
Gabriel segera berlutut di hadapan Elmira dan Bramantyo. laki-laki tampan itu bahkan menolak untuk di sentuh saat salah satu pengawalnya, menghampiri dan hendak menentunya untuk berdiri.
Sungguh Gabriel sangat menyesal telah melakukan hal bodoh itu. kan sampai menghilangkan nyawa seseorang yang tidak ada kaitannya dengan musuh keluarga Iskandar.
"tolong aku mohon maafkan aku!"ucap Gabriel Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"penyesalanmu sudah terlambat."ucap Bramantyo Seraya mengangkat tinggi-tinggi bayi mungil itu dengan posisi terbalik.
Sehingga, bayi mungil itu seketika menangis kencang. dan hal itu membuat Gabriel yang mendengarnya, seketika menatap ke arah sumber suara. karena sebelumnya, laki-laki itu menundukkan kepala karena penyesalannya.
"jangan pernah sakiti putriku!"teriak Gabriel dengan raut wajah garang. wajah laki-laki itu yang semula sendu, seketika berubah menjadi merah padamu karena menahan amarah.
"di sini aku yang bersalah. jadi jika kau ingin menghukum, hukum apa saja. jangan pernah hukum putriku."lanjut laki-laki itu Seraya melangkahkan kaki untuk menghampiri Bramantyo yang tengah membawa Amanda itu.
"sudah terlambat!"setelah mengatakan hal itu, terdengar suara bunyi benda yang dilempar ke dalam danau itu. dan hal itu membuat Gabriel yang melihatnya, seketika membulatkan kedua mata.
Dengan tanpa basa-basi, laki-laki itu segera terjun ke dalam danau. Gabriel sama sekali tidak memperdulikan keselamatannya.
Karena air danau itu, pastilah sangat dalam dan juga arusnya sangat deras. namun Gabriel tidak memperdulikan hal itu. laki-laki itu tetap menyelam ke dalam danau itu.
sementara Bramantyo dan juga Elmira, kedua kakak beradik itu seketika tertawa terbahak-bahak. seperti ada sesuatu yang lucu yang baru saja terjadi di hadapan mereka. padahal, mereka baru saja melempar seonggok daging yang bernyawa ke dalam danau itu. namun sama sekali tidak ada rasa bersalah di dalam hatinya.
"kita impas Gabriel!"seru Bramantyo dengan tawa menggelegar. dan setelah mengatakan hal itu, kedua saudara itu segera pergi meninggalkan tempat.
__ADS_1
Tepat saat Bramantyo dan juga Elmira pergi meninggalkan tempat itu, Melia dan yang lain baru saja tiba di rumah sakit itu.
"kenapa sepi sekali?"tanya wanita tomboy itu Seraya menatap kearah sekeliling. mencari keberadaan sepupunya itu. namun tiba-tiba saja, mereka semua terdiam. saat mendengar suara keributan dari arah belakang bangunan rumah sakit itu.
"sepertinya ada yang tidak beres."gumam wanita tomboy itu Soraya melangkahkan kakinya untuk mendekati sumber suara. diikuti oleh James dan juga Theo.
Sesampainya di sana, mereka bertiga seketika pembulatkan kedua mata saat melihat Gabriel berenang seperti tangan pencari sesuatu.
"Gabriel apa yang terjadi?"tanya Melia dengan menatap ke arah sepupunya itu dengan raut wajah kebingungan.
"Melia tolong aku, aku mohon selamanya danau!" ucap laki-laki itu serayap berderai air mata.
Hal itu membuat ketiga orang itu, seketika saling pandang. dan hendak bertanya pada Gabriel. namun dengan segera, laki-laki itu menarik kaki Melia. hingga membuat wanita tomboy itu langsung terjatuh ke dalam danau.
"tolong selamatkan anakku dia terjatuh di dalam kolam,"ucap Gabriel dengan cepat. hal itu membuat media yang mendengarnya, seketika membulatkan kedua mata. dan tanpa basa-basi lagi, wanita tomboy itu segera menyelam.
Dan tak berselang lama, kembali menaiki permukaan danau dengan membawa baby Amanda di dalam dekapannya.
Tentu saja, hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa sangat terkejut. mereka segera membawa bayi mungil itu menemui dokter anak yang ada di rumah sakit itu.
Karena sangat tidak mungkin, mereka semua meminta bantuan kepada dokter Luis. karena wanita paruh baya itu, masih fokus menangani Laura.
"dokter Matteo, tolong selamatkan putriku."teriak Gabriel mendobrak pintu ruangan laki-laki itu.
__ADS_1
Memang di rumah sakit ini, Gabriel menyediakan semua fasilitas termasuk juga dokter anak dan langsung merekrutnya dari negara terbesar di dunia.
"ada apa?!"tanya laki-laki berkulit putih itu dengan raut wajah kebingungan.
"dokter Matteo, tolong selamatkan putriku!"ucap Gabriel Seraya meletakkan bayi mungil itu di atas ranjang. dengan segera, dokter laki-laki itu segera menghampiri saat melihat raut wajah pucat dan juga membiru dari bayi kecil itu.
Dokter Matteo tanpa basa-basi segera menjalankan tugasnya. tanpa mengatakan pertanyaan lagi. karena laki-laki itu tahu, jika keadaannya saat ini tengah genting.
"silakan tunggu di luar."ucap dokter Matteo dengan tegas. tidak seperti biasanya, Gabriel hanya menganggukkan kepala saat mendapati perintah itu.
Laki-laki tampan itu, segera mendudukkan dirinya kursi ruang tunggu dengan wajah yang kacau.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Melia dengan suara pelan. wanita tomboy itu tahu, bawa apa yang ia katakan itu sebenarnya tidaklah tepat. akan tetapi, sungguh Wanita itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Dengan perlahan-lahan, Gabriel mulai menceritakan semuanya pada ketiga orang itu. membuat Theo dan juga James yang mendengarnya, seketika saling pandang.
"apa kita perlu membalasnya?tanya James dengan mengepalkan tangannya kuat. karena laki-laki paruh baya itu merasa geram, dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Avoss itu.
Gabriel yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. "tidak usah. aku tidak ingin putriku kembali menjadi korban."ucapnya dengan tatapan hampa.
Sungguh, saat ini Gabriel merasa sangat takut. karena dua wanita yang sangat ia sayang, tengah berjuang antara hidup dan mati.
"kenapa tidak aku saja yang kau siksa Tuhan?"tanya Gabriel dengan raut wajah frustasi. sungguh laki-laki itu merasa Tuhan tidak adil. karena yang berbuat adalah dirinya, kenapa yang harus menanggung adalah istri dan juga anaknya.? sungguh ini benar-benar tidak adil.
__ADS_1