
Saat ini, Gabriel tengah berada di sebuah ruangan di Mansion utama milik keluarga Iskandar. laki-laki Itu tampak sangat kebingungan saat ini. ditambah lagi, di hadapannya saat ini ada sang Ayah. James Iskandar. dan juga sang paman, yang bernama Theo Albern.
"Ayah Paman, untuk apa kalian mengajakku juga memintaku untuk kemari?"tanya Gabriel Seraya menatap kedua laki-laki paruh baya itu dengan pandangan bergantian.
"ada yang ingin aku bicarakan padamu,"ucap James dengan suara lantang. Tentu saja, itu membuat Gabriel merasa sangat terkejut.
Namun, itu sama sekali tidak berlaku untuk Laura dan juga Melia. karena dua wanita itu, sudah mengetahui apa yang dialami oleh James.
"Ayah bisa bicara?"tanya Gabriel Seraya menatap laki-laki paruh baya itu dengan raut wajah tidak percayanya.
"sejak kapan? Bukankah Ayah selama ini mengalami stroke?"tanya Gabriel masih menetap ke arah laki-laki itu.
James yang mendengar itu, seketika tersenyum kecil. kemudian melangkahkan kakinya, untuk mendekati putra satu-satunya itu.
"simpan keterkejutanmu itu! sekarang aku ingin mengatakan sesuatu. dan dengarkan ini baik-baik!"titah James menetap ke arah putranya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Gabriel yang mendengar itu, semakin merasa bingung. dirinya menatap ke arah Melia dan juga Laura. Seakan-akan, laki-laki itu tengah meminta penjelasan pada dua wanita itu. Namun, dua wanita itu malah tersenyum ke arahnya. hingga membuat Gabriel, seketika mendengus kesal. kemudian menatap ke arah Ayahnya. untuk kembali meminta penjelasan pada laki-laki paruh baya itu.
"jelaskan semua padaku!"ucap laki-laki itu dengan raut wajah merah padam.
Padahal awalnya, Gabriel hanya menuruti keinginan Melia sebagai tanda permohonan maaf. karena telah menuduh wanita itu, mempunyai rasa padanya. padahal kenyataannya adalah, wanita itu sama sekali tidak tertarik padanya.
"maafkan Ayah. Ayah terpaksa melakukan ini untuk menggagalkan rencana pertentanganmu."ucap laki-laki paruh baya itu mulai menceritakan sedikit kisah sebelum pelaksanaan rencana itu terjadi.
flashback on
__ADS_1
Satu minggu, sebelum pernikahan James dan juga Laura terjadi, laki-laki tua itu mendapatkan kabar. jika putranya, akan melangsungkan acara pertunangan sehari setelah dirinya menikah.
Membuat James dengan segera, langsung menghubungi Theo dan juga Melia untuk mempermudah rencananya itu.
"Theo Melia, aku mengundangmu ke sini untuk masuk dalam rencanaku."ucap James pada saudara dan juga keponakannya itu.
"apa yang bisa kami bantu, Paman?"tanya Melia menatap ke arah laki-laki paruh baya itu dengan tatapan penasarannya.
"sehari sebelum pernikahanku berlangsung, kau harus membuat skenario untuk aku jatuh dari atas tempat tidur. dan setelah itu, kau harus membantuku untuk membujuk Gabriel agar dapat menikahi Laura."ucap James dengan cara yang sangat serius.
"baik Paman, aku bersedia akan membantumu." ucap Melia tersenyum kecil. dan begitupun dengan Theo. yang bersedia untuk membantu James.
Hari yang direncanakan pun tiba. dan James saat ini, masih berada di tempat tidur.
Wanita itu segera menjalankan aksinya, sesaat setelah mendapatkan anggukan dari laki-laki paruh baya itu. tiba-tiba saja,...
brugh
Begitulah rentetan kejadian sebelum pernikahan itu gagal dan digantikan oleh Gabriel.
flashback off.
Gabriel yang mendengar itu, seketika mengusap wajahnya dengan kasar. kemudian menatap ke arah istri dan juga sepupunya dengan tatapan yang sangat tajam.
Sehingga membuat kedua wanita itu, seketika melempar pandangan ke arah lain.
__ADS_1
"kenapa hanya aku yang tidak mengetahui rencana ini?"tanya Gabriel dengan nada kesalnya.
Membuat Theo yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan. karena menurutnya, pertanyaan yang dilontarkan oleh keponakannya itu sangatlah konyol dan tidak masuk akal.
Tentu saja jika Gabriel mengetahui hal itu dari awal, rencana mereka tidak akan pernah berhasil. dasar bodoh! pikir Theo dalam hati.
"ya kalau kamu tahu dari awal, rencana tak akan pernah berhasil sayang."ucap Laura dengan nada yang sangat gemas.
Ingin sekali, wanita itu memukul kepala suaminya itu agar sedikit sadar dengan pertanyaannya.
"sekarang, apa rencana kalian?"tanya Gabriel menatap ke arah Paman dan juga Ayahnya secara bergantian.
"kau tenang saja, itu semua sudah ada dalam pikiran ayah dan juga Pamanmu. yang kau lakukan saat ini, adalah menjaga istrimu baik-baik. karena keluarga mereka, pasti tidak akan pernah tinggal diam."ucap James Seraya menepuk bahu laki-laki itu.
"kita bisa laporkan pada polisi, kan?"tanya Gabriel menatap ke arah James dan juga Theo.
Mendengar ucapan dari laki-laki itu, membuat kedua laki-laki paruh baya itu, malah tertawa dengan terbahak-bahak.
"apakah kau lupa, bahwa di negara ini, tidak ada yang takut akan hukum?"tanya James seraya menatap ke arah putranya itu.
Akhirnya mau tidak mau, Gabriel harus mengikuti saran dari Paman dan juga Ayahnya. padahal biasanya, laki-laki itu dapat menyelesaikan semuanya sendiri.
Namun kali ini, rencananya itu langsung ditolak oleh James. karena saat ini, Laura pasti menjadi incaran mereka. untuk itulah, James memerintahkan putranya untuk hanya fokus terhadap Laura.
__ADS_1