
Saat ini, Gabriel masih menunggu dengan harap-harap cemas. tidak terbersit dalam benaknya, bahwa laki-laki itu akan berada di situasi sulit seperti ini. dua wanita yang paling dia sayang, ini saat tengah berada di dalam antara hidup dan mati.
"apakah kau yakin Gabriel, kau tidak ingin membalaskan penghinaan ini?"tanya James menatap ke arah putranya itu.
Gabriel yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala dengan mantap."tidak Ayah, aku tidak ingin berurusan dengan mereka. bagiku, sudah cukup semua ini. aku tidak ingin istri dan anakku kembali menjadi korban."ucapnya dengan tatapan sendu.
Melia yang mendengar itu, seketika menghampiri Gabriel dan mencoba untuk menenangkan laki-laki itu.
"percayalah, di setiap masalah pasti ada hikmah yang akan kau petik."setelah mengatakan hal itu, Melia segera menyingkir dari hadapan Gabriel.
Karena wanita tomboy itu tidak ingin, jika sepupunya itu menuduhnya yang tidak tidak seperti kemarin. Sialan! bagaimana bisa rumor itu menyebar dengan sangat kuat? dan bagaimana bisa, seorang Gabriel Iskandar menelan mentah-mentah kabar itu.
Tak lama berselang, pintu ruangan sebelah kanan Gabriel terbuka. saat ini laki-laki itu, sedang berada di tengah-tengah ruangan istri dan juga anaknya. hal itu, tentu saja membuat Gabriel merasa sangat ketakutan. dia berpikir, lebih baik melawan ribuan musuh, daripada harus berada di suatu situasi seperti ini.
"Tuan Gabriel, istri anda telah selesai dioperasi."tiba-tiba saja, dokter Luis datang menghampiri laki-laki itu. hal itu membuat Gabriel yang mendengarnya, seketika mendongakkan kepala. dan seketika itu pula, heulaan nafas lega terlihat jelas dari wajah tampan laki-laki itu.
"bagaimana keadaannya?"tanya Gabriel dengan raut wajah antusias.
"sebentar lagi dia akan sadar. Tuan tidak usah khawatir."ucap dokter Luis Seraya tersenyum tipis.
Serentak, semua orang yang ada di sana menghela nafas lega. dan juga, mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. karena telah menyelamatkan anggota keluarga mereka.
"oh ya satu lagi Tuan, jangan pernah memberitahu Nyonya Laura tentang apapun yang membuat hatinya risau. karena hal itu akan berdampak negatif bagi kesembuhannya."setelah mengatakan hal itu, dokter Luis segera pergi meninggalkan kerumunan keluarga Iskandar itu.
__ADS_1
"aaarrrgggh!"Gabriel seketika menjabat rambutnya sendiri. setelah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
"aku harus apa, Ayah?"tanya Gabriel Seraya menatap ke arah James dengan tatapan frustasi dan juga terpuruk.
Sementara James yang mendengar itu, hanya dapat terdiam. begitupun juga dengan Theo dan juga Melia. karena mereka bertiga, benar-benar tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dan mereka katakan untuk solusi ini.
"ini seperti buah simalakama!"ucap Gabriel Seraya menundukkan kepalanya. tak terasa, cairan bening itu, seketika mengalir deras di kedua bola mata laki-laki itu.
"tolong aku mohon, selamatkan anak dan istriku." ucap laki-laki itu Seraya mendongakkan kepala menerawang jauh ke depan sana. setelah puas menangis, Gabriel memutuskan untuk berdiri. namun seketika, tubuhnya kembali menegang. saat mendengar suara pintu yang dibuka dari samping kiri tubuhnya. dan hal itu membuat semua orang, seketika menatap ke arah dokter Matteo.
"bagaimana keadaan putriku?"tanya Gabriel dengan raut wajah tidak sabar. bahkan laki-laki itu, langsung berlari menghampiri dokter Matteo yang baru saja keluar dari dalam ruangan itu.
Laki-laki itu, terlihat menarik nafas dalam dalamnya. dan setelahnya, menghembuskan secara perlahan.
brugh
Seketika itu pula, tubuh Gabriel ambruk di atas lantai. Dan hampir tak sadarkan diri. membuat James dan juga Theo yang melihat itu, segera berlari menghampiri Gabriel dan memapahnya untuk berdiri.
"kau tidak apa-apa?"tanya Theo pada keponakannya itu. namun pertanyaan dari laki-laki paruh baya itu, tidak digubris oleh Gabriel.
Laki-laki tampan itu, malah melangkahkan kakinya untuk mendekati dokter Matteo dan menarik kerah baju laki-laki itu. "selamatkan putriku! atau kau mau, merasakan sesuatu hal buruk terjadi padamu?!"tanya Gabriel Soraya tersenyum miring.
Matteo yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala."kami akan berusaha sekuat tenaga."setelah mengatakan hal itu, dokter laki-laki itu segera pamit undur diri dari hadapan keluarga Iskandar.
__ADS_1
Gabriel kembali merasakan tubuhnya di atas lantai dengan tangisan pecah yang terdengar sangat pilu. dan siapa punya mendengarnya, seketika akan langsung prihatin dan juga ikut terpukul.
****
"bagaimana apa semua telah berlangsung dengan baik?"tanya seorang wanita paruh baya kepada dua orang yang baru saja masuk ke dalam rumah itu.
" ibu tidak usah khawatir. semua telah sesuai dengan rencana kita."ucap laki-laki yang tak lain adalah Bramantyo yang saat ini tersenyum penuh kemenangan.
Mendengar hal itu, Tania Avoss seketika tertawa terbahak-bahak." hahaha, akhirnya dendamku dapat terbalaskan."ucap wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang sangat girang.
Tak lupa terkadang wanita itu, melompat-lompat kecil seperti seorang anak yang baru saja diberikan mainan baru. sementara Bramantyo yang melihat itu, seketika terkekeh pelan suara yang menggelengkan kepala.
"aku berjanji akan membuatmu tersenyum bahagia ibuku sayang."ucap laki-laki itu serah yang menggenggam tangan wanita paruh baya yang telah berjasa melahirkannya itu.
Tak lama berselang, seorang laki-laki dan seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka yang tengah bersenang-senang itu.
"bagaimana, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Enriq pada kedua anaknya itu.
"semuanya beres Yah,"ucap Elmira yang menghambur ke dalam pelukan laki-laki paruh baya itu.
Enriq yang mendengar itu seketika tersenyum lebar. dan memukul udara karena saking merasa girang dengan apa yang baru saja ia dengar itu.
"akhirnya kita bisa membalaskan dendam."ucap laki-laki paruh baya itu memeluk tubuh putrinya dengan penuh kegembiraan.
__ADS_1
Mereka akhirnya tertawa terbahak. karena merasa telah menang dalam membalaskan dendam keluarganya. dan mereka, kini telah bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.