Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 21


__ADS_3

Sementara itu, di lain tempat Gabriel tengah menikmati hawa sejuk di villa miliknya. laki-laki itu membuat janji dengan kekasih dan juga orang tuanya dan menyuruh mereka untuk datang ke villa pribadinya. tentu saja dengan pengawalan yang sangat ketat. karena Gabriel tidak ingin, suatu hal terjadi pada calon istri dan juga keluarganya.


"Brian, apa kau sudah menyuruh mereka untuk menjemput Elmira dan kedua orang tuanya?" tanya Gabriel tanpa menoleh ke arah sang lawan bicara.


"sudah Tuan, mereka akan segera tiba!"ucap Brian dengan menundukkan kepala hormat. sementara Gabriel yang mendengar itu, hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti.


Gabriel mendadak merubah jadwal bertemu dengan keluarga Elmira. yang awalnya berada di kediaman wanita itu, berubah menjadi di villa pribadi laki-laki tampan itu. alasannya karena, Gabriel tidak ingin suasana ramai. apalagi mereka akan membahas suatu hal yang sangat penting.


Pantang bagi seorang Gabriel Iskandar. untuk mengumumkan sesuatu hal yang penting kepada banyak orang. karena laki-laki itu percaya, jika banyak orang yang akan mengetahui hal itu, maka banyak juga musuh yang akan tahu. dan Gabriel tidak ingin, jika wanita kesayangannya sampai menjadi incaran oleh musuh bisnisnya.


Dan soal mengapa Gabriel mengundang orang-orang di dalam pernikahan pertamanya, tentu saja alasannya karena Gabriel tidak menginginkan pernikahan bersama Laura. jika terjadi sesuatu pada wanita itu, Gabriel tidak akan pernah merasa khawatir. karena laki-laki itu tidak memiliki rasa sama sekali pada Laura.


Tentang perasaannya yang hampir saja timbul, dengan mudah Gabriel dapat menguburnya dalam-dalam. karena dendam laki-laki itu lebih besar dari rasa ketertarikannya. sehingga Gabriel dengan mudah dapat melumpuhkan perasaan itu.


"segera suruh para pelayan untuk mempersiapkan makanan yang terbaik yang ada di villa ini."ujar Gabriel pada kepala koki yang kebetulan berada di sana.


"baik Tuan,"ucap laki-laki setengah baya itu Seraya melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah dapur.


Gabriel dengan segera mengambil benda pipih yang ada di dalam saku celananya. kemudian dengan segera, mendail nomor sang kekasih untuk menanyakan keberadaan mereka.


"halo sayang, kok ini ada di mana kenapa lama sekali? kau tahu kan, kalau aku paling tidak suka untuk menunggu?!"tanya Gabriel dengan suara yang ditekankan.


Karena laki-laki tampan itu merasa sangat bosan saat menunggu sesuatu hal yang seperti ini. menurut Gabriel, pekerjaan yang paling melelahkan dan sia-sia adalah pekerjaan menunggu.


"Maaf honey, aku harus perawatan dulu. tapi kamu tenang saja, sebentar lagi aku selesai dan akan langsung menuju ke sana. aku akan menyuruh anak buahku, untuk melajukan mobil secepat mungkin. agar aku dan keluargaku, cepat sampai "ujar Elmira dari seberang sana.

__ADS_1


"tidak perlu!"ujar Gabriel dengan tegas. membuat Elmira yang ada di sana, seketika menegang.


"ke. kenapa? apa kau marah?"tanya Elmira dengan raut wajah tegangnya. karena wanita cantik itu berpikir, jika kekasihnya saat ini tengah marah karena harus menunggu dirinya bersiap-siap.


"bukan. tapi aku sudah mempersiapkan sebuah jet pribadi untuk mendarat di mansion mu,"ucap Gabriel.


Tentu saja hal itu membuat Elmira yang mendengarnya, merasa sangat senang. wanita itu bahkan sesekali melompat kecil karena sesuatu yang ia impikan, akan segera terwujud.


"kamu serius honey?"tanya Elmira untuk memastikan kebenarannya


Gabriel yang mendengar itu, menganggukkan kepala. karena saat ini, mereka tengah melakukan sambungan video call. yang tentu saja, akan melihat ekspresi dari masing-masing. Diam-diam, laki-laki tampan itu tersenyum kecil saat melihat tingkah kekasihnya yang seperti seorang anak kecil itu


"ya sudah kalau begitu, aku mau siap-siap dulu. babay honey!"ucap Elmira dengan nada girang dan juga gerakan ciuman dari jauh.


"jangan lupa dandan yang cantik!"ucap Gabriel Soraya tersenyum kecil.


*****


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di mansion milik Gabriel Iskandar, terlihat Laura tengah duduk santai di depan kolam ikan. karena wanita itu, diperintahkan oleh Merry untuk memberi makan ikan.


"seumur hidupku, baru kali ini aku bekerja sebagai pelayan. padahal, kedua orang tuaku menyekolahkan setinggi mungkin. agar, mendapatkan pekerjaan yang layak. tapi kenapa seperti ini?"gerutu Laura pada dirinya sendiri.


Wanita itu tidak menyadari, jika ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan tajam. kemudian dengan segera, berjalan dengan cepat menghampiri Laura yang masih terduduk Seraya memberi makan ikan.


"jadi seperti ini sifatmu di belakang tuanku?"tiba-tiba saja Merry berkata dengan sedikit kencang.

__ADS_1


Hingga membuat Laura seketika terlonjak kaget. dan dengan segera, langsung menoleh ke arah sumber suara. wanita itu sejenak terdiam. saat melihat wanita paruh baya itu berdiri di belakangnya Seraya berkacak pinggang.


"maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk berkata seperti itu."ucap Laura dengan menundukkan kepala.


Karena wanita itu benar-benar merasa takut. karena dirinya dan keluarga, bukanlah apa-apa dibandingkan keluarga Iskandar. jangan sampai, karena ulahnya itu membuat keluarga penguasa ini menjadi murka.


"alasan! sudah pergi sana, di depan ada orang yang sedang mencarimu!"ucap Merry Seraya merebut makanan ikan yang ada di tangan Laura.


Membuat wanita cantik itu seketika mengerutkan pening. karena merasa kebingungan. Laura merasa, nggak pernah menghubungi seseorang untuk mengajaknya bertemu.


"untuk apa masih ada di sini? segera temui orang itu!"perintah Merry dengan tatapannya sangat tajam menatap ke arah wanita itu.


Laura dengan perlahan bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke arah ruang keluarga. sementara Merry, wanita setengah baya itu, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sesampainya di sana, Laura kembali dibuat tertegun karena tidak menyangka dengan seseorang yang tengah menunggunya di ruang keluarga itu.


"Tuan James,"ucap Laura dengan ada yang salah lirih. tentu saja, wanita cantik itu merasa sangat salah tingkah karena harus menemui laki-laki yang sempat akan menjadi suaminya itu. apalagi, posisi saat ini mereka hanya berdua.


Dengan langkah ragu-ragu dan juga perlahan, Laura berjalan menghampiri laki-laki paruh baya itu. setelah berada di hadapan James, Laura segera duduk di kursi yang berada di seberang laki-laki tua itu.


"maaf tuan, ada apa?"tanya Laura dengan suara yang tertahan. karena wanita itu merasa canggung dengan situasi seperti ini.


"biarkan kami bicara berdua!"perintah James dengan menggunakan alatnya itu. membuat si pengawal, seketika menganggukkan kepala. dan pergi meninggalkan mension itu.


"apa kabar Laura?"tanya James dengan suara yang sangat halus.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Laura, seketika membulatkan mata. karena wanita itu tidak menyangka, dengan hal seperti ini.


"Tuan bisa bicara?"tanya Laura dengan tubuh gemetar. rencana apalagi yang mereka buat? pikir Laura


__ADS_2