Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Calon Ibu Tiri
TMCIT part 62


__ADS_3

Sepeninggal ketika laki-laki itu, Laura mengajak Melia untuk masuk ke dalam kamarnya. Karena Wanita itu, benar-benar merasa sedikit jenuh. akibat Gabriel, yang menyuruhnya untuk tidak pergi kemana-mana.


"kenapa wajahmu kusut sekali?"tanya Melia Seraya menatap ke arah wajah istri sepupunya itu.


"hufft, bagaimana aku tidak kusut, sepupumu saja selalu menjagaku secara berlebihan."ucap Naura Seraya mendengus kesal.


Wanita cantik itu teringat bagaimana seorang Gabriel Iskandar memperlakukan dirinya secara istimewa yang jatuhnya, berlebihan.


"harusnya kau bersyukur, karena sepupuku sangat perhatian padamu."ucap Melia Seraya mengusap perut Laura dengan gemas.


Laura yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah Melia berada."maksudmu?"tanyanya yang memang tidak mengerti.


Melia tersenyum kecil."asal kamu tahu, di luaran sana masih banyak wanita yang tidak seberuntung kamu, mereka tidak pernah mendapatkan perhatian dari pasangannya."ujarnya.


Laura yang mendengar itu, seketika memutar bola mata malas."bukannya aku tidak bersyukur, aku hanya ingin hidup seperti wanita hamil pada umumnya. yang diperbolehkan untuk berjalan-jalan ataupun belanja. bukan hanya di rumah saja seperti ini,"ucapnya Seraya menundukkan kepala.


Melia yang mendengar itu, seketika mengusap punggung dari istri sepupunya itu."aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi cobalah bersabar. mungkin nanti Jika anak kalian sudah lahir, Gabriel akan sedikit membebaskan mu untuk bepergian."ucapnya yang mencoba untuk menghibur wanita itu.


Karena Melia tahu, alasan dari sepupunya tidak memperbolehkan Laura berpergian, karena di luar sana banyak musuh yang mengintai keluarga Iskandar. apalagi saat ini, Laura dalam keadaan hamil. akan sangat beresiko tinggi jika wanita itu bepergian. karena Gabriel, laki-laki itu tidak ingin kecolongan ataupun mendapatkan kenyataan-kenyataan buruk karena membiarkan Laura keluar dari Mansion.


Sementara Laura yang mendengar itu, mencoba memahami situasi yang sekarang telah dihadapi oleh suaminya. walaupun entah mengapa, ego wanita itu sedikit tinggi dari biasanya. mungkin karena Laura saat ini, tengah mengandung. sehingga suasana hatinya, sedikit sangat kacau.


"aku tahu, tapi entah mengapa, aku ingin sekali pergi ke supermarket untuk membeli buah nanas dan juga mangga."ucap Laura jujur.

__ADS_1


Melia yang mendengar itu, seketika bangkit dari duduknya."kalau begitu, biar aku saja yang pergi ke supermarket."ucap wanita tomboy itu dengan nada antusias.


Laura yang melihat itu, seketika menatap sepupu suaminya itu dengan tatapan terheran."sejak kapan kau antusias seperti ini?"tanya wanita itu Seraya menatap ke arah Melia.


"sejak detik ini,"ucap Melia Seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam Mansion.


"tunggu,"cegah Laura. hingga membuat wanita tomboy itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.


"kenapa?"tanya Melia bingung.


"tolong sekalian belikan aku sosis bakar dan juga pizza mini. selama ini, sepupumu itu selalu memberikan aku makanan dari ayam dan juga ikan. dan tidak mengizinkanku, makan sosis bakar ataupun sejenisnya."ucap Laura.


Melia yang mendengar itu, sejenak terdiam. ternyata, Gabriel memang menjaga istrinya dengan baik.


Setelah itu, wanita tomboy itu melangkahkan kakinya untuk membeli pesanan dari istri sepupunya itu.


******


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di ruangan milik Gabriel, terlihat ketiga laki-laki berbeda generasi itu, tengah berbincang-bincang dengan serius.


"jadi bagaimana, apa kau ingin menyerahkan kepemimpinan ini padaku?"tanya James menatap ke arah putranya dengan raut wajah serius.


"tidak, aku bisa melakukannya sendiri."tolak Gabriel dengan tegas.

__ADS_1


Sementara James dan Theo yang mendengar itu, kompak menghela nafas panjang. ternyata, sifat keras kepala dari seorang Gabriel Iskandar, masih sangatlah tinggi. dan masih sulit untuk diruntuhkan.


"aku tidak akan membuat kepemimpinan lengser. aku hanya ingin, kau merasa tenang saat mengurus istrimu,"sahut James.


"benar Gabriel. karena kami melihat, akhir-akhir ini kewaspadaanmu itu sedikit menurun. semenjak kau jatuh cinta pada istrimu sendiri,"Theo yang awalnya hanya berdiam diri, kini ikut angkat bicara.


Sementara Gabriel yang mendengar itu, membuang pandangan ke arah lain. laki-laki itu gengsi untuk mengakui ucapan dari pamannya itu.


Karena memang, laki-laki itu akhir-akhir ini, mengalami penurunan pada kewaspadaannya.


"jadi bagaimana?"tanya James menatap ke arah putra satu-satunya itu.


"apanya?"bukannya menjawab, laki-laki tampan itu malah balik bertanya pada ayahnya.


Tentu saja, hal itu membuat Theo dan juga James menggelengkan kepala karena melihat kelakuan dari laki-laki itu.


" kalau saja kau bukan putraku, sudah aku bunuh kau."ucapnya mengeram kesal.


Sementara Gabriel, laki-laki tampan itu tidak memperdulikan amarah yang membuncah. laki-laki itu malah asik memakan buah yang telah disediakan oleh para pelayan di Mansion itu.


Tak lama kemudian, Gabriel bangkit dari tempat duduk. membuat James dan juga Theo yang melihatnya, sama-sama saling pandang.


"baik kalau begitu, aku setuju. Hanya dua atau sampai tiga bulan."setelah mengatakan hal itu, Gabriel segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan kerjanya.

__ADS_1


"dasar gemblung!"ucap kedua laki-laki paruh baya itu secara bersamaan.


__ADS_2