
Arsen memang memiliki sikap cemburu yang sangat parah. Mendengar aduan putranya ia langsung menanggapinya dengan serius.
“Sayang berikan teleponnya sama Mami,” bujuk Yolanda pada putranya.
“Aku masih mau cerita sama Papi.” Ia menolak, menjauh dan duduk di pojokkan sambil cerita panjang lebar pada Papinya.
“Kak ada apa? Maksudku siapa?” tanya Mitha penasaran.
Yolanda menjelaskan kalau ia bertemu teman lama bernama Tirta, saat bertugas dulu hanya bercanda menyebut Nathan anak bosnya. Ternyata si ganteng Nathan salah paham dan mengadu sama Papinya, anehnya Arsen sepertinya percaya dengan cerita Nathan.
“Ini Papi mau ngomong sama Mami,” ucapnya menyodorkan ponsel sama Yolanda, lalu ia duduk di pangkuan neneknya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Dasar pembuat masalah. Kamu tau gak sih kalau Papimu tukang cemburu,” ujar Mitha mencubit hidung Nathan.
Yolanda membawa ponselnya sembari berjalan ke teras. “ Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Yolanda.
“Oh, jadi begitu ya. Kamu tidak mengaku sama teman-temanmu kalau kamu belum menikah.”
“Kamu salah paham. Aku hanya bercanda, dia gak percaya kalau aku punya anak segede Nathan dan sitampan. Jadi aku bilang saja anak bosku,” jelas Yolanda.
“Oh, begitu.”
‘Dia pasti tidak percaya, melihat wajahmu aku yakin kamu pasti cemburu, percuma dijelaskan’ Yolanda membatin.
“Pi, kapan pulang?”
“Kenapa? Kamu mau menemui dia lagi?”
“Astaga kamu benaran percaya? Rasa cemburumu itu Parah Pak Arsen!”
“Mami, dia masih kecil, tidak mungkin berbohong.”
“Masa hal beginian kita akan bertengkar sih Pi. Kapan dewasanya rumah tangga kita kalau hanya masalah kecil seperti ini dicemburuin.”
“Bagimu hal kecil, tapi bagiku dan Nathan itu hal besar. Kamu tidak mengakui kami berdua, kami marah.”
“Astaga, sakit kepalaku menjelaskannya,” ujar Yolanda memijit kening.
“ Malam ini aku pulang saja.”
“AAA!?Sayang, masa gara-gara masalah kecil beginian kamu pulang.” Yolanda benar-benar melonggo.
“Nanti kalau mereka sudah menemukannyaknya aku datang lagi.”
‘Astaga orang yang satu ini benar-benar gila. Apa saja sih yang diadukan Nathan sama papinya?’
“Pi, kamu tidak ingin bertemu adikmu?”
__ADS_1
“Nanti saja. Sudah ya aku mau siap-siap pulang ke Jakarta.” Ia mematikan teleponnya. Yolanda masih terdiam seperti orang bodoh.
“Jakarta-London loh. Bukan Cilandak-Cileduk,” ucap Yolanda bicara sendiri. Lalu ia berjalan ke rumah menatap Nathan dengan bola mata membesar. “Sayang, katakan sama Mami apa yang kamu adukan sama Papi?” desak Yolanda.
Mitha dan yang lainnya mendekat dan kebetulan Hugo juga datang. “Ada masalah?” tanya Bu Tiani khawatir.
“Maaa ... Arsen tiba-tiba mau balik ke Jakarta lagi," ujar Yolanda mengadu sama Mamanya seperti anak kecil
“Loh! Bukannya baru nyampe di London?”
“Itu dia Ma. Sayang, katakan apa yang kamu katakan sama Papi tadi?” bujuk Yolanda sama putranya.
“Aku bilang kalau Om tentara itu mengajak Mami nanti malam ke pesta.”
“Astaga Nathan … Om tentara itu hanya bercanda,’ ujar Yolanda setengah menjerit.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Bapak sama Anak sama-sama tukang cemburu. Arsen menitip pesan sama Natha kalau Maminya bertelepon sama orang asinga atau menemui orang asing untuk segera melapor pada papinya. Pantas saja dari tadi pagi, setiap kali Yolanda menerima telepon Nathan akan mendekat. Rupanya ia mata-mata yang ditugaskan papinya untuk mengawasi maminya.
“Dia mata-mata cilik,” ujar Hugo mengendong Nathan. Mereka semua sangat gemas melihat tingkah laku bocah pintar itu
“Bang Arsen pasti sudah cemburu gara-gara kamu anak tampan.” Mitha mencium pipi keponakannya yang digendong Hugo.
Tanpa sadar mata keduanya saling beradu, tiba-tiba Hugo melihat ke sekeliling dan mendaratkan ciuman di pipi Mitha. Selama pacaran kedua orang itu belum pernah namanya berduaan apa lagi melakukan kiss. Mereka selalu pacaran di rumah paling berduaan saat Hugo menjemput Mitha pulangg kerja. Itupun jarang karena waktu kerja keduanya tidak pernah sama.
“Grandma! angkel Hugo cium Aunty.” Ia mengadu lagi.
“Sabar bang, jangan sosor dulu,” Vania bercanda
Mereka semua tertawa melihat wajah Mitha yang memerah, karena ada mata-mata cilik di sana.
“Kakak harus hati hati mulai sekarang, repot urusannya kalau dia mengadu sama abang,” usul Vania.
*
Saat malam tiba ternyata Kris datang dan parahnya … ia mengajak temannya tidak lain tentara yang ditemui Yolanda tadi pagi. Hugo tertawa ngakak sementara Yolanda melonggo sembari berkata,” akan panjang urusannya nih,” ucapnya menatap putranya.
Mereka semua penasaran .”Kenapa?” tanya Vania.
“Tentara yang membuat Arsen cemburu, dia.”
Mitha dan Vania tertawa, mereka melirik Nathan yang saat itu sedang makan buah sama pengasuh di dapur.
“Bagaimana kalau bayi ajaib ini kita umpetin aja biar gak mengadu sama Papinya,” ujar Vania memeluk Nathan dengan gemas.
“Aunty jangan memeluk seperti itu, aku bukan boneka.”
“Kamu itu lebih mengemaskan dari boneka.” Ia tidak ingin ada masalah lagi dengan sang Kakak, sebelum melihat tamu tentara itu dan mengadu sama Arsen. Ia membawa bocah pintar itu ke kamarnya dan meminta ia bermain di sana sama pengasuh. Ternyata Nathan bukan hanya pintar ia anak yang genius, ia curiga kenapa tantenya menyembunyikan dirinya di kamar tidak memperbolehkan main di ruang tamu
__ADS_1
“Kenapa aunty menyembunyikan Nathan di sini?”
“Eh siapa yang menyembunyikan kita main di kamar aunty saja, di sini kamu bebas bermain.”
“Tidak mau, aku mau melihat Mami.”
“Mami lagi ada teman.”
“Oh, Aunty tidak ingin aku mengadu sama papi makanya umpetin aku di sini ya? Aku telepon Papi.” Nathan meminjam ponsel pengasuhnya.
Hal itu membuat Vania jadi panik ia merebut ponsel pengasuh lalu mengendong Nathan. “Kamu itu bikin papi sama Mamimu bertengkar kalau kamu mengadu terus,” ujar Vania memencet hidung Nathan, ia mengajaknya main untuk mengalihkan perhatian
Kris mendekati Yolanda.
“Jo, Pak Tirta katanya ingin bicara denganmu berdua.”
“Untuk apa? Kita bicara di sini saja rame-rame sama Mama juga.”
“Ada masalah yang sangat serius.”
Wajah Yolanda langsung menegang. “Masalah apa?”
“Kamu ingat misi kita saat pembebasan sandera saat di Papua empat tahun lalu, dia ingin bicara hal itu.”
“Oh, baiklah.”
Yolanda mengajak Tirta bicara berdua di taman depan, melihat wajah Tirta berbeda saat tadi pagi. Ia merasa ada hal yang buruk.
“Ada apa?” tanya Yolanda saat mereka duduk di bangku panjang di dekat taman.
“Maaf menganggu waktumu Jo, Krisna sudah menceritakan semuanya padaku tadi. Aku hanya ingin bertanya. Saat misi di Papua saat itu kamu yang pertama masuk ke dalam persembunyian mereka. Apakah kamu melihat orang ini?” Ia menunjukkan foto di ponsel , Yolanda merapatkan tubuhnya melihat gambar dari ponsel Tirta.
“Bukannya ini tentara yang berhianat itu?”
“Iya,kamu melihatnnya dan aku juga.”
“Lalu?”
“Dia kembali bergabung jadi tentara.”
“Loh … bukannya dia sudah mati?”
“Itu dia masalahnya Jo. Aku yakin kalau dia orangnya saat itu peluruku mengenai dadanya . Kenapa dia kembali jadi tentara? Apa kamu yakin mengenalku?”
Tirta terlihat khawatir, saat bicara berdua ternyata Arsen tiba-tiba datang.
Bersambung
__ADS_1
bantu like komen dan berikan hadiah ya terimakasih