Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 20


__ADS_3

"kau mau atau tidak?! jika memang tidak mau, maka aku akan melemparkan kerjasama ini kepada keluarga lain. karena, masih banyak orang-orang yang mau menerima tawaranku ini!"ucap Gabriel dengan nada yang sangat tegas.


Mark yang mendengar itu, seketika mencengkeram kuat garpu yang ada di tangannya. kemudian, menghirup udara sebanyak mungkin, dan setelahnya menghembuskan secara perlahan.


"baiklah Tuan Iskandar, saya akan menerima perjanjian ini."ucap laki-laki paruh baya itu pada akhirnya.


Karena, memang Mark tidak memiliki pilihan lain selain menerima uluran tangan dari keluarga Iskandar. walaupun sebetulnya, laki-laki paruh baya itu tidak menyangka akan mendapatkan keuntungan yang di luar ekspektasinya.


"baik kalau begitu, saya permisi!"ujar Gabriel Seraya beranjak dari tempat duduk diikuti oleh keluarga Mark.a


"hati-hati tuan,"ujar laki-laki setengah baya itu Seraya melambaikan tangan ke arah mobil yang ditumpangi oleh Gabriel.


Brian yang melihat itu hanya menganggukkan kepala. sementara Gabriel, laki-laki itu tidak peduli dengan keadaan sekitar. dirinya memilih untuk membalas pesan dari sang kekasih.


"dasar sombong!" maki Mark Soraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Tak lama berselang, seseorang datang menghampirinya. "apa kita akan melawan laki-laki sombong itu?"


"tidak, jangan sekarang. keluarga kita masih sangat lemah untuk membantai keluarga besar itu!"ucap laki-laki paruh baya itu dengan raut wajah datarnya. Namun matanya, memancarkan aura kebencian yang sangat dalam.


****


Sementara itu di dalam mobil mewahnya, terlihat Brian sesekali meratap ke arah dengan tatapan yang sangat khawatir seperti tengah menyimpan sesuatu. Namun, laki-laki itu tidak berani untuk menanyakan sesuatu hal kepada Gabriel.a


"ada apa Brian?"tanya Gabriel yang mengetahui sikap dari asistennya itu yang sedikit aneh.


"ah, tidak tuan! saya hanya berpikir, apakah perilaku Tuan ini, tidak akan menimbulkan masalah nantinya?"tanya Brian dengan nada berhati-hati.


Mendengar ucapan dari asistennya itu, membuat Gabriel sejenak terdiam. namun tak lama berselang, laki-laki itu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"mereka memang pantas mendapatkan hal itu."ucap Gabriel dengan nada tegasnya dan aura yang sangat mencekam. membuat Brian yang melihat itu, tidak melanjutkan lagi sifat penasarannya. karena pasti hasilnya tidak akan pernah baik.


*****


"Laura, ini buat kamu."tiba-tiba saja Merry mendatangi wanita itu dan membawakan sebuah kotak di tangannya. lalu kemudian, menyerahkannya kepada Laura.


"apa ini Merry?"tanya Laura yang merasa kebingungan mengapa wanita itu memberikan sebuah hadiah secara tiba-tiba? bukankah Gabriel sangat melarang semua orang untuk memberikan sesuatu kepada Laura. Dan itu telah tertulis di dalam ketentuan keluarga Iskandar.


"itu ponsel keluaran terbaru!"tepat setelah Merry mengatakan hal itu, kedua mata Laura seketika membulat sempurna. dengan mulut, yang sedikit terbuka.


Laura menatap Merry dan juga ponsel itu secara bersamaan. seperti tengah menyiratkan sebuah pertanyaan memangnya boleh?


"Tuan Gabriel memberikan ponsel itu, untuk kau menghubungi keluargamu. karena bagaimanapun juga, kau masih memiliki kedua orang tua dan kau wajib untuk menghormatinya. itu yang dikatakan oleh Tuan Gabriel,"ucap Merry mencoba untuk menegaskan bahwa ucapan itu adalah dari Gabriel bukan dirinya.


Mendengar ucapan dari Merry, malah semakin membuat Laura menganga tidak percaya. bagaimana mungkin, seorang laki-laki yang terkenal sangat kejam, mampu bersikap seperti itu apalagi itu kepada dirinya. sangat tidak diduga.


" kenapa malah melamun?"tanya Merry yang melihat keheranan ke arah Laura. dengan segera, menyerahkan kota itu kepada Laura.


"kenapa orang-orang di mansion ini begitu aneh?"hanya Laura pada dirinya sendiri.


Namun, kendati demikian Laura tetap menerima kotak itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"astaga!"seketika itu pula, Laura memekik saat baru saja membuka kotak itu. wajahnya terlihat sangat syok dengan mata yang berbinar-binar.


"ini serius?"tanya Laura masih pada dirinya sendiri. sungguh, Laura tidak menyangka jika Gabriel akan membelikan dirinya ponsel semahal itu. ponsel dengan warna emas yang sangat mencolok itu, terlihat sangat mewah. apalagi dengan taburan berlian di sekitarnya.


"ini pasti sangat mahal!"gumam wanita itu sesekali memijit pelipisnya karena mendadak merasa pusing dengan hidup yang telah ia alami.


Belum selesai Laura tertegun karena melihat benda semahal itu, benda pipih itu tiba-tiba saja berdering. membuat Laura seketika terlonjak kaget.

__ADS_1


"astaga!" pekiknya seraya mengusap dadanya yang terasa berdenyut akibat terlalu terkejut itu. kemudian dengan perlahan, Laura meraih benda pipih itu yang sempat ia lempar di atas kasur.


"Tuan Gabriel,"ucapnya dengan raut wajah keheranan. bukankah ponsel ini adalah ponsel baru, tapi kenapa sudah ada nama dari laki-laki itu, Laura masih memikirkan hal itu.


"kenapa lama sekali?!"tanya Gabriel dari seberang sana dengan nada sedikit meninggi. karena memang laki-laki itu tidak menyukai yang namanya menunggu.


"Ma... maaf tuan,"ucap Laura Seraya menundukkan kepala sesaat setelah panggilan itu terhubung.


"aku tahu, kau pasti merasa kagum dengan ponsel itu, kan? dasar norak!"ucap Gabriel dengan penuh nada kesombongan.


Tanpa disadari oleh siapapun, kedua tangan Laura seketika mengepal cukup kuat karena mendengar penghinaan itu.


"dasar laki-laki sombong!"ucapnya dalam hati. namun dengan raut wajah yang terlihat sangat tenang.


"Tuan memberikan aku ponsel ini?"tanya Laura mencoba untuk mengalihkan rasa kesalnya itu.


"iya aku memberikan ponsel itu untuk memberikan dirimu sedikit hadiah sebagai tanda terima kasih karena kau telah mau menjadi teman ranjangku!"ucapnya dengan nada yang sangat merendahkan.


Lagi Dan Lagi, Laura menghela nafas panjang dan seketika menghembuskannya dengan perlahan. karena menahan amarah sekuat tenaga.


"apakah saya boleh menghubungi kedua orang tua saya?"tanya Laura dengan nafas naik turun karena menahan amarahnya.


"silakan saja, aku tidak peduli kau ingin menghubungi siapa. karena ponsel itu, telah aku sedekahkan kepadamu."ucap Gabriel masih dengan nada sombong.


Tut


Setelah mengatakan hal itu, Gabriel memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. membuat Laura terlihat semakin kesal.


"sesuatu hal yang disombongkan, pasti akan cepat berakhir."gumam Laura tanpa sadar mengatakan kata-kata sebijak itu. kemudian mulai menyimpan nomor orang-orang yang ia kenal. yang sengaja, ia simpan.

__ADS_1


Karena memang, saat Laura masuk ke dalam mansion milik Gabriel, wanita itu tidak membawa ponsel. karena ponselnya, masih tertinggal di rumah orang tuanya. dan Gabriel sama sekali tidak mengizinkan untuk Laura mengambil ponsel itu.


Alasannya, karena Gabriel tidak ingin memasukkan barang-barang murah ke dalam mansionnya. dan itu sukses membuat Laura merasa sangat dongkol kepada laki-laki itu.


__ADS_2