
Satu Bulan kemudian.....
Kondisi Laura semakin hari semakin membaik. Karena Wanita itu, benar-benar mendapatkan semua yang ia inginkan selama mengandung dari Gabriel dan orang-orang yang bekerja di Mansion laki-laki itu.
Laura benar-benar merasa sangat beruntung dapat menikah dengan laki-laki itu. walaupun di awal pernikahannya, Gabriel sangat membenci Laura. karena menganggap, bawa istrinya itu adalah penyebab dirinya gagal bertunangan dengan Elmira mantan kekasihnya.
Namun setelah mengetahui semua faktanya, Gabriel tak henti-hentinya merasa sangat bersyukur. karena bisa lepas dari wanita itu.
"Gabriel, bangun!" ucap Laura Saraya menepuk-nepuk wajah dari suaminya itu. Namun bukannya membuka mata, Gabriel malah justru menghadap ke arahnya dan memeluk Laura dengan erat.
Tentu saja hal itu membuat Laura berusaha keras untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.
"lepas Gabriel kau menyakitiku,"ucapnya Saraya berusaha mendorong tubuh kekar suami.
Karena memang, usia dari kandungan Laura telah memasuki trimester terakhir dalam kehamilan. sehingga wanita itu, selalu merasa kegerahan. Tentu saja ucapan dari istrinya itu, membuat Gabriel dengan sigap, langsung melompat turun dari tempat tidur.
"sayang, aku mohon maafkan aku,"ucap laki-laki itu, Seraya berlutut di hadapan Laura. dengan mengusap perut buncit istrinya itu, yang semakin lama semakin membesar.
__ADS_1
Tentu saja, hal itu membuat Laura semakin merasa tercengang. wanita itu semakin tidak mengerti dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Gabriel.
"Kau tidak perlu sampai segitunya, aku tidak apa-apa kau jangan khawatir."ucap Laura yang langsung diri dari posisi duduknya itu.
Laura dengan segera, melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar mandi. sungguh, reaksi berlebihan dari Gabriel itu, membuat Laura merasa semakin pusing.
"ssshh sampai kapan ini akan terjadi?"ucap Laura Seraya mendesis pelan. kemudian, kedua mata indahnya menatap ke arah perut yang semakin lama semakin besar itu.
"apakah kelakuan Gabriel ini akan hilang? tapi ini sudah memasuki usia tujuh bulan, tapi kenapa perilaku Gabriel masih seperti itu? bukankah perilaku-perilaku aneh itu, hanya berlaku di trimester awal dan juga kedua?" Laura bertanya masih pada dirinya sendiri.
Ini tidak bisa dibiarkan. Laura harus mencari solusi yang tepat untuk menangani masalahnya ini. karena memang, Gabriel adalah seorang pemimpin. sangat tidak diuntungkan jika laki-laki itu mengalami hal-hal seperti itu. apalagi, jika nanti dia bertemu dengan musuh-musuhnya. itu malah akan menambah runyam masalah yang ada.
Bagaimana tidak canggung, laki-laki itu hampir saja menjadi suaminya. walaupun Laura tahu, itu hanyalah tipu daya dari usaha untuk menjodohkan dia dan juga Gabriel. tapi tetap saja, mereka pernah menjalin hubungan walaupun hanya beberapa bulan.
"pers*tan dengan perasaanku!"ucap Laura pada dirinya sendiri.
Wanita itu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar. dan ternyata, di dalam kamar itu masih terdapat Gabriel yang masih asik duduk dengan membaca buku seputar kehamilan.
__ADS_1
"Kau mau ke mana?"tanya Gabriel saat laki-laki itu melihat istrinya melangkahkan kakinya menuju ke pintu.
Sementara Laura yang mendengar itu, tidak langsung menjawab. karena Wanita itu tahu, jika Gabriel memiliki tingkat kecemburuan yang lebih pada Ayahnya sendiri. walaupun, James dan yang lain telah mencoba berbicara dengan laki-laki itu.
Namun, semua sia-sia saja. karena Gabriel tetap pada pendiriannya. yaitu menganggap sang ayah, sebagai rival atau bahkan musuh dalam mendapatkan Laura. padahal sudah jelas, bahwa wanita itu kini telah menjadi miliknya. dan bahkan sebentar lagi akan melahirkan buah cinta mereka.
"jawab sayang, kamu mau kemana?"tanya Gabriel sekali lagi.
Laura yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang. "aku mau bertemu Ayah. Gabriel,"ucap wanita itu Seraya menatap ke arah suaminya.
Dengan cepat, Gabriel menggelengkan kepalanya."tidak boleh, kau tidak boleh bertemu dengan laki-laki tua itu."ucap Gabriel dengan tegas.
"meemangnya, kenapa?"tanya Laura dengan raut wajah penasaran. walaupun sebenarnya, Wanita itu telah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Gabriel.
"pokoknya sekali tidak tetap tidak!"ucapnya dengan raut wajah merah padam. menandakan bahwa Gabriel saat ini, benar-benar merasa sangat kesal.
Namun, itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Laura. Karena Wanita itu tetap melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar. dan dengan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift. yang membawanya, ke lantai dasar.
__ADS_1
Gabriel yang melihat itu, seketika membulatkan kedua matanya. dengan segera, laki-laki tampan itu melompat dan langsung keluar dari dalam kamar.
"****,"umpatnya kesal. saat melihat pintu besi itu, telah tertutup rapat. tidak ingin ambil pusing, Gabriel segera berlari dengan kencang untuk menuruni anak tangga. karena memang saat ini, dirinya dan juga Laura tengah berada di lantai paling atas Mansion itu.