
Setelah pertemuan dirinya juga laki-laki yang menjadi mertuanya itu, pikiran Laura menjadi tidak tenang. karena wanita cantik itu, terlalu memikirkan apa yang akan dilakukan Ayah mertuanya itu. mengapa laki-laki itu, berbuat hal yang menurut orang-orang adalah hal yang konyol.
Apalagi, sampai harus mengelabui putranya sendiri dan juga membuat rencana serapi mungkin.
"aku hanya ingin, kau berjanji satu hal padaku. jangan pernah tinggalkan Gabriel apapun yang terjadi nantinya. dan soal rencana ini, biar itu menjadi urusanku."begitulah kira-kira ucapan dari James.
Membuat Laura yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. walaupun menampilkan ekspresi wajah yang sangat kebingungan. apa sebenarnya yang direncanakan oleh laki-laki paruh baya itu, sayangnya James tidak ingin berbicara lebih lanjut kepada Laura.
"arrggghh!" Laura mengeram kesal karena tidak dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh sang ayah mertua.
"sudahlah! tidak perlu aku pikirkan. yang terpenting sekarang, aku harus mengurusi diriku sendiri. untuk apa aku masuk ke dalam masalah orang lain,
Namun demikian, sifat kepo seorang wanita itu sangatlah tinggi. terbukti dengan Laura yang bersikap tidak tenang saat memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Iskandar. karena bagaimanapun juga, keluarga itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. sudah sewajarnya sebagai bagian dari keluarga Iskandar, Laura mengetahui semua tentang rahasia itu dan itu pun sudah tertulis di dalam buku kecil yang ada aturan sumpah keluarga Iskandar.
"aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,"ucap Laura bertekad pada akhirnya. karena wanita itu tidak ingin hanya menjadi bagian keluarga yang tidak berguna tanpa harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk keluarga itu.
Karena bagaimanapun juga, keluarga Iskandar adalah keluarga penyelamat bagi keluarga miliknya. dan pastinya sang ayah akan mengamuk, jika mengetahui putrinya menjadi seorang yang pengecut dan tidak tahu terima kasih.
Laura dengan langkah pelan, mencoba mendekati ke arah luar mansion. Sialnya, penjagaan di sana terlalu ketat. dan Laura tidak akan pernah bisa untuk menerobos. Apalagi, para penjaga itu membawa senjata api lengkap dengan tombak yang ada di tangan mereka. tentu saja Laura tidak ingin mati sia-sia hanya karena sifat kepo yang telah mendarah daging.
"penjagaannya terlalu ketat. aku tidak akan bisa untuk menembus keluar."gumamnya mendesah pelan.
Akhirnya z Laura memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. karena wanita itu memutuskan akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ini.
"ya sudahlah kalau begitu, mungkin saja memang Tuhan tidak mengizinkan aku untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi,"gumam Laura pada dirinya sendiri.
Wanita itu memutuskan untuk kembali berbaring di atas kasur serah yang memainkan ponsel yang telah diberikan oleh Gabriel padanya.
__ADS_1
"ini kan bukannya temanku dulu?"tanya Laura Seraya menatap ke arah ponsel dengan ekspresi wajah tidak percaya.
Saat ini, Laura tengah berselancar di dunia maya. dirinya menatap nanar gambar-gambar yang menurutnya sangat menarik dan barang-barang mewah yang ada di dalam ponsel itu. Seketika, jiwa shoppingnya meronta-ronta.
"andai saja aku bisa bebas seperti dulu, pasti aku sudah membeli semua ini "ucap wanita itu Seraya mendesak pelan.
Akhirnya, Laura memutuskan untuk keluar kamar. karena Laura sangat merasa bosan berada di kamar ini dan tidak berbuat apa-apa.
"ah, aku ingin membuat kue kacang,"ucap Laura dengan raut wajah berbinar. semangatnya seketika kembali berkobar. saat mengingat, bagaimana lahapnya Gabriel memakan brownies kacang almond itu.
"aku harus membuat cookies itu lebih banyak lagi. siapa tahu, dia mau makannya lagi seperti kemarin."ujar Laura pada dirinya sendiri. tangannya kini, telah sibuk meracik semua bumbu yang akan digunakan untuk membuat makanan ringan itu.
setelah 15 menit, akhirnya Laura selesai membuat cookies kacang almond disertai dengan es krim strawberry kesukaannya.
"wah, ternyata kau memang bakat ya menjadi koki,"ucap seseorang dari belakang tubuhnya. tentu saja hal itu membuat Laura, ketika menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Merry.
"lain kali, jangan pernah bertindak sesukamu. karena ini, bukan tempat tinggalmu!"ujar Merry dengan nada yang sangat dingin dan juga menakutkan.
Membuat Laura yang mendengarnya, seketika tubuhnya sedikit bergetar hebat. "Ma .maafkan saya,"ucap Laura gemetar
Merry tidak menjawab wanita paruh baya itu malah merebut cookies almond yang baru saja keluar dari panggangan yang saat ini berada di tangan Laura.
"sebagai gantinya, makanan ini aku ambil."ucap Merry Seraya merebut cookies yang telah matang itu. menyisakan beberapa butir yang ada di tangan Laura.
"itu buat kamu,"ucap Merry Seraya melangkahkan kaki meninggalkan Laura yang masih terdiam di tempatnya.
"dasar kejam!"ujar wanita itu saat setelah Merry keluar dari dapur.
__ADS_1
*****
Sementara itu di tempat lain, terlihat Gabriel tengah tersenyum kecil setelah melihat kedatangan orang-orang yang berarti dalam hidupnya.
"honey, aku rindu!"ucap Elmira Seraya merentangkan tangan memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat.
Sementara kedua orang tua Elmira yang melihat itu, hanya menggelengkan kepalanya. kemudian mereka semua, memutuskan untuk masuk ke dalam villa itu. yang telah Gabriel persiapkan untuk sang kekasih dan keluarganya.
Memang untuk yang satu ini, Gabriel akan melakukan hal apapun untuk membahagiakan kekasihnya. karena Gabriel, sangat menyayangi dan mencintai wanita itu. karena menurut Gabriel, Elmira adalah sosok wanita yang sangat sempurna dan pantas menjadi Nyonya Iskandar yang baru.
"apa kabar Gabriel?"tanya Ayah Elmira Seraya menjabat tangan laki-laki itu.
"baik Tuan,"ucap Gabriel Seraya membalas jabatan tangan dari laki-laki paruh baya itu.
"sepertinya, kamu sangat mencintai putriku ya,"goda ibu Elmira Seraya tersenyum kecil. membuat pipi putrinya seketika memerah karena merasa malu dengan tindakan kedua orang tuanya itu
"Ayah ibu, jangan seperti itu. jangan membuat malu dengan keluarga terpandang seperti ini!"tegur Elmira yang merasa tindakan kedua orang tuanya telah berlebihan.
Gabriel yang mendengar itu, menggelengkan kepalanya. "tidak masalah! karena aku, sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri."ucap Gabriel Seraya mengusap kepala Elmira dengan perasaan sayang.
Membuat wanita itu dan kedua orang tuanya, seketika tersenyum dan merasa bangga karena telah dianggap oleh seseorang yang sangat berpengaruh di dunia itu.
"jadi, kapan rencananya kau akan melamar putriku?"tanya ayah Elmira Seraya menatap ke arah Gabriel dengan tatapan menyelidik.
Karena bagaimanapun juga, Elmira adalah seorang wanita yang harus memiliki kepastian dalam sebuah hubungan. laki-laki paruh baya itu tidak ingin, putrinya hanya dipermainkan saja.
"secepatnya tuan,"ucap Gabriel dengan perasaan bimbangnya.
__ADS_1