
Bersamaan dengan itu, Gabriel membuka pintu ruangan kerjanya. yang semalam digunakan untuk melampiaskan amarah. tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa terkejut dan terheran-heran. Apalagi, sikap para pelayan itu. wanita paruh baya itu sampai membulatkan matanya dan menatap Gabriel dan Laura beberapa kali secara bergantian.
Karena Merry tahu betul, Gabriel tidak akan pernah sudi untuk membagi kamarnya dengan orang lain. karena itu adalah pelanggaran di keluarga Iskandar. karena peraturan di keluarga itu, setiap orang memiliki kamar masing-masing dan berhak atas ruangan itu sepenuhnya. begitupun pasangan suami istri. mereka dilarang tinggal dalam satu ruangan yang sama dengan orang lain. walaupun itu adalah pasangan.
"tuan apakah Tuan baik-baik saja?"tanya Merry dengan raut wajah yang sangat khawatir.
Entah apa yang merasuki tubuh wanita paruh baya itu sehingga wajahnya terlihat sangat pias. dan Laura dapat melihat dengan jelas raut wajah itu.
"kenapa dia setakut itu?"tanya Laura pada dirinya sendiri. kedua matanya masih menatap ke arah wanita paruh baya itu dengan tatapan yang mencari-cari sesuatu.
"menyingkir lah kalian dari depan kamarku!"ucap Gabriel dengan suara lantang dan raut wajah yang sangat garang.
Tentu saja, hal itu membuat dua wanita itu, seketika menatap Gabriel dengan tatapan berbeda-beda dan juga ekspresi yang berbeda-beda.
Jika Laura menatap Gabriel dengan raut wajah kebingungan. bagaimana tidak, baru satu malam mereka seperti pasangan suami istri yang sungguhan. Namun, lihatlah saat ini. laki-laki itu kembali ke setelan pabrik. Gabriel kembali ke sikap awalnya. sangat garang dan juga kejam.
Sementara Merry, wanita setengah baya itu menatap Gabriel dengan raut wajah lega. entah apa yang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu.
"apa kalian tuli, hmm?"sentak laki-laki itu karena merasa geram dengan sikap kedua wanita yang ada di hadapannya itu. kenapa mereka malah diam, menyebalkan sekali! pikir Gabriel.
"ah, i...iya Tuan, kami akan keluar!"ujar Laura yang telah gemetar ketakutan. dan tanpa basa-basi lagi, wanita itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam kamar miliknya.
brak
__ADS_1
Saking takutnya, Laura sampai tidak sadar menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras. membuat dirinya sendiri, seketika terlonjak kaget. dan setelahnya, mengelus dada karena masih merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan itu.
"astaga, kenapa di rumah ini banyak orang aneh?!"tanya Laura pada dirinya sendiri
Entahlah, hampir saja Laura merasa terbaik dengan perlakuan Gabriel yang begitu manis dan juga sangat berbeda dengan sebelumnya. namun, saat melihat perlakuan laki-laki itu yang begitu mengerikan, membuat Laura seakan tersadar dari mimpi indahnya.
"sudahlah, lebih baik aku bersiap-siap saja. jangan sampai, laki-laki itu kembali murka dan mengacaukan semuanya,"gumam Laura pada dirinya sendiri. dan setelahnya, kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"ahh nyaman sekali,"gumam Laura Seraya mengguyurkan air yang berada di dalam gayung ke atas permukaan kulitnya.
Yap
Kamar mandi Kelayan itu sama seperti kamar mandi orang-orang pada umumnya yaitu memakai gayung dan juga kamar mandi kecil. berbeda dengan keluarga Iskandar yang menggunakan bath up dan juga shower. namun itu sama sekali tidak dipermasalahkan oleh para pelayan itu. karena memang, kasta mereka lebih rendah daripada keluarga Iskandar.
"akhirnya segar sekali,"gumam Laura pada dirinya sendiri. saat wanita itu, baru saja keluar dari dalam kamar mandi menuju ke kamarnya.
Ingin sekali, Laura mengatakan jangan pernah memperlakukan dirinya seperti itu. karena status mereka saat ini, adalah sama. namun Laura tidak berani untuk mengatakan hal itu. karena Gabriel pasti akan langsung mengamuk dan menyakitinya. yang dapat Laura lakukan, adalah membalas sapaan hormat dari para pelayan itu.
"ah, menyebalkan sekali!"gumam Laura Seraya duduk di depan meja rias kecil yang memang telah disediakan oleh keluarga itu. karena semua pelayan atau penghuni mansion itu, harus berpenampilan maksimal. karena Gabriel adalah seseorang yang perfeksionis.
Setelah selesai bersolek, Laura segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat ganti. untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan. dan setelah siap, Laura segera keluar dari dalam kamar untuk menuju ke dapur.
******
__ADS_1
Sementara itu di depan kamar Gabriel, terlihat Merry si kepala pelayan, tengah berbincang-bincang dengan laki-laki kejam itu.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Merry dengan raut wajah yang begitu khawatir.
Sementara Gabriel, laki-laki itu hanya menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya dengan tatapan dingin dan juga datar.
"aku tidak apa-apa, jangan pernah terlalu ikut campur urusan pribadiku, karena kau bukan ibuku!"setelah mengatakan hal itu, Gabriel segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar.
brakk
Merry terjingkat kaget. saat pintu kamar itu ditutup dengan begitu kencang oleh si pemilik kamar.
"b******* kecil ini! "gumam Merry Seraya menatap ke arah pintu yang masih tertutup itu. "awas saja kau Gabriel,"ucapnya Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat karena menahan amarah yang luar biasa. dan setelah mengatakan hal itu, wanita paruh baya itu segera pergi.
Dirinya harus mengecek semua pekerjaan pelayan di Mansion itu. karena memang tugasnya, adalah mengawasi para pekerja mansion.
Sementara di dalam kamar, Gabriel seperti orang yang sedang linglung. laki-laki itu, tidak mengerti apa yang baru saja terjadi kepadanya.
"tidak! aku tidak boleh kalah oleh perasaan ini! karena sampai kapanpun, aku akan membencinya. karena gara-gara dia, semua impianku menjadi hancur berantakan!"ucapnya penuh dengan tekad.
Setelah mengatur emosinya agar kembali stabil, Gabriel segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. untuk membersihkan diri. karena hari ini, Gabriel akan bertemu dengan keluarga Elmira. karena laki-laki tampan itu, telah berjanji kepada wanita cantik itu untuk menemui kedua orang tuanya.
Setelah siap semuanya, Gabriel segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke ruang makan. dan di sana, telah ada asisten pribadinya yang telah menunggu.
__ADS_1
"selamat pagi Tuan Gabriel,"sapa para pelayan itu secara serempak termasuk juga dengan Laura dan juga Merry. Gabriel hanya menganggukkan kepala dan dengan segera, laki-laki itu, duduk kursi yang paling besar.
Menandakan jika Gabriel adalah kepala keluarga dimension itu. saat setelah laki-laki itu duduk, semua pelayan segera mengambil posisinya masing-masing untuk melayani laki-laki itu.