
Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dengan diam seribu bahasa, hingga akhirnya mereka pun sampai di depan butik terkenal milik sahabat mama Ridho, sebelumnya mereka telah datang kesini dengan mama Ridho untuk mengukur badan untuk pakaian yang akan mereka kenakan di hari pernikahan mereka nantinya.
Ridho turun dari dalam mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Fathiya, fathiya masih saja diam karena malu masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi di antara mereka, sedangkan Ridho berusaha bersikap tak terjadi apa-apa.
Ridho menggenggam tangan Fathiya saat berjalan masuk ke dalam butik, Fathiya menatap tangan Ridho yang menyentuhnya lalu mengikuti setiap langkah Ridho hingga saat ini mereka telah berada di ruangan pribadi pemilik butik.
“ hai Ridho...” sapa Nyonya Sinta saat melihat putra tunggal sahabatnya.
“ Hai juga tante....apa kabar tante??” sapa Ridho ramah.
“ Tante baik sayang...kalian bagaimana ?? sudah siap buat acara nanti??” tanya nyonya Sinta pada dua insan yang ada di hadapannya.
“Mhm....su...dah tante...” jawab Ridho sambil mencuri pandang pada Fathiya yang menunduk malu.
“ ya udah...yuk kita lihat pakaian kalian...” ajak tante Sinta sembari membawa mereka ke ruangan khusus gaun pengantin.
Tante Sinta mengambilkan gaun yang telah di pesankan untuk Fathiya.
“ Kamu coba dulu ya nak...” ucap tante Sinta Ramah sambil menyuruh seorang karyawannya mengikuti Fathiya untuk membantu Fathiya mengenakan gaun itu.
Fathiya dan karyawan itu masuk ke ruang ganti lalu mengenakan gaun yang telah di rancang tante Sinta khusus untuk Fathiya.
Gaun pengantin yang berwarna putih dan sedikit tertutup sesuai permintaan Fathiya, gaun itu di hiasi aksen manik yang berkilauan di bagian dada, yang membuat elegant dan berkelas bagi siapa pun yang mengenakannya.
Tak berapa lama Fathiya keluar dengan mengenakan gaun yang sangat indah itu. Ridho yang dari tadi duduk membuka tabletnya sambil menunggu Fathiya, kini memandang kecantikan Fathiya yang benar-benar sempurna di matanya. Sehingga Ridho pun me;upakan tabletnya dan tabletnya pun terjatuh ke lantai.
“ Dho...” panggil Tante Sinta.
“ eh...tan...te...” lirihnya terbata-bata.
“ itu lho tablet kamu jatuh...” ujar tante Sinta memberitahukan Ridho bahwa dia telah menjatuhkan tabletnya karena terpesona dengan kecantikan calon istrinya.
Ridho pun sadar dengan tingkah konyolnya, Ridho pun mengambil tabletnya di lantai, namun matanya masih terfokus pada Fathiya.
“ Ini Tuksedo yang akan kamu pakai...” Tante Sinta menyodorkan sebuah tuksedo silver yang sangat cocok di padu padankan dengan gaun putih yang kini di kenakan oleh Fathiya.
“ Iya tan...” Ridho pun mengambil tuksedo dari tangan tante Sinta lalu membawanya ke ruang ganti untuk di kenakannya.
Tak menunggu lama, Ridho pun keluar dengan sangat gagahnya mengenakan Tuksedo Silver itu, Fathiya yang sudah selesai merapikan gaunnya kini menatap terpesona pada ketampanan calon suaminya itu. Di matanya Ridho benar-benar sempurna.
__ADS_1
“ Sini...coba berdiri di samping Fathiya...” pinta tante Sinta.
Ridho pun menghampiri Fathiya, dia berdiri di samping Fathiya.
“ Perfect...” Seru tante Sinta memuji hasil rancangan dan keserasian dua insan yang ada di hadapannya.
“ Dian...tolong kamu dokumentasikan setelan gaun ini ya...” perintah Tante Sinta pada karyawan yang telah membantu Fathiya tadi.
“ Iya buk...” jawab Dian.
Dian pun mengeluarkan ponselnya, lalu bersiap untuk mengambil foto kedua calon mempelai. Dian meminta Fathiya dan Ridho berekspresi layaknya pengantin.
“ Mas...bisa tolong pegang pinggangnya mbaknya...” Pimnta Fathiya pada Ridho agar terlihat mesra. Ridho pun memegang pinggang Fathiya yang langsing lalu Dian pun mengambil foto aksi mereka itu.
“ Terima kasih...” ucap Dian setelah selesai dengan tugasnya.
Meski Dian telah menyelesaikan tugasnya namun Ridho masih saja memegang pinggang Fathiya, sekaan dia betah berpose seperti itu.
“ hem...ehem...” Fathiya yang mulai tak enak di lihatin Dian yang kini tersenyum melihat mereka berdehem agar Ridho tersadar dengan tingkahnya.
“ eh...maaf...” lirih Ridho lalu melepaskan tangannya dari pinggang Fathiya.
“ Oke tante...” ujar Ridho.
Mereka pun kembali mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang mereka kenakan sebbelumnya.
“ Oke tante...kami pamit dulu tan...” ujar Ridho pada tante Sinta yang duduk di kursi kebesarannya.
“ Iya Ridho...terima kasih ya nak...sampaikan salam tante sama mama kamu ya..” ucap tante Sinta.
Ridho pun meraih tangan Fathiya lalu membawanya keluar dari ruangan tante Sinta, mereka pun keluar dari butik dan berjalan menuju parkiran.
Di Parkiran Ridho membukakan pintu mobil untuk Fathiya lalu dai pun berjalan menuju pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil. Kali ini Ridho melihat Fathiya belum memasang seat-bealtnya. Sebelum dia melajukan mobilnya, Ridho pun memasangkan seat bealt untuk Fathiya.
“ ka...ka...mu mau apa...??? “ tanya Fathiya gugup.
“ kamu itu selalu saja ceroboh...” lirih Ridho sambil mengambil tali seat bealt lalu memasangkannya pada Fathiya.
Setelah itu dia pun mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
“ Mau kemana lagi??” tanay Ridho.
“ Terserah...” jawab Fathiya
“ Kita makan Siang dulu ya...kamu belum makan kan??” tanya Ridho lagi.
“ Iya belum...” jawab fathiya lagi.
Entah mengapa Fathiya menjadi grogi untuk berbicara dengan Ridho, ada perasaan yang membuncah di dalam hatinya untuk Ridho namun dia merasa Ridho tak mungkin mencintainya.
“ Ya Udah kita makan siang dulu...” ucap Ridho lalu dia melajukan mobilnya ke sebuah Resto mewah yang ada di pusat kota.
Ridho memarkirkan mobilnya, lalu mengajak Fathiya masuk ke dalam Resto, Ridho masih saja menggenggam tangan Fathiya setiap dia berjalan, seakan Ridho tak ingin terlepas dari wanita yang nota bene calon istrinya yang akan di nikahinya karena terpaksa, walaupun terpaksa namun hatinya telah terisi oleh sebuah nama yaitu Fathiya.
Tanpa di sadarinya benih-benih cinta telah tumbuh di hatinya pada wanita yang akan di nikahinya itu, namun dia berusaha menepis rasa cintanya karena dia takut Fathiya tidak mencintainya.
Mereka masuk ke dalam Resto, Ridho memilih kursi yang berada di pojok agar dia bisa menikmati makan siangnya dengan calon Istrinya.
Fathiya duduk tepat berada di depan Ridho, Ridho pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Setelah mereka memesan makanan yang mereka inginkan mereka pun mengobrol sambil menunggu makanan pesanan mereka datang.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah
__ADS_1