
Dia sendiri juga baru menyadari bahwa Ridho tinggal di perumahan yang sama dengannya.
Ridho memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Fathiya, Fathiya pun turun dari mobil.
“ Mampir dulu yukk...” Ajak Fathiya sekedar basa-basi pada Ridho.
“ lain kali aja...terima kasih...” balas Ridho. Dia ingin cepat sampai di rumah karena merasa sudah lelah.
“ ya udah...makasih ya Dho...kamu udah nolongin aku dan repot-repot pula mengantarkanku ke rumah...” ujar Fathiya sungkan.
“ sama-sama...aku jalan dulu ya...!” ucap Ridho pamit.
“ Iya...bye...” sahut Fathiya.
Ridho pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Fathiya, sedangkan Fathiya masuk ke dalam rumahnya.
******
Di kamar Faiz dan Zahra masih mengobrol santai sambil menonton drama korea kesukaan Zahra,
“ Mas...” gumam Zahra.
“ada apa sayang??” tanya Faiz.
“ Bagaimana dengan kuliah Ara ya mas...?” tanya Zahra yang merasa khawatir perkuliahan banyak ketinggalan.
“ tenang aja...nanti Ridho yang ngurus semua masalah kuliah kamu ya....” ujar Faiz menenangkan Zahra yang tampak khawatir dengan kuliahnya yang lebih satu bulan ketinggalan ulah berbagai peristiwa yang menimpa dirinya.
“ mhm....tapi mas...saat ini perut Ara sudah mulai membesar, Ara jadi malu buat ke kampus...” lirih Zahra yang mulai tak percaya diri berjumpa dengan teman-temannya yang rata-rata masih gadis.
“ trus mau kamu apa?? “ tanya Faiz menatap dalam pada bola mata istrinya.
“ Bolehkah satu semester ini Ara kuliah di rumah? Dan semester berikutnya Ara lebih baik cuti dulu agar Ara bisa fokus sama anak-anak kita...” ujar Zahra memelas.
“ Ya udah... kalau gitu lebih baik dalam dua tahun ini kamu cuti aja dulu...nanti masalah surat-surat izin cuti kuliahnya mas minta bantuan Ridho...” ujar Faiz.
Faiz sangat mengerti kondisi istrinya saat ini, dia juga telah lama mendiskusikan masalah kuliah istrinya dengan Ridho, hanya saja Faiz tak ingin Zahra merasa tersinggung jika dia yang meminta.
“ ya udah terserah aja mas....Ara ikut kata mas aja...” ujar Zahra menyetujui usulan Faiz.
Faiz ingin Zahra kuliah dengan tenang, hanya saja karena situasi Zahra tengah mengandung, Faiz pun mengambil keputusan agar Zahra beristirahat terlebih dahulu dalam perkuliahannya. Hal ini lah yang membuat Faiz marah pada Zahrasaat dia mau menerima perjodohan dari Adran ayah Faiz.
Yang Faiz inginkan Zahra menyelesaikan kuliahnya dengan tenang, dan setelah itu baru dia menikahi Zahra, namun karena Adrian yang sudah tak sabar menimang cucu dari putranya serta ada rasa takut Zahra menemukan pria lain di luar sana saat kuliah makanya Adrian mealkukan ide gila berpura-pura sakit agar Faiz dan Zahra tak menolak pernikahan yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
“Kita tidur yuk sayang...” ajak Faiz pada Zahra.
Zahra mengangguk dan berdiri mengikuti langkah suaminya yang melangkah menuju ranjang. Zahra membaringkan tubuhnya tepat di samping suaminya. Faiz pun memeluk mesra istrinya hingga mereka tertidur pulas dengan mimpi indah yang menemani tidur mereka.
******
“ Dimana Aku???” gumam Stella saat baru saja membuka matanya, dia baru saja terbangun setelah beberpa hari tak sadarkan diri.
Stella memperhatikan sekelilingnya dia melihat serba putih, dia tengah terbaring di sebuah brangkar. Stella berusaha bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk. Dia merasakan kepalanya begitu pusing.
“ Aw...” pekiknya menahan sakit di kepalanya. Tak berapa lama seorang pria masuk ke dalam ruangnan tempat Stella berada.
“Stella....” sahutnya lalu dia pun berlari melangkah menghampiri Stella.
Stella yang masih memegang kepalanya berusaha mengenali pria yang kini telah berada di sampingnya.
“ Kau sudah sadar??? Apa yang saat ini kamu rasakan...kamu tunggu sebentar ya... aku akan memanggilkan perawat...! “ ujarnya yang tampak mengkhawatirkan Stella.
Dia pun berlari keluar dari ruangan itu untuk memanggil perawat. Di luar dia melihat dokter yang biasa mengontrol kesehatan Stella.
Dok...tolong Stella dok...dia sudah sadar....” ujarnya memohon pada dokter itu.
“ Baiklah... saya akan langsung periksa keadaannya...” ujar dokter
Dokter memeriksa keadaan Stella.
“ Syukurlah nona Stella telah sadar, dia telah lepas dari masa kritisnya...dan saat ini dia dalam masa pemulihan...” jelas dokter.
“ terus pantau keadaannya...! panggil saya atau perawat apabila dia merasa sesuatu yang sakit...! “ nasehat dokter pada Frank, pria yang selama ini menjaga Stella di rumah sakit di sebuah desa pelosok di daerah Bandung.
“ Iya dok....terima kasih....” ucap Frank.
“ Sama-sama” ucap sang dokter.
Dokter pun meninggalkan ruang rawat Stella, setelah kepergian dokter Stella menatap sayu pada Frank.
“Kau?? Apa yang kamu lakukan disini??” tanya Stella yang merasa heran dengan keberadaan Frank du sampingnya.
“ Aku hanya ingin menyelamatkanmu...” jawab Frank datar.
Stella pun bingung mendengar ucapa Frank, dia pun berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Setelah berusaha mengingat apa yang terjadi padanya, Stella hanya dapat mengingat senyuman Alex yang tertawa melihat dirinya yang tersiksa menahan panasnya api yang membakar tubuhnya, selebih itu dia tak tahu apa lagi yang terjadi padanya.
__ADS_1
“Apa kau yang menyelamatkan ku saat aku terbakar?” tanya Stella yang hanya mengingat kejadian dirinya terbakar di rumah Alex.
“ Ya...saat kejadian itu aku juga berada di rumah Alex...” Jawab Frank tak menjelaskan semua kejadian yang telah menimpa diri Stella.
“ terima kasih Frank...” ujar Stella tulus.
Stella yang saat ini melihat dirinya penuh luka bakar di tubuhnya merasa menyesal dan bersedih, dia merasa semua yang terjadi pada dirinya saat ini merupakan hukuman yang di beri oleh Tuhan akibat perbuatannya pada Zahhra.
“ Allah telah memberikan hukuman padaku atas semua kesalahanku...” lirih Stella yang mulai menitikkan air matanya.
“ jadikanlah semua ini pelajaran hidup bagi kita...” ujar frank menanggapi ucapan Stella.
“ terima kasih...” gumam Stella.
“ Istirahatlah...aku keluar sebentar mencari makanan...” ujar Frank lalu meninggalkan Stella yang berusaha memejamkan matanya agar dapat terlelap dan melupakan luka yang tengah di hadapinya.
****
Kediaman Adrian....
Pagi ini setelah sarapan pagi seluruh keluarga Hermawan yang terdiri dari putranya beserta istri dan cucunya beserta istrinya pergi bertamasya ke sebuah pantai.
Hermawan sengaja membawa putra dan cucunya untuk membicarakan beberapa hal sambil menikmati segarnya udara pantai, Hermawan juga sengaja membawa mereka ke pantai karena dia sudah sangat merindukan suasana pantai dan menikmati hembusan angin yang menerpa wajah.
Setiba di pantai Hermawan mengajak mereka duduk di bangku yang tersedia di sana. Sambil bercengkrama Hermawan memberitahuka kepada ptra dan cucunya bahwa dia akan kembali menetap di Indinesia. Dia akan menjual seluruh aset yang di milikinya kecuali bungalow megah miliknya.
Adrian dan Faiz sangat bahagia mendegar niat Hermawan yang akan menetap di Indonesia, yang berarti mereka akan sering berjumpa dan mereka sangat bahagia dengan keputusan yang di buat oleh kakek Hermawan.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah