
Setelah puas melakukan hal itu, Gabriel segera bangkit dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Laura yang masih merasa kebingungan dengan sikap laki-laki itu.
"aaarrrgggh!! kenapa rasanya sakit sekali?!"tanya Gabriel Seraya memukul tembok kamar mandi itu.
"tidak mungkin kan, kalau aku suka dan memiliki rasa pada wanita itu?"tanya Gabriel pada dirinya sendiri.
"tidak tidak aku tidak boleh menghianati kekasihku!"ucap Gabriel masih pada dirinya sendiri.
Laki-laki itu, sepertinya merasa kebingungan dengan perasaan yang semakin lama semakin kuat itu. padahal, beberapa hari yang lalu, dirinya bisa menguasai perasaan itu dan berusaha keras untuk membuangnya. dan hal itu, berhasil.
Setelah puas melampiaskan amarahnya di kamar mandi, Gabriel segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu. dan disaat laki-laki itu melangkahkan kakinya melewati ranjang yang masih terdapat Laura, laki-laki itu menghentikan langkahnya.
Mata Elangnya, menatap Laura dengan tatapan yang sangat dalam. dan beberapa saat kemudian, pandangan kedua orang itu bertemu dan saling mengunci satu sama lain.
Sebelum akhirnya, Laura menyadari hal itu Dan langsung memutus kontak mata diantara mereka berdua. hal itu pun, juga dilakukan oleh Gabriel. laki-laki tampan itu, segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu.
" Tuan,"sapa Brian. saat laki-laki itu, melihat tuannya keluar dari kamar Laura.
"ada apa?"tanya Gabriel Seraya menoleh ke arah asisten pribadi sekaligus pengawalnya itu.
"di luar ada tamu,"ucap Brian Seraya menunduk hormat.
Seketika itu pula, Gabriel mendesah pelan."siapa orangnya, jika tidak penting, usir mereka dari sini."sahut Gabriel.
__ADS_1
"Tuan Devan Marco,"ucap Brian. membuat Gabriel, seketika menetap ke arah asisten pribadi sekaligus pengawalnya itu dengan sedikit rasa kesal.
"kenapa dia ada di sini? apa yang dia mau sebenarnya?"tanya Gabriel dengan raut wajah tidak suka.
Tentu saja hal itu membuat Brian, merasa kebingungan. karena setahu dirinya, Gabriel dan Devan adalah orang yang memiliki hubungan baik-baik saja. dan bahkan, Gabriel akan langsung menyuruh para pekerja Mansion untuk menyambut kedatangan laki-laki itu. jika Gabriel mendengar nama dari Devan Marco datang ke Mansion miliknya. tapi mengapa sekarang berubah seperti ini? Pikir Brian pada dirinya sendiri.
Gabriel segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang biasanya membuat pertemuan dengan tamu di Mansion miliknya.
"ada apa anda kemari lagi Tuan Devan Marco yang terhormat?"tanya Gabriel yang sengaja menekankan kalimat "yang terhormat" di akhir kalimatnya.
Sementara Devan Marco yang melihat itu, seketika memiliki ide jahil untuk mengerjai laki-laki yang terkenal dingin itu.
"Tentu saja aku kemarin ingin mengembalikan orang milik istri anda yang tertinggal di mobil saya tuan,"ucap Devan Seraya menyerahkan sebuah sapu tangan yang berbentuk kupu-kupu.
"kenapa ini bisa ada dengan anda?"tanya Gabriel seraya merampas sapu tangan itu dan merem*s nya dengan erat.
Devan yang melihat itu, semakin bersemangat untuk menggoda laki-laki yang terkenal kejam dan dingin yang ada di hadapannya saat ini.
"tentu saja Tuan, karena setelah kejadian itu, saya memutuskan mengajak Laura ke tempat yang indah. agar wanita itu, mendapat ketenangan setelah mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang tuanya,"ucap Devan Seraya tersenyum kecil.
"kurang ajar!"Gabriel mengeram kesal. laki-laki itu berusaha kuat untuk menahan diri agar tidak emosi dan tidak melukai laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Karena bagaimanapun juga, mereka adalah rekan bisnis yang sudah menjalin hubungan saat mereka masih sama-sama kecil dan digendong oleh orang tua masing-masing. dalam artian, kerjasama antara keluarga Marco dan juga keluarga Iskandar, telah terjalin puluhan tahun yang lalu. semenjak James Iskandar dan juga Gilbert Marco yang memimpin.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu Tuan, saya rasa urusan saya sudah selesai. dan sekarang, izinkan saya untuk pamit undur diri."ucap Devan penuh dengan arti.
Gabriel yang mendengar itu, sama sekali tidak memperdulikan ucapan dari laki-laki itu. dirinya lebih fokus, terhadap beberapa pertanyaan yang seketika berputar-putar di dalam kepalanya.
"aku harus mencari tahu semuanya,"ucap Gabriel Seraya melangkahkan kakinya untuk kembali menemui Laura yang masih berada di kamar.
"tidak akan aku biarkan, wanita itu berbuat seenaknya!"lanjutnya Seraya melangkahkan kakinya lebih cepat agar segera sampai di dalam kamar Laura.
******
Sementara itu di perjalanan, terlihat Devan yang tertawa terbahak-bahak. karena berhasil mengerjai laki-laki kejam itu.
"kau lihatkan Justin, wajah Gabriel tampak merah padam. itu menandakan, bahwa laki-laki itu sangat mencintai istrinya,"ucap Devan Seraya tersenyum tipis. membayangkan, betapa sempurnanya kehidupan seorang Gabriel Iskandar.
Laki-laki, yang memiliki hampir segalanya. kekayaan yang berlimpah, istri yang sangat cantik, dan juga kekuasaan yang ada di mana-mana. sungguh, Devan menginginkan hal itu. namun sayangnya, keinginannya itu tidak serta-merta lulus begitu saja. karena pada kenyataannya, kekayaan dan kekuasaan milik Devan Marco, masih jauh jika harus dibandingkan dengan keluarga Iskandar.
"apa tidak masalah dengan kita kedepannya nanti, Tuan?"tanya Justin yang merasa sedikit khawatir dengan tindakan yang dilakukan oleh temannya itu.
"kau tidak perlu khawatir Justin, aku bisa mengatasinya sendiri. ucap Devan dengan raut wajah tenang. "dan aku akan merebutnya, jika tidak mendapatkan perlakuan baik dari Gabriel.
Nb : yuk mampir ke cerita teman aku, di jamin ngak nyesel
__ADS_1