
setelah puas mengelilingi kamar yang sangat bagus dan juga mewah itu, Laura bergegas melangkah keluar dari dalam kamar itu. dengan mata, yang masih memancarkan kekaguman terhadap ciptaan Tuhan yang sangat indah itu.
"oh ya, sebelum aku keluar dari dalam kamar, sebaiknya aku segera membersihkan diriku."ucap Laura pada dirinya sendiri.
Wanita cantik itu, kembali masuk ke dalam kamar mewah itu. setelah salah satu kakinya, telah melangkah keluar dari kamar mewah itu. yang disebut Laura sebagai ruang ajaib.
Setelah membersihkan diri selama 30 menit, Laura segera keluar dari dalam kamar mandi. dan langsung menuju ke sebuah ruangan kecil yang ada di kamar itu. yang tak lain, adalah ruang ganti pakaian.
"astaga! ini lengkap sekali,"gumam Laura merasa sangat takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya itu. maklum saja, Laura hanya melihat sekilas ke arah lemari pakaian itu. sehingga, wanita itu tidak menyadari bahwa isi dari lemari itu adalah sebanyak ini.
Laura kemudian membuka tumpukan pakaian dalam yang memang sengaja disediakan oleh Gabriel. matanya, seketika membulat sempurna. dengan mulut yang menganga lebar.
"dia tahu ukurannya?"tanya Laura pada dirinya sendiri. wanita itu merasa sangat syok dengan apa yang ia temukan di lemari pakaian itu.
"kenapa bisa begini? apa jangan-jangan,..."Laura kembali membuka lemari kaca itu dengan tergesa-gesa. dan jantungnya semakin berdetak kencang saat menyadari sesuatu.
"memang sudah gila laki-laki itu,"gumam Laura dengan raut wajah merah padam karena menahan rasa malu yang luar biasa.
Padahal seharusnya, Laura merasa bangga karena Gabriel sudah mengetahui semua tentang dirinya. padahal mereka baru melangsungkan pernikahan, beberapa hari yang lalu.
"kenapa kamu belum ganti baju?"Laura seketika, terjingkat kaget. saat suara bariton milik seorang laki-laki yang sangat ia kenal kembali muncul di belakang tubuhnya.
Dengan perlahan-lahan dan degup jantung yang berpacu luar biasa, Laura menoleh ke arah sumber suara. dan benar dugaannya. saat ini, Gabriel tengah mana letaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. membuat Laura, seketika merasakan salah tingkah yang luar biasa.
"eh, Tu...Tuan sejak kapan anda di sana?" bukannya menjawab pertanyaan dari laki-laki itu, Laura justru mengajukan sebuah pertanyaan baru pada Gabriel.
__ADS_1
"sudah jangan lama-lama, sekitar 15 menit lagi aku tunggu di bawah,"setelah mengatakan hal itu, Gabriel melangkah secara perlahan keluar dari dalam kamar itu.
Sementara Laura, wanita itu masih mematung di tempatnya untuk mencerna semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.
"aak! bisa gila aku jika memikirkan ini terus,"serunya Seraya sesekali menarik rambutnya sendiri. setelah selesai mengumpat diri sendiri, Laura segera membuka lemari pakaian itu. dan segera mengenakan sebuah dress berwarna peach di padu padankan dengan sepatu yang berwarna senada.
Setelah selesai mengenakan pakaian itu, Laura segera menuju ke ruangan rias yang memang tersedia di kamar itu. tangan lentiknya, mulai lincah memoles wajah cantiknya menjadi semakin cantik dan menawan. setelah hampir 10 menit, Laura mematut dirinya sendiri di depan cermin panjang yang ada di ruangan itu.
"kau memang perfect Laura!"gumam wanita itu, pada dirinya sendiri. wanita itu berputar-putar di depan cermin besar itu.
Memang kali ini, penampilan Laura berbeda dari biasanya. karena jika biasanya wanita itu hanya memakai baju pelayan dan juga rambut yang digulung seadanya, kini penampilan Laura sangat mempesona. dengan balutan dress dan juga sepatu berwarna peach, dan juga rambut yang di curly seadanya, membuat Laura seperti boneka hidup yang sangat menawan.
*****
Tak berselang lama, asisten Gabriel mengetuk pintu ruangan laki-laki itu. dan setelah beberapa saat, Brian masuk ke dalam ruangan.
"permisi Tuan, apa Anda sudah benar-benar sembuh?"tanya Brian pada laki-laki tampan itu.
"ya, ada apa memangnya?"tanya Gabriel pada asisten pribadi sekaligus pengawal pribadinya itu.
"nanti jam 10.00, akan ada pertemuan dengan keluarga Virzha."ucap Brian Seraya menyerahkan sebuah dokumen berwarna coklat kepada Gabriel.
"hmm, baiklah. kau atur saja semuanya,"ucap Gabriel Seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya itu.
"baik Tuan."setelah mengatakan hal itu, Brian segera meninggalkan ruangan milik Gabriel. menuju ke ruangannya sendiri.
__ADS_1
Memang, di dalam Mansion milik Gabriel ini, terdapat sebuah ruangan yang memang didesain oleh Gabriel sendiri, seperti sebuah perusahaan kecil. tujuannya adalah, agar Gabriel tidak lelah dalam mengatur waktu istirahat dan juga waktu kerja. karena laki-laki itu, sebenarnya sangat malas untuk berpergian jauh.
Mungkin jika bukan karena mandat dari sang ayah alias James Iskandar, Gabriel tidak akan mau meneruskan usaha ini. karena sebenarnya, laki-laki itu lebih mementingkan waktu bersantai. dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada bawahannya.
Dengan catatan, semua kinerja bawahannya atas pantauan dari laki-laki itu. karena walaupun Gabriel menyukai hal-hal yang berbau santai, namun laki-laki itu tidak menginginkan tangku kekuasaannya diduduki oleh orang lain. karena memang Gabriel tidak mempercayai hal itu. laki-laki itu percaya, jika seseorang diberikan mandat yang cukup besar, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. yaitu, orang itu menjadi tamak dan lupa diri, dan yang satu lagi, orang itu menjadi semakin patuh kepada atasannya. karena dianggap telah berjasa dalam membantu kehidupannya.
Namun sayangnya, tidak semua orang mendapatkan kesadaran di dalam pikirannya masing-masing. lebih banyak pengkhianatan daripada kesetiaan. untuk itulah, Gabriel membuat perusahaan kecil di dalam Mansion miliknya. tujuannya adalah, agar dapat mengontrol semua yang ada di dalam kendalinya.
tok tok tok
Seketika itu pula, lamunan Gabriel terhenti. saat mendengar suara ketukan pintu dari depan ruangannya.
"siapa?"tanya Gabriel Seraya kembali pada mode awal.
"ini saya tuan, Laura!"ucap orang itu dari luar ruangan laki-laki itu.
"masuk!"titah Gabriel.
Berapa saat kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. dan tak berselang lama, seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan Gabriel.
Membuat Gabriel yang melihat itu, seketika terdiam untuk beberapa saat. jiwa normalnya sebagai laki-laki, tidak pernah memungkiri bahwa Laura adalah wanita yang sangat cantik. bahkan mata laki-laki itu, tidak mampu berkedip untuk beberapa saat.
"Tuan, apakah Tuan baik-baik saja?"tanya Laura Seraya melambaikan tangan ke arah wajah laki-laki itu.
Seketika itu pula, Gabriel sedikit gelagapan dibuatnya. "hmm, duduklah di sampingku!" ucap laki-laki itu Seraya memasang wajah datarnya. padahal di dalam hatinya, Gabriel tengah merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1