Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 25


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Laura hanya terdiam saat tangan Melia masih terulur untuk menanti sambutan dari tangan Laura.


"eh, aku Laura senang bisa berkenalan denganmu."ucap Laura dengan gugup karena terus dipandangi oleh Melia.


"ka...kau kenapa memandangku seperti itu?"tanya Laura dengan raut wajah gugup dan juga nada sedikit gemetar.


"kau cantik sekali,"puji Melia pada wanita cantik itu.


Tentu saja hal itu membuat Laura, menjadi tersipu malu karena mendapat pujian seperti itu.


"kau ini bisa saja,"ucap Laura Seraya tersenyum kecil.


"jadi ceritanya bagaimana?"tanya Melia yang langsung menarik tangan Laura untuk duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan itu.


Tentu saja, hal itu membuat Laura merasa sangat kebingungan. karena wanita itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sepupu dari Gabriel itu.


"hah, apanya?"tanya Laura yang terlihat sangat bingung. dan itu justru membuat Melia merasa sangat gemas terhadap wanita itu.


"Gabriel memang bodoh! wanita menggemaskan seperti ini, kenapa tidak dijadikan ratu. malah dijadikan babu,"ucap Melia dalam hati.


Laura yang melihat sepupu dari Gabriel itu hanya terdiam, berusaha menyadarkan Melia kembali. dengan cara tangan yang dilampirkan ke hadapan wanita itu.


"hei apakah kau baik-baik saja?"tanya Laura pada gadis itu.


"eh, iya tentu saja aku baik."ucap Melia yang sedikit tersentak. kemudian, wanita itu kembali menatap Laura dengan tatapan yang sangat intens.


"bagaimana ceritanya?"tanya Melia masih dengan pertanyaan yang sama. tentu saja hal itu membuat Laura, yang mendengar itu merasa sangat kebingungan.


"apa maksudmu? aku tidak mengerti!"tanya Laura dengan raut wajah yang semakin menggemaskan.


Ingin sekali, saat ini Melia mencubit kedua pipi gembul milik wanita itu. karena saking menggemaskannya tingkah laku dari Laura.

__ADS_1


"kau ini menggemaskan sekali si Laura, kalau aku bukan wanita, mungkin aku sudah menjadikanmu ratu. bukan babu,"ucap Melia Seraya tersenyum tipis.


Tentu saja hal itu membuat Laura yang mendengarnya, seketika menundukkan kepala.


"kau ini bisa saja, aku tidak pantas menjadi ratu. aku memang pantasnya hanya menjadi seorang babu,"ucap Laura Seraya tersenyum getir.


Melia yang melihat itu, segera menghampiri dan langsung mengusap punggung Gadis itu untuk memberikan kekuatan.


"kau tidak usah berkecil hati, aku janji akan membujuk sepupuku itu untuk memperlakukanmu lebih baik."ucap Melia.


Laura yang mendengar itu sontak saja kirimkan kepalanya. "tidak perlu, aku tidak perlu terlihat lemah di hadapan orang lain."ucap Laura dengan tegas.


Melia yang mendengar itu, menghela nafas panjang. ternyata Laura itu sangatlah keras kepala seperti halnya Gabriel. memang wajar jika mereka Akhirnya berjodoh menjadi suami istri. karena hampir memiliki kesamaan. baik fisik maupun sifat. bahkan Melia berpikir, bahwa jodoh sepupunya itu adalah Laura. Bukan Elmira.


"ya sudah kalau begitu, tapi kau bisa melakukan satu hal?"tanya Melia pada Laura.


"kalau aku sanggup, aku akan melakukannya. jika tidak, maka aku akan menyerah dan melampirkan tangan."


Laura yang mendengar itu, seketika mengerutkan keningnya.


"hah, apa maksudmu?"tanya Laura yang memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sepupu Gabriel itu.


"nanti kau juga akan tahu,"jawab Melia yang langsung beranjak dari duduknya.


Namun, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti saat kedua matanya tidak sengaja melihat mobil Gabriel melaju dengan terburu-buru.


"ada apa, apa yang terjadi dengan Gabriel?"tanya Melia panik. saat wanita itu melihat, sepupunya tengah di papah oleh Brian dan juga pengawal yang lainnya.


"Dia terkena panah beracun di kakinya."ucap Brian dengan cepat dan langsung membawa Gabriel masuk ke dalam kamarnya.


"oh astaga apa yang sebenarnya terjadi?"tanya wanita itu Seraya berlari untuk mengikuti langkah kaki yang membawa sepupunya itu.

__ADS_1


Sementara Laura, wanita itu hanya terdiam karena memang tidak mengerti apa yang harus dirinya lakukan di situasi saat ini.


Akhirnya, wanita itu memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. dirinya sampai lupa dengan ponsel yang masih menyala setelah digunakan untuk menonton film kesukaannya.


"hah kenapa aku ceroboh sekali, membiarkan ponsel samahal ini, kehabisan daya baterainya,"gurutu Laura pada dirinya sendiri.


Wanita itu lebih mementingkan ponsel yang diberikan oleh Gabriel daripada melihat kondisi laki-laki itu. sungguh Laura adalah wanita yang ajaib.


*****


"kau ini kenapa?!"tanya Melia Seraya mencoba menyuntikkan sebuah cairan ke dalam luka panahan itu.


Memang, racun dari panah itu hanya dapat dihentikan dengan dua cara. yaitu, menyuntikkan sebuah cairan ke dalam bekas luka itu. dan opsi yang kedua, adalah mengangkat bekas luka itu alias memotongnya. dan Melia tidak akan pernah melakukan opsi yang kedua. karena dirinya tidak ingin, sepupunya itu menjadi cacat permanen.


Jadi yang dapat Melia lakukan saat ini adalah menyuntikkan cairan ke dalam bekas luka itu. walaupun rasanya akan jauh lebih menyakitkan daripada memotong bagian tubuh yang terluka. Namun, itu lebih baik daripada memotong seluruhnya.


"aaarrrgggghhh!!"teriak Gabriel mengerang kesakitan. bahkan laki-laki tampan itu sampai menggelepar seperti seekor ayam yang baru saja disembelih. akibat rasa sakit yang luar biasa yang dirinya rasakan.


Teriakan dari Gabriel itu, tentu saja mengundang kepanikan dari semua orang yang ada di sana. tak terkecuali, Laura yang berada di bangunan paling belakang. wanita itu seketika tersentak kaget dan langsung berlari menghampiri kamar Gabriel.


"astaga!" pekik Laura Soraya tubuhnya bergetar hebat. karena mendapati pemandangan yang mengerikan di hadapannya itu. di mana saat ini, Melia tengah menyuntikkan dan membersihkan luka panah itu dengan cepat. tentu saja hal itu membuat Laura merasa ngilu.


"me.. memang tidak ada cara lain?"tanya Laura dengan gemetar.


"tidak! kita harus cepat melakukannya jika tidak ingin, racun itu menyebar lebih luas!"tanya Melia tanpa melihat ke arah sumber suara.


Laura yang melihat itu, seketika merasa kasihan. apalagi saat melihat Gabriel sampai harus mengeluarkan air mata. pasti rasanya sungguh sangat-sangat sakit. sehingga membuat seorang Gabriel Iskandar, sampai menangis seperti ini.


"kalau kau tidak kuat, lebih baik kau segera keluar saja! aku tidak ingin kau malah tak sadarkan diri di sini!"ucap Melia tanpa melihat ke arah Laura.


Wanita itu, segera melangkah mundur dan berbalik arah untuk menggapai pintu yang rasanya sangat jauh akibat tubuhnya yang bergetar hebat itu. dan sekilas Laura melihat tatapan dari Gabriel. laki-laki itu, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"kenapa dia menatapku seperti itu?"tanya Laura dengan raut wajah kebingungan. wanita itu segera melangkah pergi saat mendengar suara teriakan dari Gabriel.


__ADS_2