
Laura tersenyum dengan senyuman yang sangat manis, saat wanita itu keluar dari dalam lift. dan mendapati, beberapa pekerja di rumah itu, tengah menunduk hormat terhadapnya.
"Nyonya Iskandar," Laura menoleh saat mendengar, suara seseorang yang memanggilnya dari arah belakang.
Laura menatap bingung ke arah wanita paruh baya yang sering ia jumpai memasang wajah judesnya itu, sekarang menatapnya penuh dengan tatapan kelembutan. siapa lagi orangnya jika bukan Merry.
"iya Merry, ada apa?"tanya Laura dengan raut wajah kebingungan.
Sementara wanita paruh baya itu, hanya tersenyum Seraya menggelengkan kepala. dan setelahnya, kembali masuk ke dalam kamar. tentu saja, hal itu membuat Laura, merasa sangat kebingungan. namun tak lama berselang, wanita paruh baya itu Kembali keluar dari dalam kamarnya dengan membawa secangkir teh yang ada di tangannya.
"ini silakan di minum nyonya,"ucap wanita paruh baya itu Seraya menyerahkan secangkir minuman yang berwarna kuning itu.
Dengan segera, Laura menerimanya. Namun, masih dengan ekspresi wajah kebingungan."ini apa Merry?"tanyanya Seraya menatap ke arah wanita paruh baya itu.
"itu hanya ramuan penguat,"ucap Merry Soraya tersenyum tipis.
Laura yang mendengar itu, sejenak terdiam. kemudian, matanya kembali menatap ke arah wanita paruh baya itu. dan dengan perlahan, wanita cantik itu meminum ramuan itu. saat melihat ekspresi wajah Merry yang sangat tenang.
"aku yakin ini tidak ada yang dimasukkan ke dalam minuman ini,"gumamnya dalam hati Seraya perlahan-lahan mulai meneguk minuman itu hingga tanda.
Sementara Merry yang melihat itu, seketika tersenyum dengan senang. rencananya sebentar lagi akan berhasil. yaitu, menyingkirkan para pengganggu di Mansion itu. ramuan itu bekerja akan sangat lambat paling lama 1 bulan setelah meminum ramuan itu, Laura akan merasakan perutnya seperti ditusuk-tusuk. dan setelahnya, sesuatu yang ada di dalam perut wanita itu, akan keluar dengan sendirinya dalam keadaan tak selamat. alias keguguran.
"akhirnya rencanaku berhasil,"gumam wanita tua itu dalam hatinya. "semua pasti tidak akan pernah mencurigaiku. karena memang, racun itu bekerja sangat lambat."gumamnya Seraya tersenyum miring.
Laura yang telah menghabiskan minuman itu, segera melangkahkan kakinya untuk menuju pintu utama Mansion itu. karena dirinya, harus benar-benar menemui Ayah mertuanya itu.
__ADS_1
"Laura Kau mau ke mana?"tiba-tiba saja, wanita itu menghentikan gerakan langkahnya. saat Indra pendengarannya, tak sengaja menangkap suara yang familiar.
Dengan segera, wanita cantik itu menoleh. dan sejenak, merasa sangat terkejut. karena ternyata, di hadapannya saat ini terlihat Melia, Theo dan juga James, tengah menatapnya.
"akhirnya kalian datang juga,"ucap Laura tersenyum lega. karena dirinya, tidak perlu repot-repot untuk datang ke Mansion utama. karena ternyata Ayah mertuanya itu, telah menemuinya.
"memangnya kenapa? bukankah kau belum membuat janji denganku?"tanya James dengan raut wajah kebingungan.
"iya memang aku belum janji dengan Ayah. tapi, baru saja aku kabur dari Gabriel. karena laki-laki itu, tidak mengizinkan aku untuk menemui Ayah."ucapnya dengan raut wajah yang kembali kesal.
Mengingat bagaimana posesifnya laki-laki itu terhadap Laura. sementara Melia yang mendengar itu, malah terkekeh pelan. seperti ada sesuatu yang lucu. tentu saja hal itu membuat Laura yang melihatnya, seketika mendengus kesal.
"ada apa kau menemuiku?"tanya James menatap ke arah menantunya itu.
"aku sudah tahu,"ucap laki-laki paruh baya itu."untuk itulah aku datang kemari. karena sepertinya, untuk beberapa waktu kedepan ini, suamimu tidak bisa diandalkan."lanjut James.
"omong-omong, sekarang berapa usia kandunganmu?"tanya Theo. Seraya menatap ke arah perut Laura yang tampak bulat dan sangat besar.
"baru memasuki usia tujuh bulan, paman."ucap Laura Seraya tersenyum kecil.
Sementara Theo, laki-laki yang seusia dengan James itu, kini menatap Melia dengan tatapan yang sulit diartikan. membuat wanita itu, seketika memalingkan wajahnya. karena Melia tahu, apa yang dimaksud oleh Ayahnya itu.
"aku tidak mau Ayah,"ucap Melia dengan tegas.
"memangnya kenapa?"tanya Theo yang merasa sangat penasaran. karena memang, putrinya itu akan selalu menolak jika membahas tentang pendamping hidup.
__ADS_1
"pokoknya aku nggak mau!"tegas Melia Seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati istri sepupunya itu.
Theo yang mendengar itu, hanya dapat menghela nafas panjang. laki-laki paruh baya itu menoleh, saat merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang yang tak lain adalah James.
"kau tenang saja aku mempunyai calon untuk anakmu,"ucap James berbisik pada saudaranya itu.
"siapa?"tanya Theo yang penasaran.
"Brian, bukankah dia laki-laki sejati?"tanya James memberikan usul.
"boleh juga idemu,"sahut Theo.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, mereka semua dikagetkan dengan kedatangan Gabriel yang menatap Laura dengan tatapan tajamnya.
Tanpa basa-basi, laki-laki itu langsung menarik tangan istrinya untuk menjauh dari orang-orang itu.
"sudah aku katakan, kenapa kau masih membantah?"tanya Gabriel dengan pandangan mata yang menatap ke arah ketiga orang itu.
Laura yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang."aku hanya bertemu dengan Ayahmu. lagi pula kita tidak berdua. ada Melia dan juga Paman Theo."ucapnya Seraya mendengus kesal.
Theo dan juga James yang mendengar itu, kompak menggelengkan kepalanya."simpan saja kecemburuanmu itu. ada yang lebih penting dari semua itu,"ucap theo dengan lantang.
"apa?"tanya Gabriel masih dengan nada kesalnya.
"ikuti kami,"ucap James menarik tangan putranya untuk masuk ke dalam ruangan rahasia.
__ADS_1