Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 79


__ADS_3

Laura menangis tersedu-sedu Seraya memeluk tubuh bayinya yang telah terasa kaku itu. hati Wanita itu, sungguh hancur berkeping-keping.


"bangun sayang Bunda mohon bangunlah,"ucap wanita itu masih menangis Seraya memeluk tubuh mungil Amanda.


Satu detik... dua detik... berputar selama 5 menit, tidak terjadi sesuatu pada bayi mungil itu. hingga membuat Laura seketika menjerit histeris.


Sontak saja, hal itu membuat Gabriel yang mendengarnya berlari menghampiri sang istri. namun dengan segera, tubuh laki-laki itu terdorong dengan cukup kuat ke belakang. hingga punggungnya, membentur tembok dengan sangat kuat.


"pergi kamu! dasar pembunuh!"teriak Laura dengan suara lantang. hingga membuat laki-laki itu, seketika mematung di tempatnya.


Sungguh saat ini, Gabriel merasakan sakit yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan. dan seketika itu pula, laki-laki itu segera meretuki semua kebodohannya itu.


Tak berselang lama, terdengar suara tangisan seorang bayi. hingga membuat mereka berdua, seketika menghentikan aktivitas yang sangat berisik itu.


Laura dengan segera menoleh ke arah Amanda yang baru saja dia letakkan di atas ranjang rumah sakit itu. mata wanita itu, seketika membulat sempurna. saat mendapati Putri tercintanya seperti menggeliat. dan tak lama berselang, menangis dengan sangat kencang.


Dengan secepat kilat, wanita cantik itu keluar dari dalam ruangan itu dan menghampiri dokter Matteo.


"dokter Putri ku sadar."teriak Laura saat wanita itu, telah mendapati dokter laki-laki itu berdiri di depan ruangan.


Tanpa pikir panjang, dokter Matteo segera masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa apakah yang dikatakan oleh Laura itu benar, atau hanya halusinasi semata.


Sementara Laura, wanita itu seketika mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang telah tersedia. sungguh saat ini Laura tidak memperdulikan situasi di sekitarnya. yang wanita itu hiraukan saat ini, adalah kondisi putrinya.


Bahkan, wanita itu tidak memperdulikan Gabriel yang berjalan menghampirinya. laki-laki itu hendak memeluk Laura. namun, seketika tubuhnya langsung terdorong ke belakang.


"jangan pernah sentuh aku."ucap Laura dengan suara yang sangat tenang. namun sangat mematikan.


Gabriel yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya."tidak. sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengabulkan permintaanmu."ucap Gabriel dengan tegas.


Laura yang mendengar itu, seketika menatap laki-laki yang masih menjadi suaminya itu dengan tatapan penuh kebencian. hingga membuat Gabriel, seketika tersentak kaget.


Karena selama mereka menikah, Gabriel belum pernah melihat tatapan mata mengerikan itu keluar dari pancaran mata istrinya.


Tak berselang lama, dokter Matteo keluar dari dalam ruangan dan langsung menghampiri Laura dan juga Gabriel selaku orang tua dari bayi itu.


"ini sungguh keajaiban,"ucap dokter Matteo Soraya tersenyum penuh kelegaan.

__ADS_1


"maksud dokter bagaimana?"tanya Laura yang merasa bingung.


"anak kalian dinyatakan selamat!"ucap dokter Matteo seraya tersenyum bahagia.


Sontak saja hal itu membuat Laura yang mendengarnya, segera berlari ke dalam ruangan itu dan langsung memeluk tubuh Amanda dengan sangat erat.


"terima kasih sayang, terima kasih karena kamu telah mendengarkan permintaan Bunda."ucap wanita itu dengan deraian air mata.


Tak berselang lama, Gabriel datang menghampiri istri dan juga anaknya. laki-laki itu ikut menangis bahagia di samping istrinya. tanpa berniat, menyentuh wanita itu.


Karena Gabriel tahu, bahwa saat ini Laura tidak ingin disentuh bolehnya. akhirnya suasana yang awalnya sangat menyayat hati itu, kini berubah menjadi tangisan haru dari semua orang.


*****


Tiga hari pun berlalu dengan sangat cepat. Laura sama sekali tidak ingin melepaskan putrinya dari gendongan. Karena Wanita itu masih merasa trauma, dengan kejadian beberapa hari yang lalu.


"jangan pernah sentuh putriku."ucap Laura menatap tajam ke arah Gabriel.


Sepertinya wanita itu masih merasa sangat muak dan membenci laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Membuat Gabriel yang merasa tidak tahan, segera mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video di hadapan Laura. hal itu membuat Laura yang melihatnya, seketika membulatkan kedua mata.


"mereka semua bersekongkol. dan kecelakaan yang kamu alami itu, itu semua atas rencana orang tuamu."ucap Gabriel akhirnya membuka suara.


Karena laki-laki itu merasa sangat lelah terus disalahkan oleh Laura. walaupun kenyataannya itu memang benar, tapi Gabriel sudah merasa tidak sanggup jika harus dibenci oleh wanita yang ia sayangi itu.


Laura yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. wanita itu merasa tidak menyangka. jika kedua orang tuanya, tega berbuat seperti itu.


"permisi Nyonya, Tuan,"kedatangan dokter Merry, membuat kedua pasutri itu segera menoleh ke arah sumber suara.


"saya periksa dulu ya,"ucap dokter Merry Seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati Laura.


Sementara Gabriel, laki-laki itu memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan istrinya.


"Brian, apa kita bisa bicara?"tanya Gabriel menghampiri asisten pribadinya itu.


"Ada apa Tuan?"tanya Brian yang langsung berdiri tegak di hadapan laki-laki itu.

__ADS_1


Dengan segera, Gabriel memerintahkan sesuatu pada asisten pribadinya itu. hingga membuat Brian, sejenak merasa terkejut. namun setelah melihat penuturan dari Gabriel, laki-laki itu menganggukkan kepala. Brian segera mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh Tuannya itu.


Satu Minggu kemudian


Laura telah diperbolehkan pulang begitu juga dengan Amanda. bayi mungil itu, telah dinyatakan baik-baik saja oleh dokter Matteo.


Mereka semua, menyambut kebahagiaan itu dengan penuh sukacita. "akhirnya kita berakhir bahagia."ucap Gabriel Seraya menggenggam tangan sang istri.


Sementara Laura yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. pada awalnya, wanita itu ingin tetap pada pendiriannya. yaitu, ingin bercerai dari Gabriel.


Namun setelah mendapatkan nasihat dari ayah mertuanya, akhirnya Laura memutuskan untuk memaafkan suaminya itu.


"semuanya telah selesai tuan."Brian menghampiri Laura dan juga Gabriel.


Gabriel yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. sementara Laura, wanita itu merasa kebingungan dan meminta penjelasan dari suaminya melalui tatapan mata.


"nanti akan aku ceritakan."ucap Gabriel Seraya menuntun istrinya untuk masuk ke dalam mobil. karena mereka akan pulang ke Mansion utama.


**


Sesampainya di sana, Gabriel dan yang lainnya segera duduk di ruang khusus keluarga Gabriel. dan laki-laki itu, segera menceritakan semuanya.


Tentu saja hal itu membuat Laura yang mendengarnya, merasa tidak terima.


"apa-apaan ini? kau ingin mengabarkan pada semua orang, Jika putri kita telah tiada?!"tanya Laura marah.


Gabriel yang melihat itu, seketika menenangkan dan menceritakan apa tujuannya.


"tenang Sayang, aku hanya ingin mencoba mereka."ucap Gabriel tersenyum manis.


"menjebak? maksudnya bagaimana?"tanya Laura yang memang tidak mengerti.


"Dengan mengatakan bahwa anak kalian telah tiada, para musuh itu pasti akan merasa sangat senang. dan mereka, akan lengah dalam keamanan. dan saat itulah kita bergerak."ucap James menimpali.


Laki-laki paruh baya itu, sepertinya mengetahui rencana dari putranya itu.


Laura yang mendengar itu, seketika membulatkan kedua matanya."kalian jangan gila, aku tidak ingin putriku menjadi sasaran."ucap Laura keberatan.

__ADS_1


"tenangkan dirimu sayang, setelah mereka semua musnah, kita akan aman dan hidup bahagia."ucap Gabriel bersungguh-sungguh.


__ADS_2