Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 36


__ADS_3

Setelah mengantarkan kekasihnya pulang, Gabriel dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari kediaman kekasihnya itu.


"apa kita langsung pulang, tuan?"tanya Brian menatap ke arah tuannya sekilas.


Gabriel yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. kemudian, kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


sepertinya laki-laki itu tengah memikirkan banyak sekali masalah sehingga membuat Gabriel, tidak fokus. dan hal itu membuat Brian, merasa semakin cemas. karena bagaimanapun, tuanya itu adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupannya.


"apa Anda baik-baik saja Tuan?"tanya Brian Seraya melirik ke arah Gabriel yang masih memejamkan mata.


"hmm,"


Setelah itu, Brian tidak bertanya apapun lagi kepada laki-laki tampan itu. dirinya hanya fokus untuk mengemudikan kendaraan itu. hingga nantinya, dapat selamat sampai tujuan.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Brian, telah sampai di depan Mansion megah milik laki-laki itu. dengan segera, beberapa pengawal langsung menghampiri Gabriel dan membukakan pintunya.


"selamat datang kembali tuan,"ucap beberapa pengawal. yang telah berdiri di samping kiri dan kanan mobil milik Gabriel.


Sementara Gabriel yang melihat itu, hanya menganggukkan kepala. kemudian melangkahkan kakinya, untuk masuk ke dalam bangunan megah itu.


Tiba-tiba saja, Gabriel menghentikan langkahnya. saat kedua matanya, menangkap seorang wanita yang tengah berlari menghampirinya.


"Melia, kenapa dia lari-lari seperti itu?"tanya Gabriel Soraya mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan tingkah laku sepupunya itu.

__ADS_1


sementara Melia, wanita itu langsung menghentikan langkahnya. saat kedua matanya menatap ke arah Gabriel.


hosh hosh hosh


Suara hembusan nafas wanita itu memburu. menandakan bahwa wanita itu sangat kencang dalam berlari untuk menghampiri sepupunya itu.


"kenapa? kau seperti dikejar setan saja,"ucap Gabriel Seraya membenarkan letak kacamatanya.


"istrimu terluka!"setelah berhasil mengatur detak jantung dan juga daru nafasnya.


Sontak saja, ucapan dari sepupunya itu membuat wajah Gabriel tiba-tiba mengeras. menandakan bahwa laki-laki itu, merasa tidak suka dengan berita yang baru saja ia dengar itu.


"di mana dia sekarang?"tanya Gabriel Seraya menatap ke arah Melia dengan tatapannya sangat dingin.


Melia yang melihat itu, seketika menyunggingkan senyuman tipis."sepertinya dugaanku benar. dia sudah mulai mencintai dan mulai memberikan hatinya untuk istrinya itu,"gumam wanita itu dalam hati.


"kau tunggu di luar,"ucap Gabriel Seraya melirik ke arah sepupunya itu dengan tatapan datarnya.


Melia yang mendengar itu, seketika mendengus kesal. "siapa juga yang ingin masuk, aku masih ada banyak kerjaan. untuk apa pula, aku melihat kemesraan sepasang kekasih,"gerutu Melia saat melihat tingkah sepupunya itu yang sangat menyebalkan.


Tanpa disadari oleh Melia, ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. namun dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung membentuk sebuah senyuman tipis.


*****

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar, terlihat Laura tengah meringkuk di balik selimut dengan isak tangis yang memang ia tahan agar tidak mengganggu ketenangan orang-orang di mention itu. padahal Laura tidak perlu menahannya. karena kamar ini sudah dilengkapi dengan alat peredam. tentu saja hal itu atas perintah dari Gabriel.


Karena laki-laki itu tidak ingin, privasinya di dalam kamar diketahui oleh orang luar. dan untuk itulah, semua kamar diberi alat peredam suara. agar tidak mengganggu aktivitas yang lainnya.


Laura tersentak kaget saat merasakan selimutnya ditarik oleh seseorang. dan dengan segera, wanita itu, mendongakkan kepala. menatap ke arah siapa orang yang berani mengusik ketenangan hatinya.


"Tu.. Tuan Gabriel, anda sudah kembali?"tanya wanita itu mencoba bangkit dari tempat tidur. walaupun tubuhnya, terasa lemas tak berdaya.


Karena, tamparan yang diberikan kepada ayahnya itu, sangatlah kuat. hingga membuat suhu tubuhnya seketika menggigil.


"apa ini sakit?"tanya Gabriel Soraya menyentuh ke arah sudut bibir Laura yang sedikit robek dan mengeluarkan darah itu.


Laura yang merasakan itu, seketika memejamkan mata. dan tak terasa, cairan bening seketika mengalir dari kedua sudut matanya.


Tanpa basa-basi, Gabriel langsung mengambil kotak obat yang memang terletak di setiap kamar yang ada di Mansion itu. tujuannya adalah, agar dapat menjangkau hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini.


Gabriel segera menarik tangan Laura. hingga membuat wanita itu, seketika langsung terduduk di sebelah Gabriel.


"aww! pelan-pelan Tuan, ini sangat sakit," keluh Laura. Seraya sesekali, wanita itu akan meringis saat merasakan perih yang ada di permukaan kulitnya.


"ke depannya, kau harus terbiasa dengan seperti ini. karena sebagai bagian dari keluarga Iskandar, hal seperti ini sudah biasa. bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kami."ucap Gabriel Soraya meletakkan plester ke dalam luka yang telah diobati itu.


Nb : mampir yuk ke cerita temanku, dijamin gak akan nyesel.

__ADS_1



__ADS_2