Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 19


__ADS_3

Setelah melakukan aktivitas sarapan seperti biasa, Gabriel dan asisten pribadinya segera menuju ke tempat yang akan laki-laki itu singgahi.


"apa jadwal kita nanti?"tanya Gabriel tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


"kita akan mengadakan pertemuan dengan keluarga Mark, Tuan,"ucap sang asisten dengan cepat.


"berapa lama kita akan sampai di sana?"


"kurang lebih 1 jam Tuan,"


"bisakah kau percepat Menjadi 30 menit?"


"tentu Tuan, sekarang saya minta, Anda mengeratkan sabuk pengaman karena kita akan sedikit mengajukannya dengan cepat."


Gabriel segera melaksanakan ucapan dari asisten sekaligus sopir pribadinya itu. dan dengan segera, asisten yang bernama Brian itu, segera menancap gas dan membawa mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sementara Gabriel, laki-laki tampan itu tidak merasakan apa-apa. bahkan laki-laki itu, masih sempat membalas pesan singkat dari sang kekasih. seperti seseorang yang tidak terjadi apa-apa. Padahal, mobil dikendarai dengan kecepatan di atas rata-rata. Bahkan, seperti ada asap di belakang sana.


Jika itu orang biasa, maka Gabriel sudah merasakan ketakutan yang luar biasa atau bahkan pingsan sekalipun. namun, laki-laki itu bukanlah orang sembarangan. dirinya telah dilatih oleh sang ayah menjadi sosok laki-laki yang sangat kuat seperti ini. untuk itulah, Gabriel selalu mendengarkan semua perkataan Ayahnya.


Karena selain James adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa, laki-laki tua itu juga yang telah berjasa mengubah hidup Gabriel. yang awalnya begitu tergantung dengan sang ibu, kini dapat hidup mandiri.


Elmira: honey, kau ada di mana?


Gabriel: aku ada meeting sebentar sayang, nanti kamu aku jemput.


Elmira: oke honey, aku tunggu kedatanganmu 🥰

__ADS_1


Gabriel membaca pesan itu, dengan ekspresi wajah yang sangat berbinar-binar dan berbunga-bunga. tentu saja hal itu membuat Brian sang asisten, menatap sang majikan dengan tatapan yang aneh.


Karena memang, Gabriel tidak pernah bersikap hangat seperti itu kepada orang lain. dan hanya kepada kedua orang tuanya, laki-laki itu tersenyum. itupun pada sang ibu. dan di saat ibunya telah tiada, laki-laki itu jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah tersenyum seperti dulu.


"kita sudah sampai tuan,"ucap Brian Seraya bergegas keluar dari dalam mobil dan membuka pintu mobil Tuannya.


Gabriel keluar dari dalam mobil dengan ditemani Brian sebagai asisten dan juga beberapa pengawal yang memang ditugaskan untuk mengawal laki-laki tampan itu.


"selamat datang Tuan Iskandar,"sapa seluruh pelayan yang bekerja di keluarga Mark itu. dan tak lama berselang seorang laki-laki paruh baya muncul dari dalam mansion.


"selamat datang tuan Gabriel, lama sudah kita tidak bertemu. bagaimana kondisi anda?"tanya laki-laki tua itu Seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Gabriel.


"aku baik Tuan,"ujar Gabriel Soraya membalas jabatan tangan laki-laki itu. dan setelahnya, mengarahkan tangan itu ke belakang.


Para pengawal yang mengetahui maksud dari Tuan mereka, segera memberikan hand sanitizer pada laki-laki itu dan mengucapkannya di belakang punggungnya.


Tanpa disadari, pemandangan itu telah disadari oleh Tuan Mark. membuat laki-laki tua itu, merasa sedikit tersinggung.


Jika tidak membutuhkan bantuan dari keluarga Iskandar, maka keluarga Mark tidak akan pernah Sudi untuk meminta bantuan dan mengundang laki-laki sombong itu ke mansion miliknya.


Mark bahkan harus menghirup udara beberapa kali dan menghembuskannya secara perlahan untuk menekan amarahnya yang telah meluap-luap itu.


"sabar, setelah aku mendapatkan kejayaan itu, maka aku akan membalas penghinaan ini!"ucapnya Seraya mengeratkan gigi-gigi di dalam mulut hingga terdengar gemeletuk.


Sungguh, Mark sudah tidak tahan dengan sikap dan tingkah laku dari laki-laki muda di hadapannya ini. karena hal ini, bukanlah kali pertama bagi keluarga Mark. keluarga kecil itu, telah beberapa kali mendapatkan penghinaan dari Gabriel. namun, keluarga itu tidak bisa berbuat apa-apa. karena mereka meminta makan di bawah kaki keluarga Iskandar.


"silakan masuk Tuan,"ujar Mark seraya melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk masuk ke dalam mansion miliknya. Gabriel yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan mengikuti langkah kaki laki-laki yang ada di depannya itu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, mata Gabriel tidak lepas dari bangunan mansion yang tidak lebih luas dari kamar miliknya itu.


"Tuan Mark, kenapa anda tidak merenovasi bangunan sekecil ini menjadi lebih besar? bukankah tanah Anda juga luas?"tanya Gabriel dengan maksud menyindir saat mereka telah berada di ruang makan.


Membuat laki-laki paruh baya itu, seketika melayangkan tatapan tajam pada laki-laki muda itu. hal itu membuat Gabriel seketika tertawa dengan sangat kencang.


" hahaha tenang tuan, aku hanya bercanda!"ucap Gabriel dengan tawa yang masih menggema di ruangan itu.


"hahaha"tiba-tiba saja, laki-laki tua itu juga tertawa. Namun, terdengar sangat pahit. "aku juga bercanda Tuan Gabriel, mana mungkin keluarga kami berani bersikap seperti itu dengan keluarga yang terkenal berkuasa," ujar Mark Soraya tersenyum tipis.


Gabriel yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala dan memasukkan potongan kentang goreng dan juga daging ke dalam mulutnya.


"makanan ini sangat enak,"ucap Gabriel Seraya tersenyum kecil Seraya menatap ke arah Mark dengan dingin.


Membuat laki-laki paruh baya itu, seketika tersentak kaget. Matanya membulat sempurna karena mendengar ucapan dari laki-laki muda itu. karena Mark tahu, maksud dari Gabriel bukanlah itu.


Karena jika Gabriel mengatakan makanan itu sangat enak atau bahkan lezat, itu adalah kebalikannya. dan begitupun sebaliknya.


"aku sudah selesai!"ucap Gabriel Seraya mengusap mulutnya dengan tisu setelah meletakkan garpu dan juga pisau di piring laki-laki itu.


Brian yang berada di sisi Gabriel, segera menyerahkan sebuah map berwarna biru dan menyerahkannya kepada Mark. membuat laki-laki tua itu, segera mengambil dokumen itu.


Laki-laki tua itu, membaca poin-poin yang ada di berkas itu sampai selesai. matanya seketika membulat setelah membaca puisi terakhir di berkas itu.


"ini maksudnya apa Tuan?"tanya Mark sedikit merasa emosi pada Gabriel.


Membuat Gabriel segera memberikan kode kepada Brian untuk mengambil dokumen itu dan menyuruhnya untuk membaca.

__ADS_1


"Tuan Mark yang terhormat, akan saya bacakan poin-poin yang ada di sini. "dengan segera, Brian membacakan satu persatu poin yang ada di kertas itu. diantaranya adalah, hasil perkebunan dibagi menjadi dua. dengan catatan, pihak Iskandar mendapatkan keuntungan lebih besar daripada keluarga Mark.


"tapi Tuan...." Mark ingin sekali melayangkan protes terhadap kebijakan itu. Namun, itu diurungkan saat mendapati tatapan tajam dari Gabriel.


__ADS_2