Ternyata Istriku Agent Rahasia

Ternyata Istriku Agent Rahasia
Merahasiakannya Supaya Bisa Pulang


__ADS_3

Karena Yolanda merasa mual, ia  kembali ke dalam rumah dan tiduran disusul sama Mitha, ia menatap Yolanda dengan bibir tersenyum.


“Kayaknya Nathan punya Adik ni.”


Tiba-tiba Yolanda duduk dan mengarahkan  tangannya ke bibir.


“Sttt, jangan bilang-bilang.”


Bola mata Mitha melotot. “Kakak sudah tau?”


“Sudah  sebelum pulang ke sini."


“Astaga Kakak ngapain ikut kalau tahu sudah hamil!” seru Mitha.


“Jangan bilang-bilang, kalau Arsen sampai tahu dia tidak akan  memperbolehkanku ikut.”


Mitha mengeleng -geleng tidak percaya, ia baru menemukan wanita nekat seperti sang kakak. Sudah tahu hamil masih kuat untuk menari manotor dari tadi. Ia bahkan tidak merasa mual ataupun lelah.


“Bagaimana kalau Bang Arsen sampai tau?”


“Jangan kasih tau makanya,” sahut Yolanda santai.


“Astaga Kak, kamu nekat bangat sih.” Mitha marah pada Yolanda karena menyepelekan kehamilannya.


“Aku mau kasih tahu Mama.” Mitha berdiri ia ingin mengaduh sama Mamanya.


Yolanda buru-buru menarik tangan Mitha. “Jangan nanti  malah heboh lagi, nanti saja pas kita pulang,” bujuk Yolanda.


“Bagaimana kalau terjadi sesuatu  sama kandungan, Kakak?”


“Aku sudah minta resep dokter.” Yolanda menunjuk obat .


Mitha sampai melonggo, akhirnya ia mengerti kenapa Hugo dan Kris menyebutnya manusia robot. Saat hamilpun ia tidak ada manja ataupun mengeluh, ia akan melakukan apapun yang ia anggap benar. Mitha semakin kesal ia meminta Kakaknya untuk istirahat di rumah sampai acara selesai, saat Yolanda menolak ia mengancam akan mengadu pada Arsen dan Mamanya. Mitha merasa jengkel karena Yolanda tidak bertanya padanya sebagai dokter malah konsultasi pada dokter lain. Ia merasa tersingggung.


“Kakak tau Gak! Kakak itu bukan tentara rahasia lagi. Bisa gak jangan merahasiakan apa-apa dari keluarga.”


“Mitha jangan marah, aku menjaganya dengan baik. Dia masih aman.” Yolanda  membujuk sang adik.


“Kalau Bang  Arsen sampai tahu kamau hamil tapi  memaksakan untuk tetap ikut dia akan marah besar. Apa kakak ingat apa yang dia bilang dulu, kalau Kakak hamil tidak akan memperbolehkan  kemana-mana. Nekat bangat sih …!” Mitha sangat marah sebab Yolanda merahasiakan kehamilannya demi bisa ikut pulang kampung.


‘Aduh Mitha saja semarah ini … Bagaimana Arsen sama Mama nanti, bisa-bisa aku di ceramahi siang malam’ Yolanda membatin.


“Mitha Kakak minta maaf, ok aku istirahat, tapi jangan bilang Mama dulu, nanti kita kasih tau kalau sudah di Jakarta,” bujuk Yolanda.


“Kalau Bang Arsen sampai tahu, aku tidak ikut .”


                     *

__ADS_1


Semua rangkaian pesta selesai Mitha dan  keluarganya menginap di hotel sebelum bertolak ke Jakarata. Bu Marina dan Bu Tiani  sanga bersemangat mmbahas acara hari itu. Mereka berdua tertawa bahagia karena semua berjalan dengan baik .


“Mitha kamu diam saja, kamu sakit?” tanya Bu Tiani saat Mitha hanya diam dan bermain dengan Nathan.


Mendengar itu bola mata Yolanda melotot dia menatap adiknya dengan panik. Meminta Mitha jangan mengatakan apa-apa.


“Aku tidak apa-apa Ma, kalau aku sakit aku pastia akan bilang Mama dan bilang keluarga karena itulah gunanya keluarga,” ucapnya melirik sang kakak dengan sinis, ucapannya menyindir Yolanda.


‘Astaga ini orang tidak bisa dipercaya’ Yolanda membalas dengan tatapan sinis juga.


Melihat sikap kedua kaka beradik itu mengundang perhatian Bu Tiani dan yang lainnya, mereka menduga keduanya ada masalah.


“Ada apa?” Bu Tiani menatap Mitha dan Yolanda.


“Ah, tidak ada apa- apa Ma. Mitha hanya salah paham padaku.”


“Iya salah paham," sahut Mitha ketus lalu masuk ke kamar


Yolanda melonggo, semua mata tertuju padanya terlebih Arsen. Ia tidak mengtakan apa-apa  tapi ia sudah menduga ada hal yang besar yang  menyebabkan Mitha marah. Ia tahu Mitha bukan tipe perempuan yang mudah marah kalau tidak ada hal yang besar. Arsen hanya mengosok-gosok hidung mengatami istrinya, melihat tatapan Arsen Yolanda makin gugup.


“Adikmu kenapa Gres? Perasaan kalian dua baik-baik saja tadi,” ucap sang Mama.


“Iya Ma, aku tadi salah bicara.”


Tiba-tiba Mitha keluar sembari mendumal. “ Hmm .. salah bicara apa.”


“Apa kamu senang kakakmu di omelin. Lihat tatapan  mata Arsen dia sudah curiga.”


“Terus ….” Mitha melepaskan tangan  Yolanda.


“Tolong jangan  bilang apa-apa, please. Kemarin kamu minta gaun pesta  yang warna biru kan? Kamu boleh ambil.” Yolanda mulai mode menyogok.


“Sama tas warna hitam ya,” ucap Mitha.


“Kamu dikasih hati minta jantung. Tidak mau.  Itu aku beli sama Mama,” tolak  Yolanda.


“Kalau begitu aku bilang.”


“Eh, kamu.”  Yolan meniban tubuh adiknya dari atas.


“Kakak! Aku gak bisa napas!”  Mitha brontak.


“Kamu mau Gak, Ah!” ancam Yolanda memencet hidung Mitha.


“Kakak perutmu nanti ketendang samaku. Ayo bangun,” ujar Mitha setengah berbisik.


“Makanya nurut samaku.” Yolanda masih belum melepaskan tubuh adiknya

__ADS_1


Nathan masuk ia melihat Maminya meniban tubuh  tante sambil membekab mulut Mitha.


“Grandma! Mami sama aunty lagi berantem!” teriak Nathan.


“Astaga orang ini dua kembali seperti bocah.” Bu Tiani masuk ke kamar dan berdiri di pintu. “Apa yang kalian dua lakukan Ha?”


Yolanda duduk sembari tertawa ngakak, Mitha masih cemberut ia merapikan rambutnya yang diacak-acak  gara-gara Yolanda.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Bu Tiani pensaran melihat Mitha yang masih cemberut.


“Mitha minta tas yang kita beli bareng Mams, aku menolak,” ujar Yolanda membuat alasan.


“Bohong, sudah kakak terus terang saja sama Mama,” desak Mitha.


Yolanda  mengaruk kepala dengan ragu. “Ma, tolong tutup pintunya.”


Mendengar hal itu wajah Bu Tiani menegang ia menutup pintu dan menatap Yolanda dengan penasaran. “Ada apa?”


“Sebenarnya aku hamil,” ucap Yolanda.


“Syukur nambah cucu Mama, lalu kenapa Mitha marah?’


“Kakak sudah tau  beberapa hari yang lalu tapi tidak bilang sama Abang biar dia bisa ikut pulang.”


Seketika wajah gembira Bu Tiani berubah jadi wajah panik. “Papi Nathan belum tau?”


Yolanda nyegir kuda   menjawab, “belum Ma.”


“Gres! Kamu kenapa mengangap semuanya  sepele. Itu nyawa manusia, kalau saja kamu kenapa-napa. Bagaimana?”


Bu Tiani sama marahnya dengan Mitha, ia meminta Yolanda berterus terang dan minta maaf pada Arsen, karena tidak berterus terang.


“Ma nanti saja kalau sudah tiba di Jakarta,” bujuk Yolanda, ia memohon sama Mamanya supaya jangan memberitahu sama Arsen.


Hari itu Bu Tiani dan Mitha lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Bahkan acara jalan-jalan keliling Danau toba batal di lakukan karena Yolanda.


“Ada apa?” tanya Hugo penasaran.


“Tidak ada apa-apa.” Mitha mengalihkan pembicaraan membereskan barang-barang yanga kan dibawa dibawa pulang.


“Kamu sama  Ibu tiba-tiba berubah, aku yakin terjadi sesuatu. Katakan padaku mungkin aku bisa bantu.”


Mitha membawa sang kekasih menjauh dari hotel. “Kak Yolanda memang keras kepala.”


Mendengar hal itu Hugo menatap Mitha. “Kenapa?  Apa dia melakukan kesalahan besar?”


“Dia hamil tapi memaksa ikut pulang dan tidak memberitahu Bang Arsen juga. Bagaimana kalau kemarin terjadi apa-apa padanya."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2