
Malam itu saat tidur Yolanda kembali mengalami mimpi buruk, tetapi kali ini lebih durasi mimpi lebih lama. Dalam mimpi itu.
Lima laki-laki bertubuh kekar menangkap seorang pria dan menyiram bensin pada pria malang tersebut. Lalu membakarnya hidup-hidup, tubuh lelaki itu terbakar ia berlari ke sana kemari berusaha memadamkan api yang berkobar dalam tubuhnya.
“Bakar! Bakar! Dia punya ilmu hitam dia orang asing yang datang ke kampung ini membawa ilmu santet!” teriak sekelompok pria berbadan kekar dan memiliki tato seperti sebuah simbol dibelakang leher mereka. Para prokator itu benar-benar tidak punya hati, walau tubuh pria itu sudah terbakar mereka masih menyoraki dengan kalimat, “ bunuh saja! Bunuh saja!”
Seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun masih mengenekan seragam putih biru baru tiba dari sekolah, ia melihat kejadian yang memilukan itu ia syok. Di depan matanya ayahnya dibakar, bukan hanya dirinya yang menyaksikan dua adik perempuanya ikut melihatnya
“Papa!” teriak gadis remaja itu menangis histeris melihat sang ayah dengan api berkobar membakar tubuhnya.
“Gres …! Lari” teriak sang ayah ditengah kesakitannya.
“Papa!” Dua orang anak perempuan kecil berteriak ketakutan melihat ayahnya terbakar
“Bakar! Bakar rumahnya semuanya!” ucap pria propokator itu lagi, lalu menyiram bensin dan menylut api ke sebuah rumah.
“Gres! Pergi bawa Mamamu!” teriak seorang ibu membangunkan Gresia yang menangis meraung-raung melihat tubuh ayahnya yang hangus terbakar.
“Papa!” Gresia ingin mendekat tapi ditarik sama seorang wanita.
“Papamu sudah tiada. Lari dan selamatkan Mama dan kedua adikmu” teriak wanita itu mendorong Gres.
Tubuhnya tidak bisa bergerak ia hanya bisa berteriak histeris dengan tubuh gemetar. Saat ia menoleh ke arah depan ternyata Mamanya juga menyaksikan bagaimana suaminya dibakar sampai mati. Disamping sang ibu dua orang anak perempuan yang masih kecilitu masih menangis.
“Papa! Papa!” gadis remaja yang bernama Gres itu berteriak.
__ADS_1
Gresia adalah Yolanda, keluarganya memanggilnya dengan panggilan Gres atau Yolanda Gresia Naibaho. Yolanda kecil lahir di sebuah desa terpencil di Sumatra Utara. Keluarga ibunya tinggal di sana sebagai’ sonduk hela’ dalam tradisi adat Batak Sonduk Hela di sebut juga menantu laki-laki menumpang di rumah mertua. Dalam adat Batak. Perempuan harusnya ikut ke rumah suami, tetapi dalam keluarga Yolanda saat itu Ayah Yolanda yang jutru tinggal di rumah istrinya. Sebab Mama Yolanda anak satu-satunya dari neneknya ia tidak punya sudara laki-laki. Setelah Nenek dan Kakek Yolanda meninggal seluruh tanah dan harta warisan jadi milik Mama Yolanda sebabab tidak punya saudara laki-laki. Melihat hal tersebut keluarga dari pihak sang ibu tidak terima, mereka ingin menguasai tanah dan harta dari Mama Yolanda. Mereka berpikir kalau anak perempuan dalam tidak layak tanah warisan dari orang tua.
Mereka memfitnah ayah Yolanda sebagai pemilik ilmu hitam dan santet karena ayah Yolanda pendatang di kampung itu. Satu kampung percaya mereka mendatangi rumah Yolanda berniat mengusir mereka dari kampung
Namun, sepupu Mama Yolanda justru bekerjasama dengan seorang laki-laki untuk membunuh Ayah Yolanda. Hingga akhirnya sang ayah dibakar hidup-hidup di depan anak dan istrinya. Yolanda, Mamanya dan kedua adiknya melarikan diri dari kampung dan terusir dari kampungnya sendiri. Yolanda tumbuh menjadi pribadi keras, pemarah dan pendendam, ia sempat masuk ke pusat rebablitas anak, karena mengalami ganguan kejiwaan sementara sang ibu mengalami ganguan mental hingga sampai saat itu.
Yolanda berjuang untuk ibu dan kedua adiknya, hingga ia bertemu dengan seorang pria bernama Sopian lelaki itulah yang mengubah hidup Yolanda, pria itu melatih Yolanda dengan keras dan menjadikannya sebagai tentara rahasia.
**
“Papa! Papa!” panggil Yolanda dalam tidurnya ia menangis sesegukan, tubuhnya dan wajahnya dipenuhi peluh segede biji jagung.
“Yolanda! Yolanda! Bagun!” Arsen membangunkan lagi, ia terbangun dan memeluk tubuh Arsen dengan erat , setelah sadar hanya mimpi ia melepaskan pelukan lalu mengusap keringat di wajahnya.
“Kamu mengalami mimpi buruk lagi,” ucap Arsen memberinya minum.
“Tidak masalah bagiku Yolanda, sebulan sudah melihatmu mengalami mimpi buruk hampir setiap malam cukup membuatku terbiasa, tapi malam ini yang paling lama. Apa kamu tidak mau menceritakannya padaku kenapa kamu selalu bermimpi buruk?” tanya Arsen, ia sangat berharap Yolanda mau terbuka padanya.
“Tidak, Maaf,” ujar Yolanda lagi.
“Baiklah, itu hal yang luar biasa bagiku,” ujar Arsen, ia duduk di sisi ranjang dengan cara melipat tangan di dada.
“Mimpi hanya bunga tidur jangan khawatir.” Yolanda ingin bangun untuk mengganti pakaiannya yang basah karena keringat.
“Tetap di situ biar aku saja.” Ia membuka lemari dan menyodorkan kaos miliknya yang ukuran besar untuk Yolanda.
__ADS_1
“Ini milikmu,” ujar Yolanda, ia tahu Arsen tidak suka orang lain memakai pakaiannya, tapi sekali lagi, pria itu sudah berubah demi dirinya.
“Pakai saja bahannya adem dan ukurannya muat untuk kamu.”
Ia tidak menolak, menganti pakaianya di depan Arsen, lelaki hanya diam menatap Yolanda dengan begitu dalam, banyak yang ingin ia tanyakan pada Yolanda. Ia ingin tahu kenapa ia selalu mengalami mimpi buruk hampir tiap malam. Tetapi bagaimanapun ia bertanya Yolanda tidak akan mau menjawab.
“Sudah berapa lama kamu mengalami mimpi buruk ini?” Yolanda menoleh ke Arsen.
“Sudah lama.”
“Tidak bisakah kamu berbagi cerita padaku? tentang apa yang sudah kamu alami. Mungkin aku bisa membantumu untuk menyembuhkan lukamu,” ujar Arsen.
“Apa kamu bisa menyembuhkan lukamu saat kehilangan orang-orang yang kamu cintai?” Yolanda balik bertanya.
“Itu Beda Yolanda. Orang tuaku dibunuh dan aku belum menemukan pelakunya sampai saat ini.”
“Baiklah, mari kita lanjut tidur. Besok kamu akan ke kantor kan?”
Pembicaraan mereka akan selalu berahir seperti itu. Yolanda tidak akan memberitahukan masalah pribadinya pada siapapun. Ia akan menyimpan dan memendam sendiri dalam hati.
“Pembicaraan kita akan selalu berahir seperti ini kan? Kamu tidak akan mau memberitahukan rasa sakitmu padaku walau kamu digigit anaconda sekalipun kamu tidak akan mau cerita padaku. Karena kalian berdua dengan Nenek hanya menganggapku sampah di rumah ini.” Arsen marah dan tidur membelakangi Yolanda Kalau biasanya setiap malam ia akan memeluk perut Yolanda dan mengusap-usap perut itu, tapi kali ini ia membelakanginya. Yolanda tidak mengatakan apa-apa ia diam dan tidur. Ia berpikir masalah pribadinya urusannya sendiri. Setelah mengalami mimpi buruk ia tidak bisa tidur. Yolanda bangun dan duduk di balkon kamar, ia menatap liontin di tanganya. Di sana ada foto almarhum ayahnya, ibu dan mereka bertiga. Dalam foto itu ia dan kedua adik perempuanhya tersenyum bahagia dipangkuan sang ibu.
Aneh sesedih apapun hatinya, ia tidak pernah menangis, hatinya terasa kosong dan hampa. Arsen duduk lagi, ia hanya bisa melihat kesedihan dan kesepian yang dipikul Yolanda sendiri. Wanita itu tidak pernah menginjinkan siapapun mengetahui tentang dirinya.
“Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lalui dalam hidup ini. Kamu tidak pernah menginjinku masuk dalam hidupmu Yolanda. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” tanya Arsen, melihat Yolanda selalu terlihat sedih ia juga merasa kasihan, tetapi sekali lagi wanita itu keras seperti batu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa berikan like, komen dan berikan hadiah ya terimakasih