
Saat ini, Gabriel tengah menatap Laura, dengan tatapan kesalnya. karena laki-laki tampan itu, baru saja membuka mata dan mendapati kenyataan, bahwa istri kesayangannya telah melanggar larangan darinya.
Bukan tanpa alasan Gabriel melakukan larangan itu. laki-laki itu hanya tidak ingin, terjadi pada istrinya itu. apakah salah jika dirinya menjaga barang berharga miliknya? mengapa Laura sangat susah sekali untuk diberitahu.
"tidak usah memasang wajah seperti itu,"ucap Melia Yang melirik ke arah sepupunya itu. tentu saja ucapan dari wanita tomboy itu, membuat Gabriel melayangkan tatapan membunuh ke arah wanita tomboy itu
"kalau sampai terjadi apa-apa dengan istri dan calon anakku, maka kalian semua akan aku cari sampai ke neraka!"Gabriel dengan raut wajah merah padam.
Menandakan bahwa laki-laki itu saat ini, tengah terbakar nafsu amarah yang sangat besar.
"jangan turuti amarahmu Gabriel,"ucap James seraya menepuk pundak putranya.
"benar apa yang dikatakan ayahmu, seseorang yang diliputi oleh amarah, berarti telah dikuasai oleh setan!"ucap Theo yang ikut menimpali.
Sementara Laura, wanita itu tidak memperdulikan raut wajah kusut suaminya. yang jelas saat ini, dirinya tengah asik menikmati rujak buah mangga dan juga nanas yang dibuatkan langsung oleh Melia dibantu oleh para pekerja di Mansion itu.
"Gabriel ini memang benar-benar over protektif sekali, memangnya kenapa kalau aku makan buah seperti ini? bukankah dokter Luis telah mengatakan bahwa ini baik-baik saja? lalu kenapa dia seperti orang yang kebakaran seperti itu?" pikir Laura dalam hati.
Sikap acuh dari Laura itu, semakin membuat Gabriel merasa sangat kesal. dengan segera, laki-laki itu melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar.
Karena semakin lama laki-laki itu berada di dekat Laura, maka semakin kesal pula hati laki-laki itu. Gabriel hanya tidak ingin, dirinya kembali berbuat kasar terhadap wanita itu. Karena sekarang, Laura telah menjadi bagian terpenting dalam hidup Gabriel.
__ADS_1
Walaupun, laki-laki itu belum meresmikan Laura secara langsung ke hadapan khalayak umum. karena rencananya, Gabriel akan meresmikan semuanya saat anak mereka lahir ke dunia.
"Kau mau ke mana?"tanya James saat melihat putranya melangkahkan kaki menjauh dari kumpulan mereka.
"kamar!"ucap Gabriel singkat padat dan juga jelas.
Setelah mengatakan hal itu, laki-laki tampan itu segera masuk ke dalam kamar. dan pergerakan dari Gabriel, selalu diikuti oleh Brian dari belakang.
Tentu saja, hal itu membuat Melia yang melihatnya, merasa bingung dan juga keheranan. "kenapa jika ada Gabriel, kenapa selalu ada Brian di belakangnya?"tanya wanita tomboy itu dalam hati.
Melia terus memperhatikan kepergian dari dua laki-laki itu. hingga keduanya, hilang ditelan pintu besi.
Melia yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya."his aku mikir apa sih?"tanya wanita itu Seraya memukul kepalanya berkali-kali.
Setelahnya, wanita tomboy itu kembali bergabung dengan Laura yang masih asik menikmati rujak buah itu. dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap kegiatan itu dengan tatapan penuh dengan kebencian.
"tidak akan lama lagi, keluarga kalian akan hancur."ucap orang itu Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. sebelum akhirnya, memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu.
*****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di keluarga Avoss, terlihat mereka tengah berbincang dengan serius. tak lama berselang, terdengar ponsel milik seorang dari mereka berdering.
__ADS_1
"sebentar Ayah ada telepon,"ucap Enriq segera merogoh saku celananya. mengambil benda pipih milik laki-laki itu.
"ada apa?"tanya laki-laki paruh baya itu saat sambungan ponsel itu telah terhubung.
" aku sudah menjalankan rencana kita. sekarang, apalagi yang harus aku lakukan?"tanya orang itu dari seberang sana.
Tentu saja, hal itu membuat Enriq yang mendengarnya, seketika tersenyum penuh kemenangan.
"bagus kau memang bisa diandalkan adikku sayang,"ucap Enriq dengan tertawa kecil.
"kau jangan tertawa saja, kau tidak lupakan dengan pesananku itu?"tanya orang itu dari seberang sana.
"kau tenang saja adikku sayang, Kau pasti akan mendapatkan reward yang sangat besar jika semuanya berjalan dengan lancar."ucap laki-laki paruh baya itu dengan keyakinan penuh.
"baiklah kalau begitu, aku tunggu semua janji-janjimu."setelah mengatakan hal itu, seseorang di seberang sana segera menutup panggilan telepon itu.
"bagaimana?"tanya Elmira saat wanita itu melihat Ayahnya telah kembali duduk di samping sang kakak.
"semua berjalan sesuai rencana sayang,"ucap laki-laki paruh baya itu dengan tersenyum lebar.
Hal itu pun, diikuti oleh yang lainnya. mereka merasa sangat senang. karena sebentar lagi, kehancuran akan segera terjadi di keluarga Iskandar.
__ADS_1