
Ahirnya tiba pergantian shift, Yolanda masuk ke ruang loker dan berganti pakaian.
Saat ia keluar Hugo menghampiri lalu menatap wajah Yolanda. “Apa semua baik-baik saja, setelah melihat dia, wajah kamu langsung berubah.”
“Tadinya aku pikir aku bisa mengatasinya ternyata aku lemah,” ujar Yolanda
“Hal yang wajar Jo, dia suamimu ayah dari anakmu,” tutur Hogo.
Ternyata Hugo sudah mengetahui semuanya tentang rahasia Yolanda selama ini, karena pria itu juga berperan penting untul menyelamatkannya dari kematian. Kalau tidak ada Riko dan Hugo, mungkin Yolanda sudah tinggal tengkorak sekarang. Dari sejak itu hubungan keduanya sangat akrap bahkan banyak berpikir kalau Yolanda dan Hugo pasangan kekasih. Sebab di mana Yolanda Hugo pasti ada di sana. Tapi bagi Yolanda Hugo sudah seperti abang dan sahabat. Lelaki itu yang selalu ada untuk membantunya dalam setiap kesulitan.
“Apa kamu butuh cuti dan pulang ke rumah.”
“Tidak, aku baik-baik saja.” Yolanda mengusap leher bagian belakangnya, tidak bisa dipungkuri saat bertatap muka dengan Arsen tadi ia merasa lehernya menegang, tetapi ia tetap bersikap profesional.
Hugo mendekat lalu ia berkata lagi,” mungkin kamu perlu bertemu secara langsung dengan suamimu.”
“Stt … jangan keras-keras, nanti ada yang dengar. Aku yakin dia akan mengangguku setelah ini,” keluh Yolanda.
“Hadapi saja, kamu tidak mau kan selamanya menghindarinya.”
Saat Hugo dan Yolanda keluar, mereka berniat pulang karena shift tugas mereka sudah selesai. Saat keluar dari gerbang depan Vania berdiri di luar, wanita cantik itu ternyata menunggunya.
“Vania …?”
“Kakak …?” tanpa aling-aling wanita yang masih mengenakan seragam tentara elite itu menghamburkan dirinya dan memeluk Yolanda.
“Vania jangan di sini ada banyak orang,” bujuk Yolanda.
“Bodoh, aku tidak perduli,” ucapnya memeluk sang kakak dengan erat, “Kakak sangat jahat selama ini kenapa membohongiku.”
“Aku ingin kamu mandiri Van.”
“Oh, Van ini-”
“Pak Hugo kan,” potong Vania,
Yolanda dan Hugo sama-sama saling melihat, “dari mana kamu tahu?” Hugo penasaran.
“Pak Kris sudah cerita banyak denganku.”
Mendengar nama Kris Hugo baru ingat kalau ia berjanji bertemu dengan Kris, ia merogoh kantong celana melihat layar ponselnya ternyata Kris sudah menunggunya di salah satu cafe.
Hugo pamit duluan pada kedua kakak beradik itu lalu ia bertemu dengan Kris . Mereka berdua saling berpelukan untuk melepas rindu sudah sangat lama mereka berdua tidak pernah bertemu.
“Bapak gagah jadi paspampres,” puji Kris.
__ADS_1
“Jangan memanggilku Pak lagi, kita bukan atasan bawahan lagi, kita teman sekarang,” ujar Hugo.
“Aku tidak menduga kalau kalian berdua masih hidup. Bagaimana kalian bisa?” Kris sangat penasaran mendengar cerita dari Hugo . Bagaimana mereka bisa selamat dari kejaran orang-orang Bruga.
“Kami bertarung sekuat tenaga untuk hidup dan Pak Sopian orang yang berjasa dalam hidup kami.”
“Apa Pak Sopian masih hidup?” tanya Kris penasaran.
“Iya, selama ini dialah yang menjaga kami bertiga, tapi jangankan katakan pada siapapun kalau dia masih hidup,” jelas Hugo.
Ternyata Sopian masih hidup, ia pura-pura mati supaya Arsen tidak menemuinya untuk bertanya tentang Yolanda, ia sengaja menghilang dari semua orang dan memilih hidup tenang dengan cucu kesayangannya. Kris semakin terharu saat tahu kalau lelaki itu masih hidup ia juga senang saat tahu kalau Roki sabahatnya juga masih hidup hanya berkarier di luar negeri.
*
Vania juga mengajak Yolanda untuk duduk di sebuah cafe , mereka bicara panjang lebar. Vania meminta Yolanda untuk pergi bersama ke apartemennya.
Tapi Yolanda masih belum siap ia berjanji akan datang suatu saat nanti. “Kenapa membohongi kami selama ini?” tanya Vania, ia selalu menyeka air matanya setelah bertemu dengan sang kakak, ia berubah sangat cegeng dan selalu menangis.
“Ada banyak alasan aku melakukan itu Dek,” sahut Yolanda.
“Sampai kapan? Bagaimana dengan mama kita? Apa kakak tidak perduli?” Vania mencercanya dengan banyak pertanyaann.
“Suatu saat nanti kita akan pulang bersama.”
“Iya.”
Vania menghela napas lalu menatap wajah Kakak lalu ia bertanya dengan hati-hati, “Bagaimana dengan, Bang Arsen?”
“Apa kamu jatuh cinta padanya?”
“Ah, itu … tidak,” sahut Vania gugup, melihat itu Yolanda sudah jatuh cinta pada Arsen. Yolanda tidak tega melarang, sebenarnya ia tidak ingin keluarganya berurusan dengan Bu Marina.
“Jangan khawatir Kakak tidak akan menemuinya lagi.”
“Bukan begitu Kak.”
Tiba-tiba ponsel Vania berdering Marina menelepon ia meminta Vania datang ke rumahnya karena ada hal yang penting.
“Pergilah,” suruh Yolanda pada sang adik.
“Tapi Kak, bagaimana kalau kita pergi bersama saja.”
“Tidak apa-apa, aku tidak ada hubungan lagi dengan mereka,” ujar Yolanda, ia tahu kekawhatiran adiknya.
‘Aku tidak ingin kamu bertemu wanita jahat itu Van, tapi melihatmu bahagia aku jadi tidak tega’ Yolanda membatin.
__ADS_1
Vania pergi menggunakan mobil online sementara Yolanda menuju parkiran ia ingin mengendarai motor miliknya.
*
Sejak saat itu Yolanda kembali sulit ditemui, bagaimanapun cara Arsen bertemu selalu gagal. Saat habis shift ia langsung menghilang entah kemana. Bahkan nomornya tidak aktif lagi. Arsen sudah mendapatkan nomor ponselnya dari Kris yang diminta dari Hugo. Tapi tidak bisa bertemu. Hari itu Hugo bertanya padanya kenapa tidak menemui Vania lagi.
“Apa ada masalah?” tanya Hugo saat Yolanda keluar dari ruang ganti.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu tidak mau bertemu Vania?”
“Aku tidak mau jadi orang ketiga. Sepertinya adikku sudah jatuh cinta pada Arsen aku tidak ingin melarangnya dan merusak kebahagian adikku.”
“Jo, bukanya Pak Arsen itu suamimu?” tanya Hugo.
Yolanda tidak tahu kalau panggilan itu, sengaja disambungkan ke ponsel Kris dan pembicaraan mereka di dengar Arsen, Kris, Erik juga..
“Pernikahan kami hanya sebuah kontrak, aku pikir itu sudah berahir tiga tahun yang lalu. Bu Marisa sepertinya ingin adikku menikah dengan Arsen. Arsen behak menikah dengan siapapun yang dia mau,” ujar Yolanda.
Hugo menutup teleponnya, akhirnya Arsen mengerti kenapa Yolanda tidak mau bertemu Vania juga belakangan ini. Bahkan Yolanda selalu menghilang setiap kali selesai shift. Ternyata ia memilih untuk tidur di asrama pasukan pengawal presiden. Pantas saja setiap selesai tugas ia tidak pernah pulang bareng dengan Hugo. Mendengar hal itu wajah Arsen langsung mengeras.
“Dia mendukung lu menikah dengan adiknya Bro,” ujar Erik.
“Diam Lu!” teriak Arsen marah.
Eri dan Kris sama-sama kaget mendengar kemarahan Arsen, “kok lu jadi marah sih, gua hanya mengutarakan pendapat.”
“Gue gak suka kalian semua ikut campur dengan masalah rutanggaku,” ujar Arsen.
Erik terdiam melihat kemarahan diwajah Arsen, lelaki tampan itu juga menelepon Marina meminta wanita supaya jangan menjodohkannya dengan Vania lagi..
“Arsen apa maksud ucapanmu?” tanya Marina di ujung telepon.
“Nenek berhenti mengurusi masalah hidupku lagi atau saya akan menghilang selamanya,” ancam Arsen.
“Nenek hanya ingin terbaik untukmu Nak.”
“Terabaik untuk Nenek belum tentu terbaik untukku. Apa Nenek tahu apa yang aku inginkan, jika Nenek bisa membawa Yolanda padaku itulah yang terbaik untukku karena dia istriku,” ujar Arsen menutup telepon dan ruangan itu hening. Pundak Arsen terlihat naik turun menahan kemarahan.
“Kamu pikir kamu hebat Yolanda! Kamu berani menghindar dariku maka aku akan memberimu pelajaran,” ucapnya dengan tatapan tajam. Ia keluar meraih kunci mobil.
Bersambung
Bantu like, komen agar viwernya naik ya.
__ADS_1