
Beberapa hari setelah kejadian itu, Laura dan juga Gabriel kembali seperti semula. seperti dua orang manusia yang tidak mengenal satu sama lain. karena mereka sama-sama menghindar. dan hal itu membuat Laura merasa sangat senang.
Karena untuk beberapa saat ke depan, Gabriel tidak akan pernah menyentuhnya. karena laki-laki itu sedang disibukkan dengan beberapa perusahaan yang mengalami guncangan dari dalam. Tentu saja itu terlihat dari raut wajah laki-laki itu yang selalu menegang dan mengeluarkan aura mencekam.
Belum lagi, para pekerja di rumah itu yang sesekali berbisik tentang kondisi perusahaan yang hampir goyah akibat korupsi yang dilakukan besar-besaran oleh beberapa orang yang ada di perusahaan itu.
"kasihan Tuan Gabriel, perusahaannya hampir koleps karena ulah dari beberapa rubah yang menjijikan!"
"iya kau benar, padahal Tuan Gabriel sudah berbaik hati mempekerjakan mereka sampai sekarang ini. tapi, memang dasarnya saja mereka tidak tahu diri. sudah ditolong, malah menusuk dari belakang."
"aku tidak tahu lagi apa yang akan mereka terima dengan perbuatan mereka ini,"
Begitulah bisik-bisik dari beberapa pelayan yang berada di ruang belakang kediaman Iskandar.
Tentu saja hal itu membuat Laura yang mendengarnya sejenak terdiam. "apa benar sumur semua itu?"tanya wanita itu pada diri sendiri.
"aih kenapa aku harus memikirkan laki-laki itu? biarkan saja dirinya sibuk dengan pekerjaan itu. Setidaknya, aku tidak akan pernah mendapatkan siksaan itu ya walaupun hanya beberapa saat ke depan,"ujar Laura dengan senyuman yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Setelahnya, Laura melanjutkan pekerjaannya. karena selain sebagai pelayan di atas ranjang dari Gabriel, Laura juga merupakan pelayan di mansion milik laki-laki itu. dan itu dijalani oleh Laura dengan pasrah. karena memang saat ini, wanita itu tidak memiliki wewenang ataupun kekuatan untuk melawan kekejaman dari seorang Gabriel Iskandar.
Namun itu tidak berarti dirinya akan membiarkan hal itu terus menerus terjadi. jika nantinya semua sudah dalam tahap berlebihan, maka Laura akan berbuat sedikit usaha untuk menentang laki-laki itu.
"ah Akhirnya selesai juga,"gumam wanita itu Seraya meregangkan kedua otot tangannya. kemudian dengan segera, berjalan menuju ke arah dapur kotor yang memang lumayan jauh dari mension itu.
Saat wanita itu tengah berjalan untuk menuju dapur guna mengambil minum, Laura tidak sengaja melewati beberapa para pekerja yang masih bergosip di sana. tentu saja saat melihat Laura, mereka semua langsung terdiam dan menundukkan kepala.
Ya, walaupun Laura adalah seorang pelayan di dalam mansion itu, tapi tetap kedudukannya adalah sebagai Nyonya muda Iskandar. Laura bisa saja mengadukan ucapan mereka pada Gabriel. karena Laura adalah istri sah dari Gabriel.
Walaupun, itu semua tidak akan mungkin terjadi. mengadukan semuanya, itu adalah mimpi atau angan-angan konyol. karena sampai kapanpun, Laura tidak akan pernah melakukan hal itu.
__ADS_1
Laura tidak ingin menambah daftar penderitaan yang telah ia alami sebelumnya dengan mengadukan semuanya kepada laki-laki psikopat itu.
"kenapa kalian melihatku seperti itu?"tanya Laura yang merasa heran dengan sikap ketiga wanita itu dan saat ini, berhenti di hadapan keempat para pelayan itu.
"tidak apa-apa Nyonya,"ucap mereka serempak Seraya menundukkan kepala karena mereka benar-benar merasa ketakutan dengan wanita yang ada di hadapannya itu.
"nyonya?"ulang Laura Seraya menahan senyum geli. karena mendengar dirinya dipanggil "Nyonya" oleh orang-orang Gabriel.
Tentu saja, Laura tidak bisa menahan ekspresi wajah yang terasa sangat geli mendengar ucapan dari para wanita itu.
"hah,"Laura mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terkesan norak ataupun memalukan di hadapan ketiga wanita itu.
"kalian boleh pergi!"itu adalah suara Merry wanita paruh baya itu menatap para pelayan itu dengan tatapan tajam.
Tentu saja hal itu membuat mereka semua merasa sangat ketakutan. dengan segera, melanjutkan aktivitas masing-masing. membiarkan Laura, berdiri di sana dengan tatapan bingung.
"tidak usah merasa senang hati, aku yang menyuruh mereka memanggilmu Nyonya. karena itu atas permintaan Tuan Gabriel."ucap Merry yang seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Laura.
"Tuanku masih menghargaimu dengan menyembunyikan status aslimu yang hanyalah pelayan di atas ranjang,"ucap Merry dengan menekankan kalimat terakhir.
Sakit?
Tentu saja Laura merasa sangat sakit saat mendengar penghinaan itu. namun wanita cantik itu merasa sudah terbiasa dengan penghinaan-peng penghinaan yang dilontarkan oleh penghuni rumah itu. utama Gabriel. laki-laki yang menjelma menjadi suaminya.
Laura hanya tersenyum manis saat mendengar penghinaan itu keluar dari mulut Merry.
"tidak masalah! karena aku hanya orang luar di sini!"ucap Laura dengan lantang. setelahnya, wanita cantik itu kembali melanjutkan langkah kakinya untuk ke belakang.
Meninggalkan Merry yang menatapnya dengan tatapan tajam dan juga tangan yang terkepal hebat.
__ADS_1
"berani dia berbuat seperti itu padaku! dasar wanita tak tahu diri!"umpatnya dengan nada berapi api. setelahnya kembali melanjutkan pekerjaan.
*****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah bangunan terpencil yang berada di tepi hutan, terlihat seorang laki-laki tengah memandang ke arah depan dengan tatapan membunuh.
"berani kalian berbuat seperti ini padaku?!"teriak Gabriel dengan lantang. dan dengan segera,..
brugh
bugh
Gabriel menghantam kepala orang-orang pengkhianat itu dengan sebuah batu di tangannya. tentu saja, hal itu membuat kedua sasarannya, langsung terkapar tak berdaya. membuat, orang-orang itu bergetar hebat karena merasa ketakutan.
"sudah Tuan, jangan kotori tangan anda dengan tubuh mereka,"ucap asisten Gabriel yang mencoba untuk menenangkan laki-laki itu.
"mereka harus mati!"Sentak Gabriel dengan nada menggebu-gebu karena menahan amarah.
"tenangkan dirimu Tuan, biarkan kami yang bekerja. lebih baik, anda segera pulang dan beristirahatlah!"ucap sang asisten yang masih mencengkram kuat tubuh kekar Gabriel.
Sontak saja, perkataan dari asistennya itu, membuat Gabriel segera tersenyum mengerikan. dan setelahnya, melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.
Di perjalanan, laki-laki tampan itu sengaja meminum obat perang*sang yang sangat kuat efeknya. karena Gabriel ingin kembali "menyiksa"lawannya saat ini.
"segera percepat perjalanan!"teriak laki-laki tampan itu dengan lantang. dan hal itu dijawab anggukan oleh semua bawahannya.
****
"segera keluar, dan persiapkan dirimu dengan baik!"itu suara Merry yang mengetuk pintu kamar Laura.
__ADS_1
Membuat pemilik kamar, langsung mengetahui apa yang dimaksud oleh kepala pelayan itu.
"sabar, semoga neraka ini cepat berlalu,"gumamnya pada dirinya sendiri dan dengan segera, bangkit dari tempat tidur untuk "mempersiapkan diri" sesuai dengan kata wanita paruh baya itu.