
Sesampainya di Mansion, Gabriel langsung membuka pintu mobilnya sendiri. tanpa harus memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membukakan pintu seperti biasa.
Tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, rasa begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Karena seumur-umur, saat mereka bekerja di Mansion itu, mereka tidak pernah melihat Gabriel melakukan semuanya sendiri. alasannya adalah, bukannya tidak mampu. namun alasan Gabriel menggaji mereka, adalah salah satunya untuk memudahkan semua pekerjaannya.
Para pekerja di Mansion itu pun, sudah terbiasa dengan perintah yang diberikan oleh Gabriel kepada mereka. namun hari ini, mereka dibuat keheranan dengan tingkah laku laki-laki itu.
"di mana Laura?"tanya Gabriel saat laki-laki itu masuk ke dalam Mansion dan tidak menemukan Di mana keberadaan istrinya.
"Nyonya ada di kamarnya. Tuan,"ucap salah satu pelayan itu Seraya menunjukkan Di mana keberadaan wanita itu.
Tanpa menjawab apapun, Gabriel langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar wanita itu. dan langsung menutupnya dengan rapat-rapat.
"ada apa dengan Gabriel?"tanya Melia saat wanita itu tidak sengaja melihat tingkah sepupunya itu yang menurutnya sangat aneh.
"kami juga tidak tahu Nona,"ucap para pelayan itu Seraya menunduk hormat. Melia yang mendengarnya, segera memutar otak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Karena Wanita itu, selain sedikit tomboy dan kuat, jiwa Keponya juga sangat tinggi. "ada apa dengan anak itu?"tanya Melia pada dirinya sendiri dengan tangan yang masih mengetuk-ngetuk kepalanya.
Sementara Brian yang melihat tingkah dari wanita itu, secara perlahan tapi pasti menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang sangat tipis. "benar-benar perempuan yang sangat unik."gumam laki-laki itu pelan.
__ADS_1
"siapa yang kau bilang unik?"tanya Melia Seraya menatap ke arah laki-laki itu. membuat Brian, seketika menatap lurus ke depan.
"tidak ada Nona,"setelah mengatakan hal itu, Rian segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Mansion utama.
"dasar aneh, kenapa orang-orang di mansion ini sangat aneh?"tanya Melia Saraya menggerutu kesal Soraya kakinya sesekali mahentak-anta ke atas lantai.
Setelah puas menggerutu, wanita itu segera melangkahkan kakinya kembali untuk masuk ke dalam kamar miliknya. karena menurutnya, percuma juga dirinya berada di sini. karena tidak akan ada informasi yang ia dapat.
"sudahlah lebih baik aku kembali ke kamar, sepertinya menonton drakor lebih baik daripada melihat drama yang tidak jelas seperti ini,"setelah mengatakan hal itu, Melia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift dan menuju ke kamarnya yang memang berada di lantai 3.
Melia memang sengaja meminta Gabriel untuk memindah kamarnya. agar wanita itu, dapat melakukan hobinya dengan tenang. karena menurut Melia, berada di lantai 3 adalah solusi yang terbaik. karena di sana, tidak ada orang yang akan mengganggu.
Namun, bukan Melia jika tidak bisa mengancam laki-laki itu. sehingga membuat seorang Gabriel Iskandar, tidak dapat menolak perintah dari wanita itu.
"ternyata ini nyaman sekali,"ucap wanita itu Seraya kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk. dan dengan segera, wanita itu mulai memutar VCD drama Korea yang sengaja ia beli dari luar negeri saat kedua orang tuanya baru saja kembali dari perjalanan bisnis.
*****
Sementara itu di lantai dua, lebih tepatnya di kamar Laura, terlihat Wanita itu tengah gelisah. terbukti sejak tadi, Laura terlihat melangkahkan kakinya ke kanan dan ke kiri Seraya menetap pintu yang ada di belakang tubuhnya itu, dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"hiss kenapa aku seperti ini?"tanya Laura saat wanita itu baru saja menyadari tingkah konyolnya yang seperti ulat yang tersiram air garam.
"sudahlah lebih baik aku mandi saja,"ucap Laura melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar mandi.
Namun, baru beberapa langkah wanita itu mengayunkan kakinya, sebuah pintu yang dibuka dari arah luar, menghentikan aktivitasnya.
Tanpa sadar, kedua sudut bibir wanita itu terangkat membentuk sebuah seniman. membuat Gabriel yang melihat itu, juga tanpa sadar membalas senyuman itu. untuk beberapa detik lamanya, mereka berdua saling mengunci satu sama lain dengan senyuman yang saling mengembang.
pyarr
Tatapan mereka berdua, seketika terhenti saat mendengar suara barang yang pecah dari belakang sana.
"astaga!"pekik Laura dalam hati. dengan segera wanita itu membalikkan tubuhnya Seraya sesekali memukul kepalanya sendiri.
"kau itu benar-benar bodoh Laura,"gumam wanita itu dalam hati.
Sementara Gabriel, laki-laki itu masih menatap Laura dengan senyuman pipis di bibir.
"sepertinya aku memang sudah gila,"gumam laki-laki itu dalam hatinya.
__ADS_1