Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 28


__ADS_3

Saat ini Laura tengah tertidur di dalam pelukan suaminya sendiri. wanita itu terlihat sangat kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Gabriel akhir-akhir ini.


"kenapa dia menjadi aneh seperti ini?"tanya Laura seorang diri dan juga di dalam hati. karena wanita itu, tidak mungkin mengatakannya secara langsung. karena Gabriel, pasti akan langsung kesurupan.


Tanpa sadar, tangan Laura terangkat dan mengusap rambut laki-laki itu dengan penuh kasih sayang. hingga si pemilik rambut, seketika sedikit membuka matanya karena merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.


"apa yang kamu lakukan?"tanya Gabriel dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"eh, ma..... maaf Tuan, saya tidak sengaja,"Laura dengan salah tingkah, segera berbalik badan untuk menghindari tatapan dari laki-laki itu.


Laura tak henti hentinya merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanyabersikap bodoh seperti itu.


"dasar kau Laura! bodoh sekali jadi wanita." gumamnya dalam hati Seraya sesekali menepuk-nepuk kepalanya sendiri. kemudian dengan segera, memejamkan matanya berusaha untuk tidur Dan tidak memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi itu.


Karena Laura pasti akan sangat malu jika harus berhadapan dengan laki-laki itu. karena tangannya kedapatan mengusap kepala laki-laki itu seperti seseorang yang tengah jatuh cinta.


Sementara Gabriel, laki-laki itu saat ini tengah berperang dengan pikiran dan juga hatinya. karena kedua bagian tubuhnya itu, sangat bertolak belakang satu sama lain. sehingga membuat Gabriel, merasa kebingungan harus berpihak dengan siapa. karena pikirannya, saat ini tengah mendamba sosok yang menjadi kekasihnya yang tak lain adalah Elmira.


Sementara hati laki-laki itu, saat ini tengah memikirkan dan tengah berdendang nama Laura. Gabriel saat ini, seperti seseorang yang benar-benar memiliki kepribadian ganda.


"aaakkkhhhh! bisa gila kalau aku seperti ini terus!"ucapnya tanpa sadar berteriak. hingga membuat Laura yang berada di sampingnya, seketika terjingkat kaget.


"astaga dia itu kenapa? jangan sampai dia itu kesurupan!"ucap Laura dalam hati. wanita itu seketika tak mengantuk lagi karena teriakan dari Gabriel yang sangat memekakkan telinganya itu.


Akhirnya karena tidak bisa tertidur, Laura memutuskan untuk bangun dari posisi berbaring dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. mata wanita itu, menatap ke arah Gabriel yang telah tertidur pulas di sampingnya itu.


"cepat sekali dia tertidur,"gumam wanita itu Seraya sesekali menghela nafas panjang.


drrrttt drrttt


Laura seketika tersentak kaget. saat mendengar suara ponsel miliknya yang terdengar bergetar di dalam saku celananya.

__ADS_1


"siapa malam-malam begini menghubungiku?"tanya Laura seorang diri. Namun demikian, wanita itu tetap mengeluarkan benda pipih.


"ibu, untuk apa dia menghubungiku?"tanya Laura masih pada dirinya sendiri. kemudian, wanita itu menatap ke arah samping. terlihat di sana, Gabriel masih belum tertidur lelap. terbukti dengan posisi laki-laki itu yang sesekali berubah.


"lebih baik besok saja aku telepon kembali, "gumam wanita itu Seraya mematikan ponselnya dan kembali memejamkan mata.


*****


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya yang memandang benda pipih yang ada di tangannya dengan mata menatap tajam dan juga raut wajah yang sangat berang. menandakan, bahwa wanita itu tengah dalam keadaan marah besar.


"beraninya wanita itu mematikan panggilanku,"gumam wanita paruh baya itu dengan mere*mas ponsel itu. kemudian,..


brakk


Ponsel itu seketika hancur berkeping-keping. setelah berhasil menghantam dinding dengan sangat keras.


"hei kau ini kenapa?"tanya seorang laki-laki yang berjalan ke arah wanita itu dengan langkah tergesa-gesa.


"maksudmu Laura?"tanya laki-laki paruh baya itu yang tak lain adalah Excel. ayah dari Laura.


"siapa lagi jika bukan dia, dasar gadis tak tahu diri!"maki sang wanita yang tak lain adalah Alina Smith.


Kemudian, Excel mengajak sang istri untuk duduk di sebuah kursi panjang yang ada di ruangan itu.


"sabar dulu sayang, kita masih mempunyai beberapa rencana untuk mencapai keinginan kita!"ucap Excel mencoba menenangkan istrinya itu.


"kapan kita akan memulai rencana itu?"tanya Alina Seraya menatap dingin ke arah laki-laki itu.


"sabar, kita harus menyusun rencana sebaik mungkin. karena sesuatu yang terencana itu, pasti akan maksimal!"ucapnya penuh dengan tekad.


Alina yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


"yang harus dilakukan adalah membuat Putri kita itu terlena dan juga patuh pada ucapan kita."sambung Excel Seraya melihat ke arah sang istri.


"caranya?"tanya Alina dengan raut wajah penasaran.


Membuat Excel yang mendengar itu, seketika tersenyum misterius. dan hal itu membuat Alina, juga ikut tersenyum misterius sama seperti sang suami. memang, pasangan paruh baya itu, seperti pasangan penjahat. yang mampu melakukan apa saja agar keinginannya tercapai.


"sudah lebih baik kita istirahat saja, besok pagi, kita akan menemui anak itu."ucap Excel menarik tangan istrinya untuk berbaring di ranjang empuk itu.


****


Pagi harinya, Laura terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang semakin segar. karena dirinya, tidur di tempat tidur yang sangat mahal. yang memang, sengaja dirancang khusus untuk terapi kesehatan.


"hoam enak sekali tidur di tempat ini,"gumam Laura Seraya meregangkan otot-ototnya. sungguh, wanita itu merasa sangat nyaman berada di tempat seperti ini.


Laura segera menoleh ke arah Gabriel yang ternyata laki-laki itu masih terlelap di dalam tempat tidur. senyuman Laura, seketika terbit saat memandangi wajah laki-laki itu.


"hais apa sih yang aku pikirkan, kenapa aku malah berpikir seperti itu?"tanya Laura pada dirinya sendiri. dengan segera, menggilingkan kepala.


Dengan segera, Laura turun dari atas tempat tidur. wanita itu, memutuskan untuk kembali ke kamarnya. tepat saat Laura membuka pintu, wanita itu sedikit terkejut saat melihat Merry yang telah berada di depan kamar Gabriel seraya melipat kedua tangannya di dada.


"untuk apa anda di sini?"tanya Merry dengan nada yang sangat dingin dan juga terdengar ketus.


Tentu saja hal itu membuat Laura yang mendengarnya, sedikit merasa heran dan juga bingung. bagaimana cara menjelaskannya pada wanita itu.


"dia membantuku merawat Gabriel. apa ada yang salah?"tiba-tiba saja, suara Melia telah berada di belakang Merry.


Tentu saja, hal itu membuat wanita paruh baya itu merasa sedikit terjingkat kaget. apalagi saat Merry, melihat tatapan tajam dari Melia. membuat wanita paruh baya itu, sedikit merasa bergetar.


"ti... tidak Nona, tidak ada yang salah. kalau begitu, saya permisi dulu."dengan secepat kilat, Merry berlalu dari sana. sementara Melia, menatap tingkah wanita paruh baya itu, dengan tatapan datar.


"tidak usah dipikirkan, wanita itu memang seperti itu."ucap Melia Seraya menepuk bahu Laura.

__ADS_1


__ADS_2