
Beberapa hari setelah kejadian itu, Laura seringkali menghindar dari Gabriel. entah itu beralasan akan memasak, atau belajar menyulam. dari para pelayan-pelayannya, yang berada di Rumah belakang Mansion. yang memang, diperuntukkan Gabriel untuk para pekerja di Mansion itu.
"kenapa ada di sini, Nyonya?"tanya Merry si kepala pelayan di Mansion milik Gabriel. saat wanita paruh baya itu melihat keberadaan istri dari Gabriel, berada di rumah itu. bersama dengan pelayan-pelayan yang lain.
"oh, aku hanya ingin belajar menyulam."ucap Laura dengan tersenyum kecil. wanita itu sedang menutupi rasa gugupnya dan juga rasa takutnya akibat di pergoki oleh wanita paruh baya itu. karena dapat Laura pastikan, bawa nasibnya pasti tidak akan baik-baik saja setelah ketahuan oleh wanita paruh baya itu.
"apa Tuan Gabriel tahu?"tanya Merry Seraya menatap ke arah Laura dengan tatapan penuh selidik dan intimidasi.
Laura dengan cepat menganggukan kepala."dia tahu kok. Malahan, dia sendiri yang menyuruh aku datang kemari. karena aku berkata bosan berada di kamar terus,"Laura menampilkan wajah yang begitu natural. berharap agar wanita paruh baya itu, tidak mencurigai kehadirannya saat ini.
Merry yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. wanita paruh baya itu, saat ini sedikit terlihat kalem saat berhadapan dengan Laura. jika kalian pikir, wanita paruh baya itu sudah menerima kehadiran Laura? kalian salah besar.
Karena diam-diam, Merry telah mempersiapkan sebuah rencana yang sangat cantik untuk wanita itu. walaupun, Laura tidak pernah melakukan kesalahan terhadap wanita paruh baya itu. tapi entahlah, mengapa wanita itu dapat menanamkan rasa kebencian yang sangat dalam di dasar hatinya.
"baik kalau begitu, saya permisi dulu."ucap Merry Seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu.
Wanita paruh baya itu, berniat akan melaporkan kehadiran Laura berada di rumah itu kepada Gabriel. karena Merry yakin, Laura datang kemari tidak atas izin dari laki-laki itu. dan Merry yakin, pasti laki-laki itu akan memberikan hukuman yang sangat dahsyat kepada seorang yang berani membohonginya.
Namun langkahnya terhenti saat merasakan, tangannya ditarik oleh seseorang. dan betapa terkejutnya wanita paruh baya itu, saat melihat seorang wanita yang menatapnya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
"Nona Melia,"ucap wanita itu Seraya melangkah mundur. karena sedikit merasa terkejut dengan kehadiran dari sepupu Gabriel itu.
__ADS_1
"mau kemana, kau?"tanya Melia Seraya melayangkan tatapan tajam dan juga sangat mengerikan kepada wanita paruh baya itu.
"sa...saya mau dapur membuatkan makanan pada Tuan Gabriel,"ucap wanita paruh baya itu sedikit terbata-bata. dengan tubuh, yang bergetar hebat karena merasa ketakutan.
Sementara Melia yang melihat itu, ketika tersenyum miring. tatapannya semakin mengerikan melihat ke arah wanita paruh baya itu.
"kau pikir aku bodoh? awas saja kau, Jika kau berani mengatakan hal ini pada Gabriel, kau tahu kan apa yang dapat aku perbuat?"tanya Melia dengan raut wajah mengerikan.
Seketika itu pula, Merry bergetar dengan sangat hebat. karena merasa ketakutan dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini. dan tanpa pikir panjang lagi, wanita paruh baya itu segera berlalu pergi dengan sedikit berlari dari hadapan Melia.
"dasar parasit!"gumamnya Seraya melangkahkan kakinya untuk menemui Laura yang masih asyik untuk menyulam dengan para pekerja Mansion itu.
Sebenarnya, Melia mengetahui apa yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu. dan wanita pemberani itu, telah beberapa kali melaporkan kejadian itu pada Gabriel.
"kau sedang membuat apa, Laura?"tanya Melia yang telah berada di samping wanita itu.
Seketika Laura yang mendengarnya, mundur beberapa centi dari tempat duduknya. karena merasa sedikit terkejut dengan kehadiran sepupu suaminya itu.
"Me.. Melia, sejak kapan kau ada di sini?"tanya Laura sedikit gelagapan. sama seperti saat wanita itu melihat Merry beberapa saat yang lalu.
"kau tidak perlu terkejut seperti itu. aku tidak akan pernah melaporkanmu kepada suami kejammu itu,"ucap Melia yang seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita itu.
__ADS_1
"bagaimana dia bisa tahu?"tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
"sudahlah, mari kita belajar menyulam dan membuat sapu tangan ini. siapa tahu ini bisa menjadi kado terindah untuk pasangan-pasangan kita nanti,"ucap Melia Saraya tersenyum membayangkan. ada seorang laki-laki, yang menemukan sapu tangan buatannya yang tidak sengaja terjatuh.
"aish kau ini, kebanyakan menonton drama."gerutu Melia pada dirinya sendiri. Soraya sesekali, wanita itu akan memukul kepalanya sendiri dengan pelan.
Sementara Laura yang melihat itu, merasa kebingungan." kenapa mereka berdua bisa bersikap aneh seperti itu?"batinnya Seraya matanya masih menatap tingkah laku Melia yang sedikit aneh itu.
*****
Sementara itu di ruangannya, Gabriel tampak fokus dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya saat ini. berkas-berkas yang jumlahnya sangat besar itu, harus selesai dalam waktu 2 hari. karena memang, dirinya mengajukan kerjasama dengan para pembisnis besar di beberapa negara terbesar di dunia. dan Gabriel sendiri, tidak ingin seseorang mencampuri urusannya ini.
Karena laki-laki tampan itu, tidak mempercayai orang lain selain keluarganya dan juga orang yang ia pilih. contohnya Brian.
"di mana Laura?"tanya Gabriel Seraya matanya masih fokus menatap ke arah layar komputer dan juga berkas-berkas itu secara bergantian.
"Nyonya Laura ada di Rumah belakang Tuan, Dia sedang belajar menyulam dan membuat sapu tangan."ucap Brian tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
Gabriel yang mendengar itu, hanya mengangguk mengerti. laki-laki itu merasa, semakin lama, perasaannya terhadap Laura ini, semakin kuat.
Entahlah, ke mana perginya perasaan yang sangat dalam kepada Elmira.
__ADS_1
Yuk mampir ke cerita ini, dijamin seru dan ngak mengecewakan