
Sesuai dengan ucapan Gabriel beberapa hari yang lalu, laki-laki itu benar-benar mengumumkan bahwa putrinya telah tiada akibat tenggelam.
Dan benar saja, semua musuh Gabriel bersorak gembira. mereka bahkan mengadakan pertemuan dan berfoya-foya untuk merayakan keberhasilan mereka dalam menghancurkan keluarga Iskandar.
"kita telah berhasil Bramantyo!" teriak Enriq pada putranya itu Seraya merangkulnya.
Bramantyo yang mendengarnya, seketika tersenyum lebar. kemudian, menghampiri ibu dan juga adiknya dan memeluknya dengan sangat erat.
"kita sudah berhasil!"ucap Bramantyo Seraya mengepalkan tangannya ke udara.
"jadi apakah kita harus jalan-jalan untuk merayakan keberhasilan ini?"tanya Excel tiba-tiba.
Bramantyo yang mendengar itu, sejenak terdiam. dan tak berselang lama, laki-laki itu menganggukkan kepala.
"boleh juga usulmu. sekarang kita siap-siap, kita akan pergi berlibur ke pulau pribadiku."ucap Bramantyo kepada semua orang yang telah membantunya untuk menjalankan rencana itu.
Sontak saja, mereka semua bersorak bahagia dan segera mengemasi barang-barang mereka untuk menuju ke pulau pribadi yang telah direncanakan oleh Bramantyo dan keluarganya.
"apakah aku boleh mengajak istri dan juga anakku?"tiba-tiba saja Tony Virzha ikut bergabung bersama mereka.
Bramantyo yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala."tentu saja, aku juga akan menghubungi para keluarga yang lain yang juga ikut bahagia dengan kabar ini."ucap Bramantyo dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Akhirnya setelah 1 jam, mereka semua berkumpul di Mansion megah milik keluarga Avoss. dengan kebahagiaan yang tiada tara. karena mereka semua, telah berhasil melenyapkan penerus keluarga Iskandar.
"lalu apa kita tidak melenyapkan Gabriel juga?"tanya salah seorang laki-laki yang ikut bergabung dengan mereka.
Bramantyo dan juga Enriq yang mendengarnya, kompak menggelengkan kepala."tidak perlu. justru akan semakin mengasyikkan, jika mereka mati secara perlahan akibat rasa kesepian yang menyelimuti kehidupan mereka."ujar priamantyo Seraya tersenyum menyeringai.
Akhirnya mereka semua juga ikut tertawa terbahak-bahak dengan kebahagiaan yang baru saja mereka dapat itu. akhirnya setelah bersiap-siap, mereka semua segera keluar dari kediaman Avoss dengan tawa bahagia yang menyelimuti wajah mereka.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi melihat kegiatan itu dari teropong miliknya.
"semua sesuai rencana Tuan,"ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Brian yang saat ini, ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik para musuh keluarga Iskandar itu.
****
"apakah kau yakin apa yang kau lakukan ini tidak akan berdampak buruk?"tanya Laura Seraya duduk di samping suaminya dengan menggendong Amanda.
Gabriel yang mendengar itu, seketika tersenyum Seraya mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"kau tenang saja sayang, setelah ini kita akan hidup bahagia tanpa adanya musuh di hidup kita."ucap Gabriel dengan sangat yakin.
Laura yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala. Karena Wanita itu yakin, bahwa kali ini suaminya tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi.
__ADS_1
"pokoknya aku tidak mau, Ayah!"terdengar suara teriakan dari dalam rumah. hingga membuat pasangan suami istri itu, seketika menatap ke arah sumber suara dengan tatapan kebingungan.
"dia itu laki-laki yang sangat baik Melia. lagi pun, kau mau sampai kapan hidup sendiri seperti ini?"tanya Theo Seraya menghela nafas panjang.
"sekali tidak tetap tidak Ayah!"ucap Melia dengan penuh pendirian.
Bagaimana mungkin, dirinya akan dijodohkan dengan orang yang tidak ia kenal, apalagi orang itu adalah bawahan dari Gabriel. sangat tidak mungkin. pikir Melia.
"Tanya saja sama Laura dan juga Gabriel. mereka juga hasil perjodohan, tapi mereka bisa hidup bahagia sampai sekarang, kan?"tanya Theo Seraya menatap ke arah keponakan dan juga istrinya itu.
Laura yang mendengar itu, seketika menghampiri Melia dan menganggukkan kepala dengan antusias.
"Ayahmu benar Melia, kami juga hasil perjodohan tapi kami bisa hidup bahagia. tidak ada salahnya kan kalau kamu mencoba?"ujar Laura menatap ke arah sepupu suaminya itu.
"masalahnya aku dan Brian itu tidak memiliki perasaan apapun. jadi mana mungkin kamu bisa bersatu. lagi pula dia itu tidak akan pernah mau."ucap Melia dengan penuh keyakinan.
"siapa bilang saya tidak mau, saya mau kok."mata Melia seketika membulat sempurna. saat mendengar ucapan dari laki-laki itu.
Membuat Theo dan yang lain, seketika tersenyum bahagia. mereka semua saling pandang. dan akhirnya, memaksa gadis tomboy itu untuk menerima perasaan dari Brian.
Tentu saja hal itu membuat Melia merasa sangat kesal. namun anehnya, wanita tomboy itu tidak berani untuk menolak seperti biasanya. dan pada akhirnya, wanita tomboy itu merasa sangat pasrah.
__ADS_1