Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 23


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan keluarga Elmira, Gabriel segera menuju dalam mobilnya. karena dirinya harus pulang untuk memberitahu pada wanita itu tentang semua ini.


Tujuannya hanyalah ingin memperingatkan wanita itu agar tidak berbuat aneh-aneh jika nanti Elmira telah tinggal di mansion itu.


"Brian, tolong segera percepat perjalanan. aku ingin, kita sampai di mansion lebih cepat dari biasanya."ucap Gabriel penuh dengan penekanan.


"baik Tuan,"


Setelah mengatakan hal itu, Brian segera mempercepat perjalanan dengan menambah kecepatan di atas rata-rata. namun tiba-tiba saja,...


ciittt...


Brian menghentikan laju kendaraannya. membuat Gabriel hampir saja terbentur. jika laki-laki itu, tidak pandai menyeimbangkan dirinya.


"apa yang kau lakukan Brian?!"tanya Gabriel dengan menatap tajam ke arah laki-laki itu.


"ma... maafkan saya Tuan, tapi di depan, sepertinya kita dihadang."ucap Brian Seraya menunjuk ke arah seberang jalan sana.


Terlihat dua mobil besar seperti tengah menghadang mobil milik Gabriel.


"apa kau bisa mengatasinya sendiri?"tanya Gabriel pada Brian.


"tentu saja bisa,"ucap Brian dengan percaya dirinya. laki-laki yang usianya lebih muda dari Gabriel itu, segera keluar dari dalam mobil dan langsung menghadang mereka.


"wah ternyata cucunguk keluarga Iskandar, ingin melawan kita seorang diri,"ucap mereka pada anak buahnya.


"Dia pikir dia hebat,"sahut yang lainnya disertai tawa menggema yang saling mengejek ke arah Brian.


Sementara Brian, laki-laki yang memiliki perawakan sedikit kurus itu, menatap para hama itu dengan tatapan yang meremehkan. dan tiba-tiba saja,...


bugh


bugh


bugh


Brian menghantam kepala para pemimpin itu dengan balok kayu yang kebetulan tergeletak di samping jalan dekat tubuhnya.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat semua yang ada di hadapan Brian, melangkah mundur karena mereka sama sekali tidak melakukan persiapan.


"sialan kau!"teriak mereka semua dengan tatapan penuh amarah. dan dengan secepat kilat, mereka semua telah melingkari tubuh Brian dan bersiap akan menghajar laki-laki itu.


bugh


bugh


bugh


krakkk


Dugh


"aaarrrgggh!!"


Brian berhasil melumpuhkan salah satu diantara mereka dan mematahkan tulang tangan laki-laki itu. dan dengan segera, mendorong tubuh pria itu ke jalan. melihat hal itu, tatapan yang lain semakin merasa geram terhadap laki-laki itu.


Dengan secepat kilat, mereka semua segera maju secara bersamaan untuk menghajar Brian yang berada di tengah-tengah mereka seorang diri.


"dasar sombong! pasti kali ini kau akan kalah!" ucap salah satu dari mereka seraya melayangkan tangannya, hendak menghantam wajah Brian. namun, dengan mudahnya laki-laki itu mampu menangkis gerakan tangan itu. dan memilinya ke arah belakang tubuhnya.


"menyingkir kalian dari sini, atau kalian akan menyesal!" ancam Brian penuh dengan amarah.


Namun, hal itu tentu saja tidak diikuti oleh semua orang yang ada di sana. karena memang mereka berniat ingin menghabisi Gabriel dan pengawal pribadinya itu. di jalan yang sepi seperti ini.


Karena kawasan ini, bukanlah kawasan dari keluarga Iskandar. tentu saja pengawasan di sini tidak sekuat dan seketat di jalan yang dikuasai oleh keluarga Iskandar. dengan demikian, mereka berpikir akan bisa melumpuhkan Gabriel dan anak buahnya di tempat ini.


Mereka segera mengepung mobil milik Gabriel. di mana saat ini, laki-laki itu masih duduk dengan tenang di dalam mobil itu.


"keluar kau b4j1n9an!"teriak salah satu diantara mereka Seraya menggebrak pintu mobil dengan sangat kuat.


Gabriel yang melihat itu, seketika amarahnya meledak-ledak. dengan gerakan kasar, laki-laki itu membuka pintu mobil dengan kecepatan tinggi. hingga membuat orang yang ada di sebelah sana, terhuyung ke belakang.


bugh


bugh

__ADS_1


bugh


sluppp


Pukulan demi pukulan, menghantam tubuh mereka secara bergantian tak terkecuali Gabriel. Namun demikian, laki-laki tampan itu mampu menghindar beberapa kali dari hantaman benda tumpul yang sengaja mereka bawa untuk melancarkan aksi mereka.


Namum hal itu, tentu saja dapat diselesaikan oleh Gabriel. bahkan laki-laki tampan itu, hampir saja terkena beberapa panah yang sengaja memang dibawa oleh beberapa orang itu. Namun dengan segera, Gabriel merebut panah itu dan menancapkannya tepat di dada para orang itu secara bergantian.


Tentu saja, teriakan dan erangan memenuhi jalanan yang sepi itu. dan sesaat kemudian, mereka akhirnya terkapar tak sadarkan diri karena rasa sakit yang ditimbulkan dari panah itu. yang memang telah dimodifikasi oleh mereka dengan sebuah racun yang mematikan.


Mereka semua berencana akan menghabisi Gabriel dengan menggunakan panah itu. pernah di dalam tanah itu terdapat racun yang sangat langka. prosesnya pun sangat lambat. sehingga korban yang terkena panah itu, akan perlahan-lahan kehilangan kekuatan tubuhnya. sehingga setelah beberapa saat kemudian, akan kehilangan nyawanya.


"Brian ayo kita pergi!"ucap Gabriel dari tempatnya berdiri. laki-laki tampan itu menoleh ke arah asisten sekaligus sopir pribadinya.


Brian yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala. berjalan menghampiri Gabriel untuk masuk ke dalam mobil.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang ternyata masih terselamatkan. berdiri di balik pohon tak jauh dari tempatnya berdiri. dan tiba-tiba saja,...


sluuurrpp!!


"akkhhh!"


"Tuan!!"


Brian sangat terkejut saat mendapati Tuannya telah berlutut Seraya memegangi betisnya yang tertancap oleh sebuah panah yang sangat kecil.


"Tuan tidak apa-apa?"tanya Brian dengan raut wajah yang sangat panik. dan dengan segera, memapah tubuh laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil. sebelumnya, laki-laki itu segera mencabut panah itu. dan melemparkannya tepat pada orang yang masih bersembunyi di balik pohon.


Sluupp


Panah itu menancap tepat di kepala laki-laki itu. dan seketika itu pula, laki-laki itu langsung terkapar di tempat dengan nafas yang terhenti seketika. Brian menepuk-nepuk tangannya seperti baru saja menyentuh kotoran. dan dengan segera laki-laki itu masuk ke dalam mobil.


"kita harus ke rumah sakit Tuan,"ucap Brian menoleh ke arah Gabriel. dengan raut wajah yang sangat khawatir. karena laki-laki itu melihat raut wajah dari majikannya telah pucat seperti mayat hidup.


Gabriel yang mendengar itu, segera menggelengkan kepalanya. "tidak usah kita langsung saja ke mansion. biar Laura saja yang merawatku."ucap Gabriel Seraya memejamkan mata.


Karena laki-laki itu menahan rasa sakit yang luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya. mendengar ucapan Tuannya, Brian merasa sangat bimbang. bagaimana bisa wanita itu akan merawat tuanya dengan baik. apalagi setelah perlakuan buruk yang pernah wanita itu terima, ah rasanya tidak mungkin.

__ADS_1


"tapi Tuan,"ucap Brian hendak mengatakan sesuatu pada Gabriel. Namun, seketika terhenti saat mendengar ucapan dari laki-laki itu.


"kau tidak usah khawatir, aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal itu!"ucap Gabriel dengan penuh keyakinan.


__ADS_2