
Setelah mendapatkan cacian dan makian, kedua orang tua Laura segera meninggalkan tempat itu dengan mata yang sangat tajam menetap ke arah Laura.
"sampai kapan aku akan diperlakukan seperti ini?"tanya Laura Seraya memejamkan mata. air matanya mengalir deras dari kedua mata indahnya itu. meratapi nasib yang begitu buruk yang dialami oleh Laura.
Dengan langkah gontai, wanita cantik itu pergi meninggalkan kawasan mall itu. sesekali, Laura akan mengusap air matanya yang jatuh membasahi wajah cantiknya itu.
Wanita itu sama sekali tidak memperdulikan pandangan dari beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan aneh dan juga bertanya-tanya.
"Nona, anda baik-baik saja?"tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampirinya dan berdiri di sampingnya. membuat Laura, seketika menoleh ke arah sumber suara.
Laura yang melihat kedatangan seseorang yang sangat asing di matanya, seketika menatap kekanan dan ke kiri. siapa tahu saja, bukan dirinya yang diajak bicara oleh laki-laki itu. namun sayangnya, tidak ada lagi orang selain dirinya. sehingga, itu dapat dipastikan jika laki-laki itu menyapa dirinya.
"anda berbicara dengan saya, Tuan?"tanya Laura untuk memastikan dengan siapa laki-laki itu berbicara.
Mendengar pertanyaan dari Laura, membuat laki-laki itu seketika menganggukkan kepala. "Tentu saja aku berbicara denganmu."ucap laki-laki itu Seraya tersenyum kecil. kemudian, tangannya mulai terulur ke arah Laura.
"aku Devan Marco,"ucap laki-laki itu Seraya masih mengulurkan tangan menunggu Laura membalas uluran tangannya.
"saya Laura tuan,"ucap wanita itu Soraya membalas uluran tangan Devan dan juga membalas senyuman laki-laki itu.
Devan yang mendengar itu, semakin menatap ke arah Laura dengan tatapan penuh kekaguman.
__ADS_1
"cantik sekali wanita ini,"gumamnya Seraya sesekali mengedipkan mata karena tidak kuasa melihat kecantikan dari seseorang wanita yang mampu mendekati sempurna.
Saat mata Devan melihat ke arah wajah Laura, laki-laki itu baru menyadari jika wanita yang ada di hadapannya itu, saat ini tengah terluka.
"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?"tanya Devan dengan raut wajah khawatirnya. membuat laki-laki tampan itu, langsung tersadar dari tindakan apa yang baru saja ia lakukan.
Karena seumur hidupnya, baru kali ini Devan mengkhawatirkan seorang perempuan. dan lebih parahnya, perempuan itu baru saja ia kenal.
"pertanda apa ini Tuhan,"ucap Devan dalam hati. dan entah mengapa, saat pertama kali Devan melihat Laura, laki-laki itu merasa ada getaran yang sangat kuat yang keluar dari dalam hatinya.
"apa benar aku menyukainya? tapi ini tidak mungkin. aku bahkan baru saja mengenal dia beberapa menit yang lalu. bagaimana bisa aku langsung menyukainya?"tanya Devan bermonolog seorang diri.
Sementara Laura, wanita itu seketika menyentuh pipi yang masih terasa panas dan juga bibir yang sedikit robek akibat tamparan kuat dari sang Ayah itu.
Sementara Devan, laki-laki itu merasa sangat kasihan saat melihat Laura. ingin sekali, laki-laki itu mengobati luka yang ada di wajah wanita itu.
Namun, Devan sadar posisinya saat ini bukanlah siapa-siapa bagi Laura. "kasihan sekali kamu Laura, andai saja aku bisa mengobati lukamu itu. pasti aku sangatlah senang,"ucap laki-laki itu Seraya tersenyum kecut.
Tiba-tiba saja, dari arah belakang terdengar suara seseorang yang memanggil Laura dengan sangat kencang. membuat wanita itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.
"Melia kenapa ada di sini?"tanya Laura pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"hei apakah kau sudah selesai bertemu dengan kedua orang tuamu?"tanya Melia tanpa memperdulikan keberadaan Devan yang berada di dekat Laura.
Mendengar pertanyaan dari sepupu Gabriel itu, membuat Laura seketika mengerutkan kening.
"bukannya aku tidak pernah mengatakan kalau aku bertemu dengan keluargaku? dari mana kau tahu?"tanya Laura pada Melia.
Sementara Melia Albern, wanita yang jago akan bela diri itu, seketika menyunggingkan senyuman tipisnya.
"apa sih yang tidak aku tahu?"tanya wanita itu Seraya mengibaskan rambutnya Seraya terkekeh pelan.
Sementara Laura yang mendengar itu, hanya dapat terkekeh pelan. sementara Devan, laki-laki itu hanya diam. karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kedua wanita itu.
"ayo kita pulang,"ucap Melia Seraya menarik tangan Laura agar segera keluar dari tempat itu.
"terima kasih ya tuan, sudah menemani sepupuku,"ucap Melia Seraya tersenyum hangat.
Devan yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Seraya matanya, tak henti-hentinya menatap ke arah Laura dan juga Melia yang semakin lama semakin menjauh.
"eh, kenapa aku tidak minta nomor ponsel wanita itu?"tanya Devan saat laki-laki itu baru menyadari sesuatu.
Nb : Yuk Mampir ke cerita teman aku ini, di jamin ngak nyesel hehe
__ADS_1