudah menikah dengan kakaknya.”


“Apa? Kenapa kamu lakukan itu?” protes Marina.


Mendengar kata salah paham Marina dan Kris saling melihat, mereka berdua tidak tahu kalau Arsen hampir memperkoas adik iparnya karena ia pikir Yolanda.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Marina.


“Tidak, tadinya aku pikir dia Yolanda jadi aku mengejar dan mengikutinya seperti orang gila, aku tidak ingin dia salah paham.”


“Tidak apa-apa, toh, juga Yolada sudah meninggal.”


“Nek! Hentikan aku tidak ingin dijodohkan  dengan siapapun,” tegas Arsen ia meninggalkan rumah. Disusul Kris dan bodyguardnya dari belakang.


Dalam mobil wajah Arsen benar-benar kusut hanya diam melihat ke luar jendela. Kris tidak berani  mengatakan sepatah katapun. Ia merasa kasiha pada Arsen karena berpikir Yolanda masih hidup, ia mencari informasi tentang Yolanda selama bertahun-tahun, ia  pernah mendengar Yolanda bergabung dengan tentara elite Amerika Napi Hill, Arsen berjuang mati-matian untuk bisa masuk ke sana dan mencari informasi tentang anggota mereka bernama Yolanda , tapi hasilnya nihil. Bertemu dengan Vania tadinya membuatnya sangat bersemangat ia berpikir kalau Vania adalah Yolanda. Tetapi sekali lagi ia harus menahan kekecewaan karena Vania bukan Yolanda.


“Pak kita kemana?” tanya Kris.

__ADS_1


“Kita ke kantor saja.”


“Tapi Pak Sunu mengundang kita ke markas dalam acara memperkenalkan senapan baru. Ada latihan gabungan dari beberapa negara.”


“Baiklah kita ke sana.”


“Bu Marina memintaku memberikan nomormu pada Vania. Apa aku boleh melakukannya?”


“Tidak usah,” tolak Arsen.


“Pak saya pikir tidak ada salahnya mungkin-”


“Saya tidak menyukainya Kris, jangan ikut-ikutan seperti Nenekku,” ujar Arsen kesal.


Mendengar itu Krisna dan Leu Chan hanya bisa diam. Mereka tiba di markan militer untuk melihat pasukan elite itu latihan. Sebenarnya Arsen tidak suka melihat para tentara setelah kejadian saat Yolanda ikut bertempur saat hamil empat tahun yang lalu. Arsen hanya diam dengan wajah datar, saat ia menolah ke samping sekelompok pasukan kopassus wanita menunjukkan kemampuan perang mereka dengan berbagai antraksi salah satunya mematahkan balok bata dengan kekuatan tangan dan mematahkan batang besi dengan kekuatan satu jari. Arsen hanya diam tidak bersemangat, bahkan saat devisi Vania unjuk kebolehan Arsen juga tidak begitu memperdulikan adik ipar yang sedang tampi di depan mata. Tidak lama kemudian tampil pasukan elite yang terahir, pasukan yang mendapat julukan pasukan hantu itu tampil dengan kostum serba hitam dan tertutup, salah seorang dari mereka memamerkan cara menngunaka senjata bertenolohgi cangih itu di depan para petinggi militer. Saat orang tersebut menggunakan senjata buatannya mata Arsen kembali melotot, lagi-lagi orang yang ia lihat mirip seperti Yolanda.


‘Yolanda? Apa itu dia? Otakku sudah rusak’ ucap Arsen sembari memijit kening.


“Apa ada masalah Pak?” tanya Kris saat melihatw ajah Arsen tiba-tiba pucat.


“Aku merasa tidak enak badan, mari kita pulang.”


“Tunggulah sebentar lagi, acara pelatikan paspampers habis ini,” ujar Sunu.


“Tidak usah, kepalaku ingin meledak,” keluh Arsen.


“Apa kamu tidak ingin melihat mereka?” tanya Sunu tatapannya penuh makna.


“Tidak, mungkin lain kali saja.”


Arsen dan Kris ingin keluar, tepat di sebelah mereka sedang melakukan pelantikan para pasukan pengawal presiden. Arsen tidak melihat padahal salah satunya adalah Yolanda.


Bersambung

__ADS_1


Bantu berikan like, komentar dan hadiah ya Kakak agar viwersnya naik


__ADS_2