Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 63


__ADS_3

Saat ini, Gabriel tengah berada di samping istrinya. dan tangan laki-laki itu, tak henti-hentinya mengusap perut buncit milik Laura. dan terkadang, mencium perut bulat itu, dengan gemas.


"gemes banget sih anak Daddy,"ucapnya dengan sesekali mengusap perut itu.


Tentu saja hal itu membuat Laura yang merasakannya, mencoba untuk menyingkirkan tangan laki-laki itu. karena Laura merasa, perlakuan dari Gabriel itu membuatnya tidak nyaman.


"stop Gabriel, kau membuatku merasa tidak nyaman!"ucap Laura Seraya menahan tangan laki-laki itu. yang saat ini, hendak menyentuh perutnya kembali.


"memangnya kenapa? apa sekarang kau melarangku untuk mengusap perut istriku sendiri?"tanya Gabriel dengan raut wajah sedih dan mata berkaca-kaca.


"astaga!"gumam Laura yang merasa sangat terkejut saat melihat tingkah tidak biasa dari laki-laki itu.


"Bu... bukan begitu maksudku Gabriel, aku hanya tidak ingin kau mengusap perutku terlalu sering. karena itu membuat anak kita tidak akan pernah nyaman di dalam sana,"ucap Laura dengan cepat.


Wanita itu, merasa sangat kebingungan. dengan tingkah laku yang dilakukan oleh suaminya itu. "kenapa dia jadi cengeng seperti ini sih?"ucapnya Seraya menghela nafas panjang.


Gabriel dengan segera membaringkan kepalanya dipaha milik Laura. hingga membuat wanita itu, merasa sedikit terkejut.


"bolehkah aku tidur sebentar, aku merasa sangat lelah."ucap Gabriel Seraya memejamkan mata.


Tak lama berselang, terdengar dengkuran halus dari laki-laki itu. yang menandakan, bahwa saat ini Gabriel telah tertidur pulas.


"cepat sekali tidurnya,"gumam wanita cantik itu Seraya memandangi maha karya Tuhan yang begitu sempurna yang saat ini tersaji di hadapannya itu.

__ADS_1


Laura bukannya tidak memiliki perasaan terhadap suaminya itu. Dia sangat mencintai Gabriel. bahkan mungkin, lebih besar dari laki-laki itu mencintainya. namun untuk memperlihatkan kepada orang lain, itu bukanlah keahlian dari wanita cantik itu.


Karena memang Laura, tidak menginginkan jika kemesraannya itu diumbar-umbar ke khalayak ramai. karena menurut Laura, tindakan itu sangatlah alay dan kekanak-kanakan.


Tangan lentik wanita itu, mengusap dengan lembut kepala suaminya. dan tak lama berselang, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"semoga anakku mirip dia, tampan dan juga berwibawa."gumam Laura dengan masih menampilkan senyuman manis di bibirnya.


Tak lama berselang, Theo dan juga James keluar dari ruangan Gabriel. kedua laki-laki paruh baya itu, seketika saling pandang. saat melihat, pemandangan yang ada di hadapan mereka itu.


"aku tidak percaya, ternyata putramu itu bisa secinta itu pada istrinya." ucap Theo menatap ke arah James dan juga Gabriel secara bergantian.


"kita memiliki pikiran yang sama."James berkata Seraya menatap ke arah Laura dan juga Gabriel secara bergantian. "bahkan aku mengira, putraku itu akan sulit menerima kehadiran dari Laura."sambungnya.


"kau ini dari mana?"tanya Theo Seraya menatap Melia.


"dari supermarket, memberikan pesanan dari sepupuku ini."ucap Melia Seraya menyerahkan barang-barang belanjaan kepada Laura.


"sejak kapan Gabriel menyukai semua ini?"tanya Theo dan juga James secara bersamaan.


"bukan Gabriel. Ayah, tapi Laura,"ucap Melia Saraya mendaratkan punggungnya di kursi empuk sebelah Laura.


"kenapa?"tanya James yang memang tidak mengerti.

__ADS_1


"karena selama ini, putramu itu melarang istrinya untuk makan makanan seperti mangga dan juga sosis bakar."ucap Melia Seraya melirik ke arah sepupunya itu dengan kesal.


Sementara Theo dan juga James yang mendengarnya, seketika saling pandang. tak lama berselang, kedua laki-laki paruh baya itu menatap ke arah Laura.


"astaga, jangan sampai cucuku nanti mengeluarkan air liur karena keinginan ibunya tidak tersampaikan."ucap James.


Tentu saja perkataan dari laki-laki paruh baya itu, membuat Laura memeras sangat terkejut. "memangnya bisa begitu ayah?"tanya Laura dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"bisa Laura, bahkan dulu Melia juga mengalami hal seperti itu. karena aku, tidak bisa menuruti keinginan ibunya."bukan James yang menjawab. melainkan Theo.


Laura yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. "tidak! aku tidak ingin anakan aku seperti itu,"ucapnya dengan cepat mengambil mangga itu.


Tangan Melia dengan segera terulur dan langsung mengambil mangga itu dari tangan Laura.


"ini masih banyak kuman. biar aku suruh para pekerja untuk membuatkannya."setelah mengatakan hal itu, Melia segera memerintahkan beberapa pelayan melalui intercom yang terpasang di telinganya.


"ini tolong kalian bersihkan. dan buatkan Nyonya kalian rujak!"ucap Melia saat mendapati dua pelayan itu telah berada di hadapannya.


Kedua pelayan itu, bukannya mengambil malah mereka saling pandang. dan Melia Yang menyadari akan hal itu, segera angkat bicara.


"tidak masalah, ini hanya rujak bukan racun."


Kedua pelayan itu, akhirnya menganggukkan kepala. dan dengan segera, membawa paper bag itu. tanpa disadari oleh mereka semua, ada seseorang yang menatap dan menyaksikan itu, dengan senyuman menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2