Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 66


__ADS_3

Sesampainya di depan sebuah rumah sakit, Gabriel dengan tidak sabarnya, segera melompat keluar dari dalam mobil. Padahal, mobil itu baru saja akan berhenti di tempat parkir.


Namun sepertinya, laki-laki tampan itu sudah merasa tidak sabar. karena melihat raut wajah dari Laura yang begitu pucat dan juga menyedihkan.


"Tuan apa yang Anda lakukan?!"teriak Brian dengan spontan menoleh ke arah samping. di mana saat ini, Gabriel telah berdiri Seraya menggendong sang istri yang telah tak sadarkan diri.


Untung saja, Gabriel adalah seorang laki-laki yang telah profesional dalam menjaga keseimbangannya. karena jika tidak, maka kedua orang itu akan terluka parah. karena Brian mengendarai mobil itu dengan kecepatan lumayan tinggi.


"apa Anda baik-baik saja?"tanya Brian dengan raut wajah panik. saat laki-laki itu, baru saja memarkirkan mobil dan menyusul tuanya yang telah berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Gabriel tidak menjawab pertanyaan dari asisten pribadinya itu. matanya terus menatap gelisah kearah istrinya.


Tak berselang lama, seorang dokter segera menghampiri Gabriel dengan beberapa orang yang ada di belakangnya.


"Tuan Gabriel apa yang sebenarnya terjadi?"Tanya Dokter wanita paruh baya itu yang tak lain adalah dokter Luis.


"tolong selamatkan istri dan juga calon anakku, berapapun yang kamu minta, aku akan memberikannya. asalkan, istri dan anakku selamat!"ucap Gabriel Seraya menundukkan kepala. sebagai tanda hormat kepada dokter itu.


Tentu saja hal itu membuat dokter Luis yang mendengarnya, merasa sangat terkejut. karena selama wanita itu berkarir sebagai seorang dokter, tidak pernah sekalipun Gabriel mengucapkan terima kasih atau permintaan maaf.


Karena menurut laki-laki itu, derajat keluarganya lebih tinggi daripada semua orang yang ada di dunia ini. dan hal itu membuat beberapa orang yang pernah bertemu dengannya, menaruh dendam yang cukup dalam. namun sekarang, lihatlah cinta telah membuat seorang Gabriel Iskandar, melakukan hal yang menurut laki-laki itu sendiri sangat rendah.

__ADS_1


Terkadang, perasaan manusia itu dapat membuat manusia itu sendiri menjadi lemah atau bahkan terlihat bodoh. dan nampaknya, hal itulah yang terjadi pada Gabriel saat ini.


"segera bawa Nyonya Laura ke ruangan tindakan?!"ucap dokter Luis kepada dua orang perawat yang berada di belakangnya.


Dengan segera, dua orang yang ada di belakang dokter Luis itu segera menarik sebuah Brankar yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Suasana di rumah sakit ini sangatlah sepi. karena memang, rumah sakit ini adalah khusus untuk keluarga Iskandar. dan rumah sakit ini, dibangun atas jerih payah Gabriel seorang diri. tanpa bantuan dari James sang Ayah.


Mereka segera membawa tubuh Laura yang semakin lama semakin melemah itu. dan Gabriel tak henti-hentinya menggenggam tangan wanita itu dan sesekali mendaratkan kecupan ke tangan wanita itu. sepertinya, Gabriel sudah tidak merasa malu lagi untuk memperlihatkan kemesraan di hadapan umum. Seakan-akan, egonya yang telah ia bangun dengan susah payah, kini telah runtuh hanya karena sebuah perasaan.


"sebaiknya Anda tunggu di luar," ucap salah satu perawat itu.


Memang terkadang, manusia akan melakukan apapun jika tengah dikuasai oleh hawa nafsu dan juga amarah. untuk itulah, penting sekali manusia itu mendekatkan diri pada Tuhannya. agar tidak dikuasai oleh setan yang ada di dalam tubuh.


"sabar tuan, lebih baik kita tunggu saja di sini."ucap Brian dengan menyentuh pundak laki-laki itu.


Gabriel yang mendengar itu, seketika menghirup udara sebanyak mungkin. dan dengan segera menghembuskannya secara perlahan.


"Ya sudah tolong selamatkan istriku!"ucap laki-laki tampan itu Seraya melepaskan cengkraman tangannya.


Perawat itu segera menganggukkan kepala. dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan. dan setelahnya, menutupnya dengan rapat-rapat.

__ADS_1


Gabriel segera menjatuhkan tubuhnya di atas lantai marmer rumah sakit itu. padahal di sebelahnya, ada kursi tunggu yang memang digunakan untuk keluarga pasien jika hendak menunggu. Namun sepertinya, Gabriel enggan untuk melakukannya.


Tak berselang lama, suara tapak kaki berjalan menghampiri Gabriel. membuat laki-laki itu seketika menoleh, ke arah sumber suara. dan di sana Gabriel melihat Ayah dan juga Pamannya berjalan menghampirinya.


"bagaimana keadaannya?"tanya James menatap ke arah putranya dengan tatapan sendu. karena sepertinya, laki-laki paruh baya itu teringat akan kondisi istrinya saat melahirkan Gabriel.


"belum tahu, dokter Louis masih berusaha di dalam sana."ucap laki-laki itu Seraya menundukkan kepala.


Theo yang mendengar itu, segera menghampiri sang keponakan. dan merangkulnya untuk menenangkan laki-laki tampan itu.


"berdoa pada Tuhan, semoga semuanya diberi kelancaran."ucap Theo Seraya mengusap punggung milik Gabriel.


Tak berselang lama, dokter Louis datang menghampirinya. dan dengan segera langsung berdiri di hadapan Gabriel.


"kita bisa bicara?"Tanya Dokter Luis dengan raut wajah yang sangat cemas dan juga sedikit khawatir.


Mendengar hal itu, Gabriel segera berdiri dari posisi duduknya itu. dan langsung mengikuti dokter wanita itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


"ada apa?"tanya Gabriel semakin merasa khawatir.


Dokter Luis yang mendengar itu, sesaat menghela nafas panjang. "kau harus memberikan keputusan,"ucap wanita paruh baya itu Seraya menyerahkan sebuah surat yang ada di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2