
Hai Readers...
Author minta maaf ya jarang update...
Sebelumnya author mengucapkan
"Minal Aidin wal faizin...mohon maaf lahir bathin..."
Berhubung dengan padatnya kegiatan di hari lebaran ini...jadinya author jarang update.
Habis ini author akan coba terus rajin update...paling tidak author update minimal 1 episode perhari...
Terima kasih atas pengertian para Readers yang selalu setia membaca novel-novelku...
\=\=\=\=\=\=>>>>
Mereka pun masuk ke dalam rumah, Nenek Faiz tengah berada di dapur memerintahkan pelayan untuk memasak makanan istimewa khas Indonesia pada para pelayannya.
Nenek yang barubsaja keluarvdari dapur melihat Hermawan, Zahra dan Faiz baru saja masuk ke dalam rumah.
"Fa...masuklah ke dalam kamarmu... bersihkan tubuhmu dan kita akan malam bersama..." perintah Nenek Faiz pada cucunya.
"Baiklah nek..." Faiz pun mengajak Zahra menuju kamar miliknya yang ada di bungalow itu, Hermawan sengaja menyediakan kamar khusus untuk anak dan cucunya di bungalow megah miliknya.
Saat berada di kamar, Zahra sangat kagum dengan dekorasi kamar yang sangat mewah, dan hal yang membuat Zahra terharu, di tengah-tengah kamar terdapat lukisan Zahra dan Faiz saat menikah.
Yang artinya kamar mewah ini merupakan milik Zahra dan Faiz. Keluarga Faiz yang begitu sayang pada Zahra dan begitu juga dengan kakek dan nenek Faiz yang menerima Zahra apa adanya, Walaupun Zahra berasal dari keluarga yang tak berpunya di tambah status Zahra di keluarga itu hanyalah seorang anak angkat.
"Kamu suka kamarnya sayang...???" tanya Faiz sambil melingkarkan tangannya di pinggang Zahra.
"Iya mas...lukisan itu...begitu indah..." puji Zahra sangat mengagumi lukisan dirinya dan suaminya.
"Nenek sengaja menyuruhku mengirimkan photo pernikahan kita untuk di bikin lukisan... ternyata hasilnya begitu menakjubkan..." Faiz juga mengagumi lukisan itu.
"Aku mandi dulu ya..." ujar Faiz yang sudah merasa gerah dan lelah telah melakukan perjalanan yang jauh.
"Iya mas...aku menyusun pakaian kita duku sambil nungguin mas mandi..." ujar Zahra.
Faiz pun melepaskan rangkulannya di tubuh istrinya. dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Zahra pun menyusun pakaiannya ke dalam lemari, dia berdiri dan tiba-tiba Zahra jatuh tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Faiz yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung panik saat melihat istrinya pingsan di depan lemari.
Dia langsung berlari menghampiri istrinya dan mengangkat tubuh Zahra serta meletakkannya di atas tempat tidur.
Faiz menekan tombol yang ada di dinding dekat tempat tidur, tombol yang tersambung ke kamar pelayan. Menyuruh pelayan untuk datang ke kamarnya.
__ADS_1
Sambil menunggu pelayan datang Faiz mengenakan pakaiannya.
Tok...tok...tok...
pelayan mengetuk pintu. Faiz pun melanfkah menuju pintu dan membuka pintu.
"Ada apa den...???" tanya pelayan saat pintu sudah terbuka.
"Tolong panggilkan dokter...Zahra pingsan..." perintah Faiz panik.
"Baiklah den..." pelayan itu pun langsung menghubungi dokter keluarga Hermawan.
Faiz duduk di samping Zahra, lalu menggenggam tangan istrinya sambil mengusap-usap tangannya agar Zahra lekas sadar.
"Zahra kenapa Fa???" tanya nenek Daiz yang ikut khawatir saat pelayan menyampaikan keadaan Zahra.
"Fa gak tahu nek...saat Fa keluar dari kamar mandi Zahra udah pingsan disana..." jawab Faiz sambil menunjuk tempat Zahra tergeletak tadi.
"Nyonya besar...dokter sudah datang..." salah seorang pelayan menghadap pada nenek Faiz.
"Suruh masuk cepat...!!!" perintah nenek.
"Baik nyonya..." pelayan itu pun pergi keluar dan menyuruh dokter langsung masuk ke dalam kamar Faiz.
Dokter pun masuk kamar.
"Faiz...kamu disini..?? siapa yang sakit...???" tanya dokter menyapa Faiz yang telah lama tak berjumpa.
"Iya dok...Fa kangen nenek...sekalian bawa istri Fa jalan-jalan..." ujar Faiz.
"Ini dok...Zahra tiba-tiba pingsan..." jelas Faiz pada dokter sambil menunjuk pada istrinya.
"Owh...ya udah saya periksa dulu ya..." ujar dokter lalu memghampiri Zahra uang sedang terbaring di atas kasur.
Dokter pun memeriksa Zahra, Setelah memeriksa kondisi Zahra, dokter pun tersenyum.
"Fa...kamu masih ingat kapan yerakhir istrimu terakhir datang bulan...???" tanya dokter pada Faiz.
"Mhm...Fa juga lupa dok...tapi dalam dua bulan ini seingat Fa...dia belum datang bulan dok..." jelas Faiz tapi masih dalam keraguan.
"Menurut saya...nona Zahra dalam kondisi memgandung...karena dia kelelahan makanya dia jatuh pingsan... Tapi supaya lebih jelas, sebaiknya kamu bawa istrimu ke dokter kandungan..." ujar dokter pada Faiz.
"Nanti saya akan kabari dokter kandungan yang berasal dari Indonesia...."tambahnya lagi.
Faiz sangat bahagia mendengarkan ucapan dokter, hal yang di tunggu-tunggunya selama ini akan terwujud.
Jika Zahra benaran hamil, maka dia pun akan menjadi seorang Ayah, Wajah Faiz sangat berseri lalu memeluk neneknya.
__ADS_1
"Nek....itu artinya aku akan menjadi ayah..." lirihnya dengan haru pada neneknya.
" Semoga benaran Fa..." jawab nenek Faiz terharu. Dia sangat bahagia. Dengan kehamilan Zahra, itu artinya akan lahir penerus Hermawan.
Faiz pun memeluk istrinya yang masih tak sadarkan diri.
"Ra...kamu hamil...bangun...kita akan menjadi orang tua Ra..." ujar Faiz mengusap-usap tangan istrinya.
Zahra pun terbangun, "A...a...da a...pa...mas??" tanya Zahra heran melihat banyak orang berada di kamar itu.
"Ra....kamu hamil..." ujar Faiz lagi dengan bahagia.
"Maksud mas apa???" tanya Zahra bingung, di tambah dia baru saja sadar dari pingsannya.
"Tadi kamu pingsan...dan dokter bilang kemungkinan besar kamu tengah mengandung buah hati kita..." ucap Faiz menjelaskan perkataan dokter.
Zahra pun mencoba mengingat-ingat terakhir dia datang bulan, Dia yang hampir lupa sudah 2 bulan tamu bulanannya tak kunjung hadir.
Zahra sangat bahagia menfrngar perkataan Faiz.
"Fa...ini kartu nama dokter kandungan... besok saya akan menghubunginya" ujar dokter.
"Baiklah dok...terima kasih..." ucap Faiz lalu memjabat tangan dokter.
Dokter pun keluar dari kamar yang di antar Faiz hingga pintu kamar setelah itu di antar pelayan hingga teras bungalow.
"Semoga saja benar yang di bilang dokter nak...mulai sekarang...kamu gak boleh capek lagi..." ujar nenek pada Zahra.
"Iya nek...terima kasih..." ucap Zahra lalu memeluk tubuh renta nenek Faiz.
Mereka pun semua bahagia dengan kehadiran calon bayi itu, namun mereka harus memastikan kebenaran perkataan dokter itu, mereka harus konsultasi langsung dengan dokter kandungan untuk memperjelas perkiraan dokter keluarga Hermawan tadi.
Bersambung....
.
.
.
w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah...
terimakasih pembaca setiaku...